Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Iman Selektif: Penyakit Lama Umat Beragama

8
×

Iman Selektif: Penyakit Lama Umat Beragama

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

 Ketika Iman Menjadi Pilihan yang Nyaman

Jakarta|PPMIndonesia.com– Salah satu kritik paling tajam Al-Qur’an terhadap umat beragama bukanlah kekafiran terbuka, melainkan iman yang selektif—percaya sebagian ajaran Tuhan tetapi menolak sebagian lainnya.

Fenomena ini bukan hanya milik umat terdahulu. Ia terus berulang sepanjang sejarah agama: manusia menerima wahyu yang sesuai kepentingannya, tetapi menolak bagian yang menuntut perubahan diri.

Al-Qur’an menyebut penyakit ini secara eksplisit.

Iman Parsial dalam Perspektif Al-Qur’an

Allah berfirman:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain?”
(QS. Al-Baqarah: 85)

Ayat ini turun kepada Bani Israil, namun metode Al-Qur’an bukanlah untuk menyalahkan sejarah, melainkan memberi cermin bagi umat setelahnya.

Iman selektif terjadi ketika:

  • ayat ibadah diterima,
  • tetapi ayat keadilan sosial diabaikan,
  • ayat ritual dijaga,
  • tetapi ayat kejujuran ekonomi dilanggar,
  • ayat persaudaraan dibaca,
  • tetapi permusuhan tetap dipelihara.

Syahida: Iman yang Menjadi Kesaksian Hidup

Dalam pendekatan Kajian Syahida, iman bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi kesaksian eksistensial.

Allah menegaskan:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia…”
(QS. Ali Imran: 18)

Kata syahida berarti menyaksikan dengan seluruh keberadaan. Maka orang beriman seharusnya menjadi saksi hidup tauhid, bukan hanya penghafal dalil.

Iman selektif muncul ketika agama berhenti menjadi kesaksian dan berubah menjadi identitas sosia

Penyakit Lama yang Terus Berulang

Al-Qur’an berulang kali menggambarkan pola umat terdahulu:

  1. Menerima nabi yang sesuai kepentingan,
  2. Menolak nabi yang mengganggu status quo,
  3. Memuliakan nabi masa lalu,
  4. Menolak kebenaran masa kini.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ مُوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ

“Sungguh Musa telah datang kepadamu dengan bukti-bukti nyata, kemudian kamu menjadikan anak sapi sebagai sesembahan setelahnya.”
(QS. Al-Baqarah: 92)

Masalahnya bukan kurangnya wahyu, tetapi ketidakmauan tunduk secara utuh.

Mengapa Manusia Memilih Iman Selektif?

Al-Qur’an menunjukkan beberapa sebab utama:

1. Kepentingan Kekuasaan

Agama dijadikan legitimasi kelompok.

يَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Mereka menyembunyikan kebenaran padahal mereka mengetahuinya.”
(QS. Al-Baqarah: 146)

2. Fanatisme Identitas

Kebenaran diukur dari kelompok, bukan dari wahyu.

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ
“Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”
(QS. Az-Zukhruf: 22)

3. Takut pada Perubahan

Tauhid sejati selalu mengguncang kenyamanan sosial.

Islam Menuntut Keimanan Total

Al-Qur’an tidak mengenal iman setengah-setengah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)

Islam bukan hanya ritual, bukan hanya hukum, bukan hanya identitas. Ia adalah penyerahan diri total kepada kebenaran Allah.

Iman Selektif di Era Modern

Hari ini, iman selektif muncul dalam bentuk baru:

  • Religius dalam simbol, tetapi abai pada keadilan,
  • Rajin ibadah pribadi, tetapi merusak lingkungan,
  • Berbicara ukhuwah, tetapi memproduksi kebencian,
  • Mengagungkan agama, tetapi melukai kemanusiaan.

Al-Qur’an mengingatkan:

كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff: 3)

Tauhid sebagai Integrasi Hidup

Tauhid bukan hanya pengakuan teologis. Ia adalah integrasi:

  • Iman dan amal,
  • Ibadah dan keadilan,
  • Spiritualitas dan tanggung jawab sosial.

Inilah makna menjadi ummatan wasathan — umat yang utuh dan seimbang.

Dari Identitas Menuju Kesaksian

Kajian Syahida mengajak kembali pada pesan utama Al-Qur’an:

Agama bukan sekadar diwarisi.
Ia harus disaksikan dalam kehidupan.

Iman sejati bukan memilih ayat yang mudah, tetapi tunduk pada seluruh kebenaran Allah—bahkan ketika ia menuntut perubahan diri.

Karena penyakit terbesar umat beragama bukan tidak beriman, melainkan beriman secara selektif.

Dan Al-Qur’an memanggil manusia menuju iman yang utuh.

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang beriman. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.”
(QS. Al-Baqarah: 285)

Example 120x600