Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mazhab sebagai Kekayaan, Bukan Pertikaian

3
×

Mazhab sebagai Kekayaan, Bukan Pertikaian

Share this article

Kajian Syahida-Quran bil Quran| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com- Dalam sejarah Islam, keberadaan mazhab sering kali menjadi sumber kekayaan intelektual. Namun dalam praktik sosial, perbedaan mazhab tidak jarang berubah menjadi ruang pertikaian. Hal-hal yang sebenarnya bersifat ijtihadi—seperti tata cara ibadah, detail fiqh, atau metode penafsiran—kadang diperlakukan seolah-olah sebagai garis pemisah antara kebenaran dan kesesatan.

Padahal jika kembali kepada Al-Qur’an, perbedaan adalah bagian dari realitas manusia yang tidak dapat dihindari.

Allah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ

“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat saja. Tetapi mereka senantiasa berbeda-beda.”
(QS. Hud [11]: 118)

Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman pandangan bukanlah penyimpangan, melainkan bagian dari sunnatullah dalam kehidupan manusia.

Mazhab dan Tradisi Ijtihad

Mazhab pada dasarnya adalah hasil ijtihad ulama dalam memahami wahyu. Mereka berusaha menafsirkan Al-Qur’an dan sunnah sesuai konteks zamannya. Dalam perspektif ini, mazhab bukan agama baru, tetapi metode memahami agama.

Al-Qur’an sendiri mengakui adanya proses berpikir dan penggalian makna:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS. An-Nisa [4]: 82)

Ayat ini mendorong manusia untuk merenungkan wahyu secara mendalam. Ijtihad para ulama merupakan bagian dari tradisi tadabbur tersebut.

Prinsip Persatuan dalam Keberagaman

Walaupun perbedaan tidak terhindarkan, Al-Qur’an tetap menekankan pentingnya persatuan umat.

Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, ayat ini harus dibaca bersama ayat yang mengakui keberagaman. Artinya, persatuan tidak berarti keseragaman mutlak, melainkan kesatuan orientasi kepada wahyu.

Mazhab boleh berbeda dalam metode, tetapi tetap bersandar pada sumber yang sama.

Menghindari Fanatisme Buta

Al-Qur’an juga mengingatkan bahaya fanatisme kelompok yang berlebihan. Dalam sejarah umat terdahulu, perpecahan sering muncul ketika kelompok-kelompok agama memutlakkan tafsir mereka sendiri.

Allah berfirman:

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum [30]: 32)

Ayat ini menjadi peringatan agar umat Islam tidak terjebak dalam sikap eksklusif yang menganggap kelompoknya paling benar dan menutup ruang dialog.

Syahida: Menjadi Saksi atas Moderasi

Dalam perspektif Syahida, umat Islam dipanggil untuk menjadi saksi atas nilai-nilai keseimbangan dan keadilan.

Al-Qur’an menyebut:

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 143)

Menjadi ummatan wasathan berarti mampu menjaga keseimbangan: menghormati perbedaan tanpa kehilangan komitmen pada kebenaran.

Mazhab, dalam kerangka ini, adalah kekayaan intelektual yang memperkaya cara memahami wahyu.

Kekayaan Intelektual dalam Tradisi Islam

Sejarah Islam menunjukkan bagaimana perbedaan mazhab justru melahirkan dinamika intelektual yang luar biasa. Para ulama berbeda pendapat, tetapi tetap menjaga adab ilmiah dan persaudaraan.

Perbedaan itu tidak dimaksudkan untuk menciptakan pertikaian, melainkan untuk memperluas pemahaman umat terhadap kompleksitas kehidupan.

Dari Fanatisme ke Kearifan

Mazhab seharusnya dipandang sebagai kekayaan tradisi ijtihad, bukan sebagai tembok pemisah. Al-Qur’an mengajarkan bahwa perbedaan adalah kenyataan, tetapi persatuan adalah tujuan.

Ketika umat mampu melihat mazhab sebagai ruang dialog, bukan arena konflik, maka keberagaman pandangan akan menjadi sumber kekuatan intelektual dan spiritual.

Dalam semangat itu, Islam tampil sebagai agama yang menghargai perbedaan, mendorong pencarian ilmu, dan mengarahkan manusia menuju kebenaran dengan cara yang bijaksana dan penuh rahmat. (syahida)

Example 120x600