JAKARTA, KOMPAS.com — Retaknya soliditas aliansi Barat semakin terlihat setelah sejumlah negara anggota NATO menolak atau membatasi dukungan terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Dalam beberapa hari terakhir, Spanyol, Italia, Prancis, dan Polandia mengambil langkah berbeda dari Washington dengan menolak keterlibatan langsung dalam eskalasi konflik Timur Tengah.
Keputusan tersebut menandai perubahan signifikan dibandingkan konflik-konflik sebelumnya, ketika Amerika Serikat biasanya mampu membangun koalisi militer internasional yang luas.
Penolakan Beruntun dari Sekutu NATO
Spanyol menjadi negara pertama yang secara terbuka mengambil posisi tegas.
Pemerintah Madrid menutup wilayah udaranya bagi jet tempur Amerika Serikat yang terlibat dalam operasi militer terhadap Iran. Perdana Menteri Pedro Sánchez bahkan menjadi salah satu pemimpin Eropa paling vokal mengkritik serangan tersebut.
Menteri Pertahanan Spanyol Margarita Robles menegaskan bahwa pangkalan militer negaranya hanya boleh digunakan untuk tujuan pertahanan kolektif NATO, bukan operasi ofensif di luar mandat aliansi.
Langkah Spanyol kemudian diikuti negara-negara Eropa lainn
Italia Tolak Penggunaan Pangkalan Sigonella
Italia dilaporkan menolak izin bagi pesawat militer AS untuk mendarat di pangkalan udara Sigonella di Sisilia sebelum menuju Timur Tengah.
Harian Corriere della Sera menyebut sejumlah bomber Amerika dijadwalkan transit di pangkalan tersebut. Namun pemerintah Italia menilai penggunaan fasilitas militer memerlukan otorisasi khusus sesuai perjanjian bilateral.
Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menegaskan tidak ada keretakan hubungan dengan Washington.
Menurutnya, pangkalan AS tetap beroperasi, tetapi setiap penggunaan di luar kesepakatan yang berlaku harus melalui prosedur persetujuan pemerintah Italia.
Prancis Batasi Akses Udara bagi AS
Ketegangan juga muncul antara Washington dan Paris.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosial Truth Social menuduh Prancis “sangat tidak membantu” karena tidak mengizinkan pesawat militer AS yang membawa pasokan senjata menuju Israel melintasi wilayah udaranya.
Istana Élysée membalas dengan menyatakan keputusan tersebut konsisten dengan kebijakan Prancis sejak konflik meningkat pada akhir Februari.
Sumber diplomatik Barat menyebut penolakan itu merupakan pertama kalinya Prancis mengambil langkah pembatasan sejak konflik dimulai.
Kementerian Pertahanan Israel bahkan menuding Paris secara aktif menghambat pengiriman amunisi, meskipun telah ada koordinasi sebelumnya.
Sebagai respons, Israel dikabarkan mempertimbangkan penghentian kerja sama pertahanan baru dengan Prancis.
Polandia Prioritaskan Pertahanan Nasional
Di Eropa Timur, Polandia juga mengirimkan sinyal serupa.
Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Pertahanan Władysław Kosiniak-Kamysz menolak permintaan pengiriman aset pertahanan udara ke Timur Tengah.
Warsawa menegaskan bahwa sistem pertahanan rudal Patriot akan tetap ditempatkan untuk melindungi wilayah udara Polandia di tengah meningkatnya ketidakpastian keamanan Eropa.
Keputusan tersebut menunjukkan prioritas negara-negara NATO kini lebih berfokus pada keamanan regional dibanding keterlibatan dalam konflik baru di Timur Tengah.
Trump Kritik Sekutu Barat
Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik negara-negara sekutu yang dinilai tidak memberikan dukungan memadai.
Ia bahkan menyebut sebagian sekutu NATO sebagai “pengecut” karena enggan terlibat dalam operasi militer melawan Iran.
Dalam unggahan lainnya, Trump juga menyinggung Inggris dan negara-negara Eropa yang bergantung pada jalur energi Selat Hormuz namun tidak bersedia ikut operasi militer.
Pernyataan keras tersebut justru memperlihatkan meningkatnya jarak politik antara Washington dan sekutu tradisionalnya.
Berbeda dari Koalisi Perang Sebelumnya
Situasi saat ini kontras dengan sejarah intervensi militer Amerika Serikat di Timur Tengah.
Pada Perang Teluk 1991 di bawah Presiden George H.W. Bush, Washington berhasil membangun koalisi internasional besar yang melibatkan puluhan negara.
Hal serupa, meski menuai kritik, juga terjadi dalam invasi Irak 2003 di era Presiden George W. Bush.
Namun dalam konflik Iran kali ini, dukungan internasional tampak jauh lebih terbatas.
Banyak negara Eropa menunjukkan sikap hati-hati, mencerminkan meningkatnya kelelahan politik terhadap perang Timur Tengah serta kekhawatiran akan eskalasi regional yang lebih luas.
Tanda Perubahan Geopolitik Barat
Para analis menilai penolakan beruntun dari negara-negara NATO bukan sekadar persoalan teknis militer, melainkan indikator perubahan dinamika geopolitik Barat.
Eropa semakin menekankan diplomasi dan stabilitas regional dibanding keterlibatan langsung dalam konflik berskala besar.
Perbedaan pendekatan ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai masa depan solidaritas NATO serta kepemimpinan global Amerika Serikat di tengah krisis internasional yang semakin kompleks.
Jika tren ini berlanjut, konflik Iran berpotensi menjadi momen penting yang menandai berakhirnya era dominasi koalisi militer Barat yang sepenuhnya solid di bawah Washington. (acank)



























