Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mengapa Banyak Orang Berperang Demi Agama yang Tidak Mereka Pahami?

4
×

Mengapa Banyak Orang Berperang Demi Agama yang Tidak Mereka Pahami?

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Sepanjang sejarah manusia, agama sering menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya peradaban besar. Namun pada saat yang sama, agama juga kerap dijadikan alasan untuk konflik, permusuhan, bahkan peperangan.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang mendalam: mengapa manusia bisa berperang demi agama yang sebenarnya tidak mereka pahami secara utuh?

Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, kita akan menemukan bahwa persoalan tersebut bukan terletak pada ajaran agama itu sendiri, melainkan pada cara manusia memahami dan mempraktikkannya.

Ketika Agama Menjadi Identitas, Bukan Pemahaman

Al-Qur’an menjelaskan bahwa perpecahan dalam agama sering muncul bukan karena kurangnya petunjuk, tetapi karena sikap manusia setelah mengetahui kebenaran.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa konflik agama sering kali muncul bukan karena ketiadaan pengetahuan, tetapi karena ego, kepentingan, dan persaingan di antara manusia.

Agama yang seharusnya menjadi jalan menuju kebenaran justru berubah menjadi identitas kelompok yang dipertahankan dengan fanatisme.

Perpecahan sebagai Penyimpangan dari Tujuan Agama

Al-Qur’an juga mengingatkan bahwa para nabi membawa satu pesan yang sama: menegakkan agama dan menjaga persatuan umat manusia.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, serta apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa: tegakkanlah agama itu dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”
(QS. Asy-Syura: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan agama adalah menegakkan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan, bukan menciptakan konflik di antara manusia.

Ketika agama dipahami hanya sebagai simbol identitas kelompok, maka tujuan utamanya—yakni menegakkan keadilan dan kebaikan—menjadi kabur.

Agama sebagai Sistem Kehidupan

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap agama hanya sebagai kumpulan ritual.

Padahal Al-Qur’an menggunakan kata dīn yang juga berarti sistem kehidupan atau tata aturan.

Dalam kisah Nabi Yusuf, kata dīn bahkan digunakan untuk merujuk kepada sistem hukum yang berlaku di kerajaan Mesir.

مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang (dīn) raja, kecuali jika Allah menghendaki.”
(QS. Yusuf: 76)

Ayat ini menunjukkan bahwa agama dalam perspektif Al-Qur’an adalah kerangka nilai dan sistem kehidupan yang membentuk perilaku manusia dalam masyarakat.

Jika agama dipahami hanya sebagai ritual tanpa memahami sistem nilainya, maka mudah bagi manusia untuk menggunakannya sebagai alat konflik.

Islam sebagai Jalan Kedamaian

Al-Qur’an menggambarkan Islam sebagai jalan yang membawa manusia kepada keselamatan dan kedamaian.

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ

“Dengan Kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan.”
(QS. Al-Ma’idah: 16)

Ayat ini menunjukkan bahwa tujuan utama wahyu adalah mengarahkan manusia kepada jalan damai, bukan konflik.

Dengan demikian, peperangan atas nama agama sebenarnya bertentangan dengan misi utama agama itu sendiri.

Ketika Manusia Memaksakan Tafsirnya

Konflik agama sering muncul ketika manusia merasa memiliki otoritas mutlak atas kebenaran.

Padahal Al-Qur’an mengingatkan bahwa pada akhirnya Allah-lah yang akan menjadi hakim atas segala perbedaan.

إِنَّ رَبَّكَ يَقْضِي بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

“Sesungguhnya Tuhanmu akan memutuskan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang dahulu mereka perselisihkan.”
(QS. As-Sajdah: 25)

Ayat ini mengajarkan kerendahan hati dalam beragama. Manusia diperintahkan untuk mencari kebenaran dan berbuat baik, tetapi tidak untuk memaksakan keyakinannya dengan kekerasan.

Kembali Memahami Hakikat Agama

Jika ditelusuri melalui ayat-ayat Al-Qur’an, jelas bahwa agama bukanlah sumber konflik. Yang menjadi sumber konflik adalah kesalahpahaman manusia terhadap agama.

Agama dalam pengertian Qur’ani adalah jalan hidup yang membawa manusia menuju kebenaran, keadilan, dan kedamaian.

Ketika manusia memahami agama hanya sebagai simbol identitas atau alat kekuasaan, maka agama kehilangan esensi sejatinya.

Sebaliknya, ketika agama dipahami sebagai sistem nilai ilahi yang menuntun manusia menuju kebaikan, ia akan menjadi kekuatan yang mampu membangun peradaban yang damai dan berkeadilan. Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.(syahida)

Example 120x600