Ketika Al-Qur’an Mengkritik Peradaban yang Kehilangan Tuhan
Dunia yang Kaya, Manusia yang Gelisah
Jakarta|PPMIndonesia.com= Manusia modern hidup di era kemajuan luar biasa. Teknologi berkembang cepat, ekonomi tumbuh besar, dan kemudahan hidup semakin luas.
Namun di balik kemajuan itu muncul paradoks besar:
- kecemasan meningkat,
- konflik global meluas,
- ketimpangan ekonomi tajam,
- krisis lingkungan mengancam masa depan bumi.
Al-Qur’an sebenarnya telah lama mengingatkan tentang lahirnya sebuah peradaban yang kuat secara materi tetapi rapuh secara spiritual: peradaban materialistik.
Kajian Syahida melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa konflik terbesar dalam sejarah manusia bukan sekadar perang ideologi, tetapi pertarungan antara tauhid dan materialisme.
Tauhid: Lebih dari Sekadar Keyakinan
Tauhid sering dipahami sebagai pengakuan bahwa Allah itu satu. Namun Al-Qur’an memperluas maknanya menjadi fondasi peradaban.
Allah berfirman:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Milik-Nya segala kekuasaan dan segala pujian.”
(QS. At-Taghabun: 1)
Tauhid berarti:
- sumber kekuasaan bukan manusia,
- sumber nilai bukan materi,
- pusat kehidupan bukan ekonomi semata.
Tauhid menempatkan manusia sebagai hamba sekaligus penjaga bumi, bukan penguasa absolut.
Materialisme: Berhala Modern
Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang berhala batu.
Ia juga mengingatkan tentang berhala ideologis.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Apakah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Materialisme menjadikan:
- keuntungan sebagai kebenaran,
- konsumsi sebagai tujuan hidup,
- kekuatan ekonomi sebagai ukuran kemuliaan.
Dalam perspektif Qur’ani, ketika manusia menuhankan materi, ia sebenarnya kembali kepada bentuk syirik baru.
Kisah Qarun: Kritik Al-Qur’an terhadap Kapitalisme Tanpa Moral
Al-Qur’an menghadirkan figur Qarun sebagai simbol peradaban materialistik.
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِن قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ
“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi ia berlaku zalim kepada mereka.”
(QS. Al-Qashash: 76)
Qarun berkata:
إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي
“Aku memperoleh harta ini karena ilmu yang ada padaku.”
(QS. Al-Qashash: 78)
Inilah mentalitas materialistik:
keberhasilan dianggap hasil kemampuan pribadi semata, bukan amanah Tuhan.
Akhir kisahnya:
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ
“Maka Kami benamkan dia bersama rumahnya ke dalam bumi.”
(QS. Al-Qashash: 81)
Al-Qur’an menegaskan: peradaban tanpa tauhid pada akhirnya runtuh oleh dirinya sendiri.
Fir’aun: Materialisme yang Menjadi Kekuasaan
Jika Qarun mewakili kapitalisme rakus, Fir’aun mewakili kekuasaan absolut.
Fir’aun berkata:
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
(QS. An-Nazi’at: 24)
Materialisme politik lahir ketika manusia menganggap kekuasaan sebagai sumber kebenaran.
Tauhid datang untuk meruntuhkan ilusi tersebut.
Tauhid Melahirkan Keseimbangan Peradaban
Al-Qur’an tidak menolak dunia materi. Yang ditolak adalah dominasi materi atas manusia.
Allah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah negeri akhirat dengan apa yang Allah berikan kepadamu, dan jangan lupakan bagianmu di dunia.”
(QS. Al-Qashash: 77)
Inilah prinsip peradaban Qur’ani:
✔ spiritual tanpa meninggalkan dunia
✔ kemajuan tanpa keserakahan
✔ kekayaan tanpa penindasan
Tauhid menciptakan keseimbangan.
Krisis Modern dalam Perspektif Al-Qur’an
Al-Qur’an menggambarkan akibat dominasi materialisme:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Kerusakan lingkungan, konflik ekonomi global, dan eksploitasi alam bukan fenomena baru; semuanya merupakan konsekuensi ketika manusia meninggalkan orientasi tauhid.
Islam: Jalan Alternatif Peradaban
Islam hadir bukan sekadar agama spiritual, tetapi tawaran model peradaban.
Allah menyebut umat Islam:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”
(QS. Ali ‘Imran: 110)
Keunggulan umat bukan pada jumlah ritual, tetapi pada kemampuannya:
- menegakkan keadilan,
- mencegah kerusakan,
- membawa rahmat bagi seluruh manusia.
Refleksi Kajian Syahida
Peradaban modern tidak runtuh karena kurang teknologi, tetapi karena kehilangan makna.
Tauhid mengembalikan orientasi manusia:
- dari kepemilikan menuju amanah,
- dari konsumsi menuju tanggung jawab,
- dari dominasi menuju pelayanan kemanusiaan.
Pertarungan terbesar zaman ini bukan Timur melawan Barat, atau agama melawan sains.
Melainkan: Tauhid vs Peradaban Materialistik.
Kembali ke Pusat Kehidupan
Al-Qur’an menutup banyak ayat tauhid dengan pengingat sederhana:
إِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ
“Kepada Allah segala urusan kembali.”
(QS. Asy-Syura: 53)
Ketika manusia kembali menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan, materi kembali menjadi alat, bukan tujuan.
Dan di situlah peradaban manusia menemukan kembali keseimbangannya. (syahida)



























