Jakarta|PPMIndonesia.com– Di dalam Al-Qur’an terdapat satu kalimat yang diulang berkali-kali, namun justru jarang dijadikan pusat kesadaran iman umat beragama.
Kalimat itu berbunyi:
لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ
“Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.”
Kalimat ini bukan sekadar ungkapan teologis.
Ia adalah fondasi tauhid.
Ia mendefinisikan siapa sebenarnya orang beriman menurut Al-Qur’an.
Allah berfirman:
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
“Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya‘qub dan anak cucunya, kepada Musa dan Isa serta kepada para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”
(QS. Al-Baqarah: 136)
Perhatikan susunan ayat ini.
Iman tidak berhenti pada satu nabi.
Iman tidak berhenti pada satu umat.
Iman tidak berhenti pada satu sejarah.Iman adalah kesatuan risalah seluruh nabi.
Semua Nabi Membawa Agama yang Sama
Metode Qur’an bil Qur’an mengajarkan bahwa Al-Qur’an menafsirkan dirinya sendiri.
Ketika ayat tentang para nabi dikumpulkan, muncul satu kesimpulan besar:
Semua nabi membawa pesan yang sama — Islam dalam makna kepasrahan kepada Allah.
Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim:
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
“Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Berserah dirilah! Ibrahim menjawab: Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-Baqarah: 131)
Tentang Nabi Nuh:
وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Aku diperintahkan agar termasuk orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Yunus: 72)
Tentang Nabi Musa:
“Bertawakallah kepada Allah jika kalian benar-benar orang yang berserah diri.”
(QS. Yunus: 84)
Tentang Nabi Isa:
فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
“…Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.”
(QS. Ali ‘Imran: 52)
Dari Nuh hingga Muhammad, satu kalimat yang terus berulang:
Aslamtu lirabbil ‘alamin.
Mengapa Al-Qur’an Melarang Membeda-bedakan?
Larangan ini bukan sekadar etika antaragama.
Ia adalah perlindungan terhadap kemurnian tauhid.
Sejarah menunjukkan bahwa penyimpangan agama sering dimulai bukan dari penolakan nabi, tetapi dari pengagungan berlebihan kepada nabi tertentu.
Al-Qur’an mengingatkan:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَنْ يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ… أُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ حَقًّا
“Orang-orang yang ingin membeda-bedakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan: kami beriman kepada sebagian dan kafir terhadap sebagian yang lain… mereka itulah orang-orang kafir yang sebenar-benarnya.”
(QS. An-Nisa: 150-151)
Ayat ini menunjukkan:
Masalahnya bukan pada kecintaan kepada nabi.
Masalahnya muncul ketika iman menjadi selektif.
Nabi Bukan Pusat Agama
Al-Qur’an berulang kali menegaskan posisi para nabi:
Mereka mulia.
Mereka pilihan.
Namun mereka tetap manusia.
Allah memerintahkan Nabi Muhammad berkata:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ
“Katakanlah: Aku hanyalah manusia seperti kalian yang diberi wahyu.”
(QS. Al-Kahfi: 110)
Inilah revolusi spiritual Islam.
Tidak ada manusia yang menjadi pusat penyembahan.
Semua nabi hanyalah penunjuk arah.
Tujuan akhirnya tetap satu:
Allah Rabb al-‘Alamin.
Bahaya Agama Warisan
Al-Qur’an juga mengungkap kecenderungan manusia mempertahankan keyakinan karena tradisi:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Ketika dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang diturunkan Allah, mereka menjawab: Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”
(QS. Al-Baqarah: 170)
Kajian Syahida mengajak umat kembali bertanya:
Apakah iman kita lahir dari kesadaran wahyu?
Ataukah sekadar warisan sosial keagamaan?
Jalan Tauhid Para Nabi
Jika seluruh ayat Al-Qur’an disatukan, terlihat bahwa para nabi memiliki satu jalan yang sama:
- tidak mengajak kepada diri mereka,
- tidak membangun kultus pribadi,
- tidak meminta pengagungan manusia,
- tetapi mengembalikan manusia kepada Allah.
Karena itu Al-Qur’an menutup konsep iman dengan kalimat:
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ … لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ
“Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang beriman… mereka tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 285)
Inilah definisi iman menurut Al-Qur’an.
Bukan iman sektarian.
Bukan iman kelompok.
Tetapi iman universal para nabi.
Kembali kepada Rabb Seluruh Alam
Jalan para nabi bukan jalan fanatisme.
Ia adalah jalan kepasrahan.
Nuh berserah diri.
Ibrahim berserah diri.
Musa berserah diri.
Isa berserah diri.
Muhammad berserah diri.
Dan seluruh risalah itu bermuara pada satu kalimat:
La Nufarriqu Baina Ahadin Minhum.
Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka.
Karena Islam pada hakikatnya bukan agama tokoh.
Islam adalah perjalanan kembali menuju Allah (syahida)



























