Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Gerakan yang Menunggu Tunas Baru

2
×

Gerakan yang Menunggu Tunas Baru

Share this article

Penulis: acank| Editor: asyary

Ilustrasi tumbuhnya tunas tunas baru sebagai kelanjutan suatu generasi (leonardo0

Menyongsong Pertemuan Nasional (PENAS) PPM 2026

Jakarta|PPMIndonesia.com– Empat puluh satu tahun perjalanan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) bukan sekadar hitungan usia organisasi. Ia adalah sejarah panjang pengabdian sosial, kerja pemberdayaan masyarakat, serta ikhtiar menghadirkan rakyat sebagai subjek pembangunan. Kini, menjelang Pertemuan Nasional (PENAS) PPM Tahun 2026, organisasi ini kembali berada pada momentum penting: menentukan arah kepemimpinan baru sekaligus masa depan gerakan.

PPM tidak sekadar membutuhkan pemimpin. PPM membutuhkan tunas baru gerakan.

Lahir dari Kegelisahan Zaman

Awal kelahiran PPM pada dekade 1980-an tidak dapat dipisahkan dari situasi sosial-politik saat itu. Kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) dan Badan Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) membatasi aktivitas politik mahasiswa. Banyak aktivis kampus kemudian mencari ruang pengabdian baru di tengah masyarakat.

Tokoh PPM, Adi Sasono, pernah menegaskan bahwa gerakan sosial harus menemukan jalan alternatif di luar arena politik formal.

“Ketika ruang politik menyempit, pengabdian kepada masyarakat justru harus diperluas. Pembangunan sejati lahir dari pemberdayaan rakyat.”

Dari gagasan itulah muncul pendekatan dakwah bil hal—kerja nyata melalui ekonomi rakyat, koperasi, pesantren kejuruan, kelompok pedagang kecil, hingga pengorganisasian masyarakat desa dan miskin kota.

PPM lahir bukan sebagai organisasi wacana, melainkan organisasi kerja sosia

Spirit Kolektif Para Perintis

Salah satu pendiri PPM, Habib Chirzin, berulang kali mengingatkan bahwa kekuatan PPM bukan terletak pada struktur organisasi, melainkan pada nilai partisipasi.

“PPM bukan milik pengurusnya, tetapi milik masyarakat yang kita dampingi.”

Semangat kolektif inilah yang membuat gerakan PPM pada masa awal mampu menyebar ke berbagai daerah—dari Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Semarang, hingga Lombok dan wilayah Indonesia timur.

Tokoh penggerak lainnya, Ali Mustofa Trajutisna, menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan kesabaran sosial.

“Perubahan tidak lahir dari program besar, tetapi dari pendampingan kecil yang dilakukan terus-menerus.”

Nilai inilah yang menjadi DNA PPM: kerja sunyi, kerja nyata, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Ketika Waktu Menguji Gerakan

Namun perjalanan panjang organisasi selalu menghadapi ujian zaman. Memasuki era reformasi hingga dua dekade terakhir, perubahan sosial berlangsung sangat cepat. Digitalisasi, ekonomi konsumtif, dan individualisme sosial mengubah pola gerakan masyarakat sipil.

Sebagaimana pernah disampaikan Pupun Prwana, salah satu penggerak PPM generasi berikutnya:

“Tantangan PPM hari ini bukan lagi melawan tekanan negara, tetapi melawan kelelahan gerakan.”

Realitas ini tampak dalam melemahnya kaderisasi, berkurangnya aktivitas pemberdayaan, dan menurunnya keterlibatan generasi muda dalam organisasi sosial.

PPM tidak sendirian menghadapi situasi ini. Banyak organisasi masyarakat sipil mengalami fase serupa: kuat dalam sejarah, tetapi diuji dalam regenerasi.

Penas 2026: Lebih dari Sekadar Pemilihan

Pertemuan Nasional (PENAS) 2026 seharusnya tidak dipahami hanya sebagai agenda memilih kepemimpinan baru. Forum ini merupakan momentum konsolidasi ideologis dan kebangkitan organisasi.

Salah satu Presidium PPM pernah menyampaikan dalam forum internal:

“Yang kita cari bukan figur kuat, tetapi kepemimpinan kolektif yang mampu menumbuhkan kader.”

Artinya, kepemimpinan PPM ke depan harus melampaui pola administratif. Pemimpin baru dituntut menjadi:

  • penggerak kaderisasi,
  • penghubung lintas generasi,
  • serta inovator pemberdayaan masyarakat.

Menghidupkan Kembali DNA Peranserta

Ironisnya, ketika sebagian organisasi masyarakat sipil mengalami stagnasi, ruang pemberdayaan masyarakat justru semakin terbuka melalui berbagai kebijakan nasional: Dana Desa, penguatan BUMDes, ekonomi koperasi, hingga agenda pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas.

Di sinilah relevansi PPM sebenarnya kembali menemukan panggungnya.

Sebagaimana sering diingatkan para pendiri, PPM bukan organisasi proyek, melainkan gerakan sosial.

“Peranserta bukan slogan, tetapi cara bekerja bersama masyarakat,” demikian pesan yang terus diwariskan dalam tradisi gerakan PPM.

Kepemimpinan Baru, Generasi Baru

Regenerasi tidak berarti mengganti sejarah. Regenerasi berarti meneruskan nilai dengan cara baru.

Pertemuan Nasional (PENAS) tahun 2026 ini harus menjadi ruang pertemuan antara pengalaman generasi perintis dan keberanian generasi muda. Tanpa kaderisasi, organisasi hanya akan menjadi kenangan institusional.

Gerakan hanya hidup ketika ada generasi yang merasa memiliki masa depan di dalamnya.

Menyongsong Babak Baru

Empat puluh satu tahun perjalanan menunjukkan bahwa PPM telah melewati berbagai fase: lahir dari tekanan, tumbuh melalui pengabdian, dan kini memasuki fase refleksi.

Masa depan PPM tidak ditentukan oleh seberapa besar sejarahnya, tetapi oleh keberanian untuk berubah.

Pertemuan Nasional  (PENAS) 2026 adalah kesempatan untuk menyalakan kembali energi gerakan—menguatkan kaderisasi, memperluas kolaborasi sosial, dan menghadirkan kembali PPM sebagai gerakan masyarakat sipil yang relevan dengan zaman.

Karena setiap gerakan besar pada akhirnya selalu menunggu satu hal yang sama: tunas baru yang berani tumbuh dan melanjutkan pengabdian (acank)

Example 120x600