Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika Agama Menjadi Identitas Politik

5
×

Ketika Agama Menjadi Identitas Politik

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Agama diturunkan untuk membebaskan manusia.
Namun sejarah menunjukkan ironi: agama sering berubah menjadi alat kekuasaan.

Ketika iman berubah menjadi identitas politik, yang lahir bukan lagi persaudaraan iman, melainkan polarisasi, pengelompokan, bahkan permusuhan atas nama Tuhan.

Al-Qur’an sejak awal telah memperingatkan bahaya ini.

Tauhid Membebaskan, Politik Sering Mengikat

Misi utama para nabi bukan mendirikan kelompok politik agama, tetapi membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An‘am: 162)

Tauhid menghapus dominasi manusia atas manusia.

Namun ketika agama menjadi identitas politik, orientasi berubah:

  • dari Tuhan → menuju kelompok,
  • dari kebenaran → menuju kemenangan,
  • dari akhlak → menuju kekuasaan.

Al-Qur’an Mengkritik Fanatisme Kelompok

Fenomena politisasi agama bukan hal baru. Al-Qur’an menggambarkan bagaimana umat terdahulu terpecah menjadi kelompok-kelompok ideologis.

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum: 32)

Ayat ini sangat relevan dengan zaman modern.

Ketika agama menjadi identitas politik:

  • simbol agama dipakai sebagai legitimasi,
  • lawan politik dianggap musuh iman,
  • kebenaran diukur berdasarkan afiliasi.

Padahal Al-Qur’an tidak pernah mengajarkan loyalitas buta kepada kelompok.

Bahaya Menggunakan Nama Allah untuk Kepentingan Dunia

Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap mereka yang menjadikan agama sebagai alat keuntungan duniawi.

وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا

“Janganlah kamu menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.”
(QS. Al-Baqarah: 41)

Harga murah itu bisa berupa:

  • kekuasaan,
  • popularitas,
  • dukungan massa,
  • kemenangan politik.

Ketika ayat Tuhan menjadi slogan politik, agama kehilangan ruhnya.

Nabi Tidak Pernah Menjadikan Iman sebagai Identitas Eksklusif

Al-Qur’an menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tidak memaksa orang beriman demi kepentingan kekuasaan.

أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّىٰ يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ

“Apakah engkau hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang beriman?”
(QS. Yunus: 99)

Iman tidak boleh lahir dari tekanan politik.

Jika iman diproduksi oleh tekanan sosial atau mobilisasi politik, maka yang muncul hanyalah identitas, bukan keimanan.

Agama sebagai Moral Publik, Bukan Alat Polarisasi

Al-Qur’an justru menempatkan agama sebagai sumber etika sosial:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan.”
(QS. An-Nahl: 90)

Agama hadir untuk:

  • menegakkan keadilan,
  • melindungi manusia,
  • menjaga martabat sosial.

Bukan untuk membelah masyarakat menjadi “kami” dan “mereka”.

Ketika Identitas Mengalahkan Akhlak

Kajian Syahida melihat gejala penting zaman ini:

orang dapat sangat religius secara simbolik, tetapi kehilangan akhlak Qur’ani.

Al-Qur’an memperingatkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
(QS. As-Saff: 2)

Agama yang menjadi identitas politik sering menghasilkan:

  • retorika agama yang keras,
  • tetapi empati sosial yang lemah.

Islam Bukan Agama Kelompok

Islam secara Qur’ani bersifat universal.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Rahmat bagi seluruh alam berarti Islam tidak boleh direduksi menjadi milik satu kelompok politik, satu mazhab, atau satu identitas sosial.

Begitu agama dikurung dalam kepentingan kelompok, ia berhenti menjadi rahmat universal

Kembali kepada Spirit Tauhid

Tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi pembebasan sosial.

Tauhid berarti:

  • tidak mengultuskan tokoh,
  • tidak menyakralkan kelompok,
  • tidak memutlakkan kekuasaan manusia.

إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ

“Keputusan itu hanyalah milik Allah.”
(QS. Yusuf: 40)

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada manusia atau kelompok yang berhak mengklaim monopoli kebenaran Tuhan.

Menyelamatkan Agama dari Kepentingan

Pertanyaan penting bagi umat beragama hari ini bukan:

Siapa yang paling religius secara identitas?

Tetapi:

Apakah agama masih membentuk akhlak kita?

Kajian Syahida mengajak kembali kepada Islam sebagai kesaksian tauhid, bukan identitas politik.

Karena agama yang dijadikan alat kekuasaan akan melahirkan konflik,
tetapi agama yang kembali kepada Al-Qur’an akan melahirkan keadilan dan kedamaian.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ

“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.”
(QS. Hud: 112)

Agama tidak membutuhkan kekuasaan untuk bertahan.
Yang dibutuhkan agama hanyalah manusia yang sadar, adil, dan bertauhid (syahida)

Example 120x600
Berita

Refleksi Menjelang Pertemuan Nasional (PENAS) 2026 Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap…