Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Realita Geopolitik Global dan Posisi Indonesia di Tengah Pusaran Kepentingan

7
×

Realita Geopolitik Global dan Posisi Indonesia di Tengah Pusaran Kepentingan

Share this article

Penulis: royani| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Dinamika geopolitik global, khususnya di Timur Tengah dan kawasan Indo-Pasifik, menunjukkan adanya pergeseran peta kekuatan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Pergeseran ini bukan hanya soal konflik terbuka, melainkan juga pertarungan pengaruh, ekonomi, dan hegemoni strategis yang membentuk ulang hubungan antarnegara. Dalam konteks ini, Indonesia berada pada posisi yang sangat penting sekaligus rentan terhadap tekanan eksternal.

1. Pergeseran Kekuatan di Timur Tengah

Secara faktual, konfigurasi kekuatan di Timur Tengah berubah melalui dua jalur utama: ekspansi kehadiran militer Amerika Serikat dan proses normalisasi hubungan beberapa negara Arab dengan Israel.

Kehadiran pangkalan militer AS di kawasan seperti Al Udeid di Qatar, Armada ke-5 di Bahrain, fasilitas militer di Kuwait, hingga Pangkalan Incirlik di Turki, menandakan bahwa struktur keamanan kawasan masih sangat dipengaruhi Washington. Ketergantungan keamanan ini menciptakan relasi asimetris antara negara tuan rumah dan kekuatan besar.

Di sisi lain, normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel melalui Abraham Accords memperlihatkan pendekatan pragmatis berbasis kalkulasi keamanan dan ekonomi. Namun, kebijakan ini juga dinilai melemahkan soliditas kolektif dunia Islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Dalam konteks tersebut, Iran tampil sebagai aktor regional yang paling konsisten dan vokal dalam memposisikan diri sebagai pemimpin “Poros Perlawanan” terhadap dominasi AS dan Israel. Baik melalui dukungan politik maupun militer terhadap sekutu-sekutunya, Iran memainkan peran sentral dalam membentuk keseimbangan baru di kawasan.

2. Strategi Pelemahan dan Perang Modern

Sejarah menunjukkan bahwa negara-negara yang pernah memiliki sikap keras terhadap Barat seperti Irak, Suriah, dan Libya mengalami disrupsi besar akibat kombinasi intervensi asing dan konflik internal. Akibatnya, kapasitas militer dan pengaruh politik mereka menurun drastis.

Selain intervensi militer, sanksi ekonomi menjadi instrumen efektif dalam “perang modern”. Sanksi terhadap Iran misalnya, bukan sekadar tekanan diplomatik, melainkan strategi sistemik untuk melemahkan daya tahan ekonomi, sosial, dan politik suatu negara dari dalam. Pola ini menunjukkan bahwa agresi tidak lagi selalu berbentuk invasi terbuka, melainkan bisa berupa tekanan finansial, pembatasan teknologi, hingga pengucilan dalam sistem perdagangan global.

3. ASEAN dan Potensi Kerentanan Baru

Kawasan Asia Tenggara, khususnya ASEAN, tidak berada di luar pusaran ini. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah—seperti nikel Indonesia, cadangan gas, serta jalur pelayaran strategis seperti Selat Malaka—kawasan ini memiliki nilai strategis tinggi dalam percaturan global.

Sejarah geopolitik membuktikan bahwa wilayah dengan sumber daya besar sering kali menjadi arena perebutan pengaruh. Jika ASEAN tidak solid dan terfragmentasi oleh kepentingan blok besar (Barat maupun Timur), kawasan ini berpotensi menjadi medan kontestasi baru.

Di era kontemporer, agresi tidak selalu berbentuk militer. Ia dapat hadir dalam bentuk jeratan utang, dominasi teknologi, intervensi kebijakan melalui instrumen hukum internasional, hingga polarisasi politik domestik yang melemahkan kedaulatan negara.

Indonesia: Antara Prinsip dan Tekanan Global

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan aktor sentral di ASEAN, Indonesia berada dalam posisi strategis namun penuh tantangan.

1. Diplomasi Bebas Aktif sebagai Instrumen Keseimbangan

Sejak awal kemerdekaan, Indonesia menganut prinsip Bebas Aktif.

  • Bebas, artinya tidak memihak blok kekuatan mana pun.
  • Aktif, artinya berperan dalam menjaga perdamaian dan keadilan internasional.

Prinsip ini menjadi perisai diplomatik agar Indonesia tidak terseret dalam rivalitas kekuatan besar. Namun dalam praktiknya, posisi strategis Indonesia justru membuatnya menjadi rebutan kepentingan geopolitik global. Tantangannya adalah menjaga konsistensi netralitas tanpa kehilangan posisi tawar.

2. Kedaulatan Ekonomi dan Hilirisasi

Kebijakan hilirisasi sumber daya alam, khususnya nikel, merupakan langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan ekonomi nasional. Dengan menghentikan ekspor bahan mentah dan mendorong industrialisasi dalam negeri, Indonesia berupaya keluar dari pola ketergantungan lama sebagai pemasok bahan baku.

Namun kebijakan ini mendapat tantangan, termasuk gugatan melalui mekanisme WTO. Ini menunjukkan bahwa kompetisi ekonomi global juga berlangsung di ranah regulasi dan hukum internasional. Ketika negara berkembang mulai menaikkan nilai tambah sumber dayanya, resistensi dari pihak yang selama ini diuntungkan menjadi tak terelakkan.

3. Konsistensi pada Isu Palestina

Berbeda dengan sejumlah negara yang telah membuka hubungan diplomatik dengan Israel, Indonesia tetap konsisten pada amanat konstitusi untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Posisi ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga memperkuat legitimasi moral Indonesia di mata dunia Islam.

Konsistensi tersebut menjaga marwah diplomasi Indonesia sebagai negara yang tidak semata-mata tunduk pada arus pragmatisme global, melainkan tetap berpijak pada prinsip keadilan internasional.

4. Tantangan Soliditas ASEAN

Di internal ASEAN sendiri, terdapat variasi orientasi geopolitik. Filipina memiliki kedekatan kuat dengan Amerika Serikat, sementara Kamboja dan Laos cenderung dekat dengan Tiongkok. Variasi ini berpotensi menciptakan fragmentasi kebijakan.

Indonesia berupaya menjaga keseimbangan melalui ASEAN Outlook on the Indo-Pacific, yang menekankan prinsip inklusivitas, kerja sama, dan kemandirian kawasan. Jika ASEAN gagal mempertahankan kesatuan sikap, kawasan seperti Laut Natuna Utara berpotensi menjadi titik gesekan antar-kekuatan besar.

Kemandirian sebagai Benteng Utama

Dunia saat ini berada dalam fase transisi menuju tatanan multipolar. Dalam situasi seperti ini, negara-negara berkembang menghadapi pilihan strategis: menjadi subjek yang berdaulat atau sekadar objek dalam permainan kekuatan global.

Bagi Indonesia, kunci utamanya terletak pada tiga hal:

  • Konsistensi diplomasi bebas aktif.
  • Penguatan kemandirian ekonomi melalui industrialisasi dan hilirisasi.
  • Penguatan soliditas nasional dan regional (ASEAN).

Jika kekuatan internal kokoh, baik secara ekonomi, politik, maupun sosial, maka agresi dalam bentuk apa pun—militer, ekonomi, atau teknologi—akan jauh lebih sulit menembus kedaulatan bangsa.

Pada akhirnya, geopolitik bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu menjaga persatuan dan kemandirian di tengah badai kepentingan global. (roysni)

Example 120x600