Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Inna ad-Dīna ‘Indallāhil Islām”: Apa Maknanya?

4
×

Inna ad-Dīna ‘Indallāhil Islām”: Apa Maknanya?

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Salah satu ayat Al-Qur’an yang paling sering dikutip dalam diskursus keislaman adalah firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 19:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Ayat ini kerap dipahami secara sederhana sebagai pernyataan tentang identitas agama. Namun jika dibaca melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, yakni memahami satu ayat dengan ayat lainnya, makna ayat ini ternyata jauh lebih luas dan mendalam.

Ia tidak sekadar menyebut nama sebuah agama, tetapi menjelaskan hakikat sistem kehidupan yang diridhai Allah bagi manusia.

Memahami Makna Dīn dalam Al-Qur’an

Kata dīn dalam bahasa Arab sering diterjemahkan sebagai “agama”. Namun dalam Al-Qur’an, makna kata ini tidak terbatas pada ibadah ritual.

Dīn juga berarti tata aturan, sistem hukum, dan jalan hidup yang mengatur kehidupan manusia.

Makna ini terlihat dalam kisah Nabi Yusuf ketika Al-Qur’an menyebut hukum yang berlaku di kerajaan Mesir.

مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang (dīn) raja, kecuali jika Allah menghendaki.”
(QS. Yusuf: 76)

Dalam ayat ini, istilah dīn al-malik berarti sistem hukum raja. Ini menunjukkan bahwa dīn dapat merujuk pada sistem yang mengatur kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, ketika Al-Qur’an menyebut dīn di sisi Allah adalah Islam, maknanya bukan hanya identitas keagamaan, tetapi sistem kehidupan yang berlandaskan penyerahan diri kepada Allah.

Islam sebagai Penyerahan Diri kepada Allah

Secara bahasa, kata Islam berasal dari akar kata aslama yang berarti berserah diri.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa penyerahan diri ini sebenarnya merupakan keadaan seluruh alam semesta.

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

“Maka apakah mereka mencari agama selain agama Allah, padahal kepada-Nya berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 83)

Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh ciptaan—matahari, bulan, bumi, dan seluruh hukum alam—telah berada dalam keadaan Islam, yakni tunduk pada sistem yang ditetapkan oleh Allah.

Manusia menjadi unik karena diberi kebebasan untuk memilih apakah ia akan hidup selaras dengan sistem tersebut atau justru menentangnya.

Sistem Ilahi yang Sama bagi Para Nabi

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sistem kehidupan yang disebut Islam ini bukan hanya ajaran Nabi Muhammad, tetapi merupakan pesan yang sama yang dibawa oleh para nabi sebelumnya.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, serta apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa: tegakkanlah agama itu dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”
(QS. Asy-Syura: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa dīn yang diajarkan para nabi adalah sistem kehidupan yang sama: menegakkan nilai-nilai tauhid, keadilan, dan kebaikan dalam kehidupan manusia.

Kesempurnaan Sistem Islam

Kesempurnaan sistem ini ditegaskan dalam ayat yang sangat terkenal dalam Al-Qur’an:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sebagai dīn merupakan sistem kehidupan yang lengkap dan menyeluruh.

Ia tidak hanya berbicara tentang ibadah spiritual, tetapi juga tentang nilai-nilai moral, keadilan sosial, etika ekonomi, dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.

Dari Identitas Menuju Pemahaman

Masalah yang sering muncul dalam kehidupan beragama adalah kecenderungan untuk memahami agama hanya sebagai identitas kelompok atau sekadar ritual ibadah.

Padahal Al-Qur’an menunjukkan bahwa agama adalah jalan hidup yang menyeluruh yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Dengan memahami makna mendalam dari ayat “Inna ad-dīna ‘indallāhil Islām”, kita diingatkan bahwa Islam bukan sekadar nama agama, tetapi sistem kehidupan yang menuntun manusia menuju keseimbangan, keadilan, dan kedamaian.

Di tengah berbagai sistem kehidupan yang diciptakan manusia, Al-Qur’an menawarkan perspektif bahwa sistem yang paling selaras dengan fitrah manusia adalah sistem yang bersumber dari wahyu Sang Pencipta. (syahida)

Example 120x600