{"id":11480,"date":"2025-02-08T04:27:21","date_gmt":"2025-02-08T04:27:21","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=11480"},"modified":"2025-02-08T04:28:45","modified_gmt":"2025-02-08T04:28:45","slug":"polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/","title":{"rendered":"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p><b>ppmindonesia.com. Jakart<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">a &#8211; Polemik kepemilikan sertifikat tanah di wilayah <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/\">perairan pesisir<\/a> menjadi sorotan publik belakangan ini. Kasus pagar laut di Tangerang dan Sidoarjo memicu perdebatan mengenai legalitas dan etika pemberian hak milik atas lahan di wilayah yang seharusnya menjadi milik bersama.<\/span><\/p>\n<p><strong>Kontroversi Hukum dan Tradisi Masyarakat Pesisir<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pakar hukum agraria dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Maria Suwardjono, menjelaskan bahwa pemberian hak atas tanah di perairan pesisir bukanlah hal baru. Hal ini telah diatur dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA). <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, jauh sebelum undang-undang ini lahir, masyarakat adat di berbagai wilayah Indonesia telah memiliki tradisi memanfaatkan wilayah pesisir untuk tempat tinggal dan mencari nafkah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Banyak sekali suku-suku asli yang rumahnya terapung, termasuk Suku Laut dan Suku Barok di Kepulauan Riau, atau HGB untuk suku Kampung Laut yang hidup di perairan Batam. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka punya hak atas lahan yang ditempatinya. Jadi, hak lahan di perairan pesisir itu memang bukan hal baru,&#8221; kata Maria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, pemberian sertifikat tanah di perairan pesisir juga menuai kritik. Menteri Agraria dan Tata Ruang\/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR\/BPN), Nusron Wahid\u00a0 menegaskan komitmennya untuk mencabut sertifikat tanah di wilayah pesisir yang tidak sesuai dengan peraturan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Yang penting ending-nya semua sertifikat di luar garis pantai, kami batalkan,&#8221; kata Nusron Wahid<\/span><\/p>\n<p><strong>Dampak Lingkungan dan Potensi Konflik<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain persoalan hukum, polemik sertifikat tanah di perairan pesisir juga menimbulkan kekhawatiran terkait dampak lingkungan. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembangunan pagar laut dan reklamasi pantai dikhawatirkan mengganggu ekosistem laut dan merusak mata pencaharian masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya alam laut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pesisir Tangerang termasuk kawasan abrasi luar biasa dahsyat. Dari total panjang pantai 745 kilometer, sebesar 44 persen menghilang ditelan abrasi,&#8221; ujar Maria.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, pemberian sertifikat tanah di perairan pesisir juga berpotensi memicu konflik antara masyarakat adat, pengembang, dan pemerintah. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat adat yang telah lama memanfaatkan wilayah pesisir untuk tempat tinggal dan mencari nafkah merasa haknya terabaikan dengan adanya pemberian sertifikat tanah kepada pihak lain.<\/span><\/p>\n<p><strong>Perlunya Keseimbangan<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Polemik sertifikat tanah di perairan pesisir menunjukkan kompleksitas persoalan agraria di Indonesia. Di satu sisi, negara memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengelola sumber daya alam demi kepentingan nasional. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, di sisi lain, hak-hak masyarakat adat dan kepentingan lingkungan juga harus menjadi pertimbangan utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mengatasi polemik sertifikat tanah di perairan pesisir. Kebijakan tersebut harus melibatkan semua pihak terkait, termasuk masyarakat adat, pemerintah, pengembang, dan ahli lingkungan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Referensi:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a href=\"https:\/\/www.viva.co.id\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.viva.co.id<\/span><\/a><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a href=\"https:\/\/news.republika.co.id\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/news.republika.co.id<\/span><\/a><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a href=\"https:\/\/www.inilah.com\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/www.inilah.com<\/span><\/a><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><a href=\"http:\/\/www.inilah.co\"><span style=\"font-weight: 400;\">www.inilah.com<\/span><\/a><\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ppmindonesia.com. Jakarta &#8211; Polemik kepemilikan sertifikat tanah di&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":11481,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[208,36],"tags":[1026,1029,1028,1027],"newstopic":[],"class_list":["post-11480","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-nasional","tag-abrasi","tag-nusron-wahid","tag-sertifikat-tanah-pesisir","tag-tanah-pesisir-pantai"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ppmindonesia.com. Jakarta &#8211; Polemik kepemilikan sertifikat tanah di...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-02-08T04:27:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-02-08T04:28:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1707\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"2 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\"},\"headline\":\"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan\",\"datePublished\":\"2025-02-08T04:27:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-08T04:28:45+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/\"},\"wordCount\":424,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/abrasi_11zon-scaled.jpg\",\"keywords\":[\"abrasi\",\"nusron wahid\",\"sertifikat tanah pesisir\",\"tanah pesisir pantai\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Nasional\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/\",\"name\":\"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/abrasi_11zon-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2025-02-08T04:27:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-08T04:28:45+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/abrasi_11zon-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/abrasi_11zon-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1707,\"caption\":\"Ilustrasi abrasi di pesisir pantai (foto. www.vecteezy.com)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/08\\\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan - ppmindonesia","og_description":"ppmindonesia.com. Jakarta &#8211; Polemik kepemilikan sertifikat tanah di...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2025-02-08T04:27:21+00:00","article_modified_time":"2025-02-08T04:28:45+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1707,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Redaksi","Est. reading time":"2 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c"},"headline":"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan","datePublished":"2025-02-08T04:27:21+00:00","dateModified":"2025-02-08T04:28:45+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/"},"wordCount":424,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg","keywords":["abrasi","nusron wahid","sertifikat tanah pesisir","tanah pesisir pantai"],"articleSection":["Berita","Nasional"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/","name":"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg","datePublished":"2025-02-08T04:27:21+00:00","dateModified":"2025-02-08T04:28:45+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg","width":2560,"height":1707,"caption":"Ilustrasi abrasi di pesisir pantai (foto. www.vecteezy.com)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/08\/polemik-sertifikat-tanah-di-perairan-pesisir-antara-hukum-adat-kebijakan-negara-dan-dampak-lingkungan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Polemik Sertifikat Tanah di Perairan Pesisir: Antara Hukum Adat, Kebijakan Negara, dan Dampak Lingkungan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg",2560,1707,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-1536x1024.jpg",1536,1024,true],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-2048x1365.jpg",2048,1365,true],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-200x133.jpg",200,133,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"ppmindonesia.com. Jakarta &#8211; Polemik kepemilikan sertifikat tanah di...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg",2560,1707,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg",2560,1707,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-scaled.jpg",2560,1707,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-1536x1024.jpg",1536,1024,true],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-2048x1365.jpg",2048,1365,true],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/abrasi_11zon-200x133.jpg",200,133,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/berita\/\" rel=\"category tag\">Berita<\/a> <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/nasional\/\" rel=\"category tag\">Nasional<\/a>","rttpg_excerpt":"ppmindonesia.com. Jakarta &#8211; Polemik kepemilikan sertifikat tanah di...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11480","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11480"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11480\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11484,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11480\/revisions\/11484"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11481"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11480"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11480"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11480"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11480"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}