Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Agama yang Dilupakan: Dari Sistem Ilahi Menjadi Sekadar Identitas

4
×

Agama yang Dilupakan: Dari Sistem Ilahi Menjadi Sekadar Identitas

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Di banyak tempat di dunia modern, agama sering hadir sebagai identitas sosial. Ia tercantum dalam kartu identitas, diwariskan melalui keluarga, dan dirayakan dalam berbagai ritual keagamaan. Namun pada saat yang sama, tidak sedikit masyarakat yang merasakan bahwa agama semakin kehilangan peran dalam membentuk cara hidup, sistem nilai, dan arah peradaban.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan penting: apakah agama memang hanya sekadar identitas, ataukah ia sebenarnya dimaksudkan sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh?

Jika kita membaca Al-Qur’an dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an, terlihat bahwa agama dalam perspektif wahyu memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar simbol identitas atau praktik ritual.

Makna Dīn dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menggunakan istilah dīn untuk menyebut agama. Dalam banyak terjemahan, kata ini dipahami sebagai “agama”. Namun dalam konteks Qur’ani, makna dīn jauh lebih luas.

Ia tidak hanya menunjuk pada ibadah ritual, tetapi juga merujuk kepada sistem kehidupan, hukum, dan tata nilai yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Makna ini dapat terlihat dalam kisah Nabi Yusuf.

مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ

“Tidaklah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang (dīn) raja, kecuali jika Allah menghendaki.”
(QS. Yusuf: 76)

Dalam ayat ini, istilah dīn al-malik berarti sistem hukum raja. Hal ini menunjukkan bahwa dīn dalam Al-Qur’an juga merujuk pada sistem aturan yang mengatur kehidupan masyarakat.

Dengan demikian, agama dalam perspektif Qur’ani bukan hanya persoalan ibadah personal, tetapi juga kerangka nilai yang membentuk kehidupan sosial manusia.

Sistem Ilahi yang Dibawa Para Nabi

Al-Qur’an menjelaskan bahwa sistem kehidupan ini bukanlah sesuatu yang baru. Ia merupakan pesan yang sama yang dibawa oleh para nabi sepanjang sejarah manusia.

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, serta apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa: tegakkanlah agama itu dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”
(QS. Asy-Syura: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa agama bukan sekadar warisan budaya atau identitas kelompok. Ia adalah sistem ilahi yang diturunkan untuk menuntun manusia menuju kehidupan yang adil dan seimbang.

Ketika Agama Menjadi Identitas

Namun dalam perjalanan sejarah, sering kali agama mengalami penyempitan makna. Ia tetap dipertahankan sebagai simbol identitas, tetapi nilai-nilai yang seharusnya membentuk kehidupan sosial justru dilupakan.

Al-Qur’an sendiri mengingatkan bahwa perpecahan dalam agama sering terjadi setelah manusia mengetahui kebenaran.

وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

“Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa konflik agama sering muncul bukan karena ajaran agama itu sendiri, tetapi karena kepentingan manusia yang menjadikan agama sebagai alat identitas dan kekuasaan.

Islam sebagai Sistem Kehidupan

Al-Qur’an menegaskan bahwa agama yang diridhai Allah adalah Islam.

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Secara bahasa, Islam berarti berserah diri. Ini menunjukkan bahwa agama yang dimaksud oleh Al-Qur’an adalah sistem kehidupan yang didasarkan pada penyerahan diri kepada kehendak Allah.

Penyerahan diri ini tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara manusia mengelola kehidupan sosial, ekonomi, dan moralnya.

Kesempurnaan Sistem Ilahi

Kesempurnaan sistem kehidupan ini ditegaskan dalam ayat yang sangat terkenal:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama bagimu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sebagai dīn merupakan sistem kehidupan yang lengkap dan menyeluruh, yang mencakup dimensi spiritual, moral, sosial, dan kemanusiaan.

Menghidupkan Kembali Makna Agama

Di tengah dunia yang dipenuhi berbagai ideologi dan sistem buatan manusia, Al-Qur’an mengingatkan bahwa agama bukanlah sekadar simbol identitas.

Agama adalah sistem nilai ilahi yang dirancang untuk membimbing manusia menuju kehidupan yang seimbang dan berkeadilan.

Ketika agama dipahami hanya sebagai identitas, ia mudah menjadi sumber konflik. Namun ketika dipahami sebagai sistem kehidupan yang membawa manusia kepada kebaikan, agama justru menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang damai dan bermartabat.

Mungkin inilah tantangan terbesar umat beragama di zaman modern: bukan sekadar mempertahankan identitas agama, tetapi menghidupkan kembali sistem nilai ilahi yang terkandung di dalamnya.Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.(syahida)

Example 120x600