Wawancara analis geopolitik Norwegia Glenn Diesen dengan Kolonel (Purn.) Douglas Macgregor memunculkan analisis tajam tentang masa depan konflik Timur Tengah dan kemungkinan runtuhnya dominasi geopolitik lama.
Jakarta|PPMIndonesia.com- — Sebuah wawancara antara analis geopolitik Norwegia Glenn Diesen dan mantan Penasihat Sekretariat Pertahanan Amerika Serikat Kolonel (Purn.) Douglas Macgregor memicu perdebatan luas mengenai arah konflik di Timur Tengah.
Dalam video berjudul “A New World Emerges: Iran Will Win & Israel May Not Survive”, Macgregor menyampaikan analisis yang berbeda dari narasi arus utama Barat mengenai perang antara Iran dan Israel.
Menurutnya, konflik yang sedang berlangsung bukanlah perang singkat, melainkan awal dari perubahan besar dalam tatanan geopolitik global. Hasil akhirnya, kata Macgregor, bisa sangat berbeda dari yang dibayangkan oleh Amerika Serikat maupun pemerintah di Tel Aviv.
Perang Regional, Bukan Sekadar Konflik Dua Negara
Macgregor menilai eskalasi militer telah berkembang menjadi konflik regional yang melibatkan banyak titik strategis di Timur Tengah.
Ia menyebutkan bahwa Iran telah menargetkan sedikitnya 27 pangkalan militer serta fasilitas pelabuhan di berbagai wilayah, mulai dari Turki hingga kawasan Teluk.
Dampak konflik ini langsung terasa di pasar global. Harga minyak melonjak tajam dan diperkirakan dapat menembus angka 100 dolar AS per barel jika ketegangan terus meningkat. Jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz dan Laut Merah mengalami gangguan, memicu kekhawatiran ekonomi dari Eropa hingga Asia.
Macgregor juga menyinggung dampak terhadap pusat perdagangan internasional di Dubai dan Uni Emirat Arab. Serangan drone murah disebut berhasil menembus sistem pertahanan yang jauh lebih mahal, sehingga mengganggu aktivitas logistik dan perdagangan di kawasan tersebut.
“Perang ini sudah menjadi masalah dunia,” ujar Macgregor.
Kekhawatiran Soal Logistik Militer Amerika
Salah satu poin paling mencolok dari analisis Macgregor adalah soal kemampuan logistik militer Amerika Serikat.
Ia menyebut cadangan rudal Amerika relatif terbatas, sementara Iran memiliki stok yang lebih besar. Untuk mencegat satu rudal hipersonik, sistem pertahanan udara biasanya membutuhkan dua hingga tiga rudal pencegat.
Masalahnya, menurut Macgregor, teknologi rudal Iran kini telah berkembang pesat. Beberapa rudal disebut mampu melaju dengan kecepatan antara Mach 3 hingga Mach 6, bahkan dilengkapi sistem umpan yang dirancang untuk mengecoh pertahanan udara.
“Secara teknologi, mereka sudah melampaui perkiraan kita,” katanya.
Jika perang berlangsung lama, ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan Israel berpotensi menghadapi kekurangan amunisi lebih cepat dibanding Iran.
Kritik terhadap Strategi Washington
Macgregor juga mengkritik keras pendekatan kebijakan luar negeri Washington, khususnya pada masa pemerintahan Donald Trump.
Menurutnya, beberapa operasi militer memang berhasil secara taktis, termasuk serangan yang menargetkan tokoh penting Iran. Namun, keberhasilan taktis tersebut tidak otomatis menghasilkan kemenangan strategis.
Iran, dengan populasi sekitar 93 juta jiwa dan struktur negara yang relatif solid, tidak runtuh seperti yang diperkirakan sebagian pihak.
“Kita mungkin menang secara taktik, tetapi taktik tidak memenangkan perang. Strategi yang menentukan,” ujar Macgregor.
Ia menambahkan bahwa ambisi perubahan rezim (regime change) di Iran hampir mustahil dicapai tanpa invasi darat besar-besaran—opsi yang secara politik dan militer sangat berisiko.
Apakah Israel Bisa Bertahan?
Pernyataan Macgregor yang paling kontroversial berkaitan dengan masa depan Israel dalam konflik ini.
Ia menilai mobilisasi besar-besaran tentara cadangan Israel menunjukkan tekanan militer yang semakin besar. Selain itu, sistem pertahanan udara seperti Iron Dome dinilai tidak sepenuhnya efektif menghadapi teknologi rudal generasi baru milik Iran.
Jika konflik meluas ke front lain, termasuk potensi keterlibatan kelompok bersenjata di Lebanon, tekanan terhadap militer Israel dapat meningkat drastis.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah Iran akan selamat. Pertanyaannya adalah apakah Israel akan tetap seperti sekarang setelah ini,” ujarnya.
Risiko Eskalasi Nuklir
Macgregor juga memperingatkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis oleh Israel jika tekanan militer semakin meningkat.
Jika skenario tersebut terjadi, ia memperkirakan dua kekuatan global lain—Rusia dan China—akan sulit untuk tetap berada di luar konflik.
Keterlibatan kedua negara tersebut berpotensi mengubah konflik regional menjadi krisis global dengan dampak yang jauh lebih luas.
Hegemoni Amerika di Persimpangan
Di luar aspek militer, Macgregor melihat dampak geopolitik yang lebih besar: melemahnya kredibilitas Amerika Serikat sebagai kekuatan global dominan.
Ia menyebut sejumlah negara, seperti India, Jepang, dan Korea Selatan, kemungkinan akan meninjau ulang ketergantungan keamanan mereka terhadap Washington.
Jika Amerika Serikat terlihat gagal mencapai tujuan strategisnya di Timur Tengah, reputasi globalnya bisa mengalami erosi serius. Selain itu, Macgregor juga menyoroti potensi krisis finansial yang dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS serta percepatan tren dedolarisasi dalam perdagangan internasional.
“Kita sedang menyaksikan akhir dari hegemoni militer Amerika di Timur Tengah,” katanya.
Dunia Baru Sedang Terbentuk
Bagi Macgregor, konflik ini bukan sekadar perang regional, melainkan momen transisi sejarah. Ia menilai dominasi geopolitik Barat yang telah berlangsung selama beberapa dekade mulai memasuki fase perubahan.
Menurutnya, dunia bergerak menuju tatanan yang lebih multipolar, di mana berbagai kekuatan regional memiliki pengaruh yang lebih besar.
“Iran adalah peradaban tua dengan daya tahan sejarah yang panjang,” ujarnya. “Sementara Amerika Serikat, sebagai kekuatan global yang relatif muda, sedang menghadapi ujian besar.”
“Perang ini bisa menjadi titik balik. Dunia baru sedang lahir.”
Kesimpulan
Analisis Douglas Macgregor menghadirkan perspektif yang berbeda dari narasi dominan di Barat. Ia melihat konflik antara Iran dan Israel sebagai perang jangka panjang yang berpotensi mengguncang keseimbangan kekuatan global.
Apakah prediksi tersebut akan menjadi kenyataan masih menjadi pertanyaan terbuka. Namun satu hal yang jelas: dampak konflik ini telah melampaui batas Timur Tengah dan mulai mempengaruhi stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan dunia. (emha)



























