{"id":11559,"date":"2025-02-12T07:38:40","date_gmt":"2025-02-12T07:38:40","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=11559"},"modified":"2025-02-12T08:01:22","modified_gmt":"2025-02-12T08:01:22","slug":"sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/","title":{"rendered":"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>ppmindonesia.com. Jakarta<\/strong>&#8211; Indonesia adalah salah satu negara dengan konsumsi <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/\">kedelai<\/a> tertinggi di dunia setelah Tiongkok. Produk berbasis kedelai seperti tahu, tempe, dan kecap sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan masyarakat Indonesia. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada satu ironi yang terus berulang dari tahun ke tahun: <\/span><b>sebagian besar kedelai yang dikonsumsi di Indonesia berasal dari impor<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025, impor kedelai nasional diprediksi mencapai <\/span><b>2,6 juta metrik ton<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, naik <\/span><b>2%<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dari proyeksi sebelumnya sebesar <\/span><b>2,55 juta ton<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsumsi kedelai nasional pun diperkirakan naik menjadi <\/span><b>2,75 juta metrik ton<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, meningkat <\/span><b>5%<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> dibandingkan tahun sebelumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu, <\/span><b>mengapa Indonesia masih bergantung pada kedelai impor?<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Apa tantangan yang dihadapi petani kedelai lokal? Dan apakah Indonesia bisa mencapai swasembada kedelai dalam waktu dekat?<\/span><\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#Ketimpangan_Antara_Produksi_dan_Konsumsi_Kedelai\" >Ketimpangan Antara Produksi dan Konsumsi Kedelai<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#Mengapa_Perajin_Lebih_Memilih_Kedelai_Impor\" >Mengapa Perajin Lebih Memilih Kedelai Impor?<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#Upaya_Pemerintah_untuk_Mengurangi_Ketergantungan_pada_Kedelai_Impor\" >Upaya Pemerintah untuk Mengurangi Ketergantungan pada Kedelai Impor<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#Bisakah_Indonesia_Mencapai_Swasembada_Kedelai\" >Bisakah Indonesia Mencapai Swasembada Kedelai?<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ketimpangan_Antara_Produksi_dan_Konsumsi_Kedelai\"><\/span><b>Ketimpangan Antara Produksi dan Konsumsi Kedelai<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat ini, produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar <\/span><b>20% dari total kebutuhan nasional<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Sisanya, sekitar <\/span><b>80%<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, harus diimpor, terutama dari <\/span><b>Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">I<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mpor kedelai dari Amerika Serikat sendiri mencapai <\/span><b>1,93 juta ton<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> pada tahun 2024, atau sekitar <\/span><b>90% dari total impor kedelai Indonesia<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketergantungan ini terjadi karena produksi kedelai lokal jauh dari cukup. Salah satu penyebab utama adalah <\/span><b>luas lahan tanam yang semakin menyusut<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 2018, luas lahan kedelai di Indonesia hanya sekitar <\/span><b>680.000 hektare<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dibutuhkan setidaknya <\/span><b>2,5 juta hektare<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, petani kedelai di Indonesia menghadapi berbagai kendala, seperti:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><b>Harga jual yang kurang menarik; <\/b>Pemerintah telah mematok harga jual kedelai di tingkat petani sebesar <b>Rp 8.500 per kg<\/b>, tetapi dengan <b>biaya produksi yang mencapai Rp 6.500 per kg<\/b>, keuntungan petani sangat tipis. Hal ini membuat banyak petani enggan menanam kedelai dan lebih memilih tanaman lain yang lebih menguntungkan, seperti jagung atau padi.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><b>2.Produktivitas yang masih rendah; <\/b><b><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kedelai yang ditanam di Indonesia memiliki tingkat produktivitas lebih rendah dibandingkan dengan kedelai impor. Faktor cuaca, keterbatasan varietas unggul, dan kurangnya teknologi pertanian yang efisien turut berkontribusi pada rendahnya hasil panen.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><b>3. Iklim tropis yang kurang ideal;<\/b><b><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kedelai sebenarnya lebih cocok tumbuh di daerah subtropis, yang memiliki suhu harian dan musiman lebih bervariasi. Di Indonesia, dengan hanya dua musim (kemarau dan hujan), pertumbuhan kedelai menjadi kurang optimal. <\/span><b>Curah hujan tinggi bisa menyebabkan tanah jenuh air<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sementara <\/span><b>drainase yang buruk membuat kondisi tanah tidak ideal<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk budidaya kedelai.<\/span><\/p>\n<p style=\"padding-left: 40px;\"><b>4.Persaingan dengan kedelai impor yang lebih murah; <\/b><b><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Harga kedelai impor lebih murah dibandingkan kedelai lokal. Saat ini, harga kedelai impor berkisar <\/span><b>Rp 6.000\u2013Rp 7.700 per kg<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sedangkan kedelai lokal bisa lebih dari <\/span><b>Rp 10.000 per kg<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Perbedaan harga ini membuat perajin tahu dan tempe lebih memilih kedelai impor karena lebih ekonomis.<\/span><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mengapa_Perajin_Lebih_Memilih_Kedelai_Impor\"><\/span><b>Mengapa Perajin Lebih Memilih Kedelai Impor?<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain faktor harga, ada beberapa alasan lain mengapa perajin tahu dan tempe lebih memilih kedelai impor dibandingkan kedelai lokal:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\ud83d\udd39 <\/span><b>Ukuran biji lebih seragam<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kedelai impor memiliki ukuran biji yang lebih seragam, sehingga memudahkan dalam proses produksi. Sementara itu, kedelai lokal memiliki ukuran yang bervariasi, sehingga kurang memenuhi standar industri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\ud83d\udd39 <\/span><b>Lebih bersih dan siap pakai<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kedelai impor sudah melalui proses sortir dan pengemasan yang baik, sehingga bisa langsung digunakan. Sebaliknya, kedelai lokal sering kali masih bercampur dengan tanah, ranting, atau daun, sehingga membutuhkan waktu tambahan untuk pembersihan sebelum diolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\ud83d\udd39 <\/span><b>Tingkat pengembangan lebih tinggi<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam produksi tempe, <\/span><b>1 kg kedelai impor dapat menghasilkan 1,6 hingga 1,8 kg tempe<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sementara <\/span><b>kedelai lokal hanya menghasilkan 1,4 hingga 1,5 kg tempe<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Ini berarti kedelai impor lebih efisien dan menguntungkan bagi perajin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\ud83d\udd39 <\/span><b>Pasokan lebih stabil<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Produksi tahu dan tempe harus berlangsung setiap hari. Namun, pasokan kedelai lokal sering tidak tersedia secara konsisten. Berbeda dengan kedelai impor yang dapat diperoleh dalam jumlah besar dan secara teratur.<\/span><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Upaya_Pemerintah_untuk_Mengurangi_Ketergantungan_pada_Kedelai_Impor\"><\/span><b>Upaya Pemerintah untuk Mengurangi Ketergantungan pada Kedelai Impor<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyadari besarnya ketergantungan pada kedelai impor, pemerintah telah mengambil berbagai langkah strategis untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satunya adalah proyek perluasan lahan kedelai yang menargetkan penambahan hingga <\/span><b>1 juta hektare lahan baru dalam 2\u20133 tahun ke depan<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran <\/span><b>Rp 400 miliar<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk mendukung peningkatan produksi kedelai lokal.(tempo; 19 November 2022)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, untuk mencapai swasembada kedelai, langkah-langkah berikut juga perlu diperkuat:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2705 <\/span><b>Meningkatkan Produktivitas Petani<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui penelitian dan pengembangan <\/span><b>varietas unggul<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lebih adaptif terhadap iklim tropis dan memiliki hasil panen lebih tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2705 <\/span><b>Pendampingan dan Pelatihan Petani<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Petani perlu didorong untuk mengadopsi teknik budidaya modern yang lebih efisien dan produktif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2705 <\/span><b>Investasi dalam Infrastruktur Pertanian<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Pengelolaan <\/span><b>irigasi, drainase, dan sistem pengeringan tanah<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> harus diperbaiki agar sesuai dengan kebutuhan tanaman kedelai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2705 <\/span><b>Regulasi Harga dan Pengendalian Impor<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah perlu mengatur tata niaga kedelai agar harga kedelai lokal lebih kompetitif. <\/span><b>Pengendalian impor juga diperlukan agar kedelai lokal bisa lebih terserap di pasar domestik<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u2705 <\/span><b>Kemitraan dengan Sektor Swasta<\/b><b><br \/>\n<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah dapat menggandeng perusahaan swasta dan koperasi tani untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dan distribusi kedelai lokal.<\/span><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bisakah_Indonesia_Mencapai_Swasembada_Kedelai\"><\/span><b>Bisakah Indonesia Mencapai Swasembada Kedelai?<\/b><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut para ahli, <\/span><b>swasembada kedelai bukanlah sesuatu yang mustahil<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, tetapi membutuhkan <\/span><b>komitmen politik yang kuat dan strategi jangka panjang<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut <\/span>Prima Gandhi, peneliti dari Institut Pertanian Bogor<span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><b>swasembada kedelai bisa tercapai jika pemerintah mampu menambah luas lahan tanam, meningkatkan kualitas benih, serta mengatur regulasi perdagangan yang lebih berpihak pada petani lokal<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika tidak ada perubahan signifikan, maka Indonesia akan terus bergantung pada kedelai impor dalam jangka panjang. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan konsumsi kedelai yang terus meningkat, ketergantungan ini bisa menjadi ancaman bagi ketahanan pangan nasional, terutama jika terjadi gangguan pasokan global atau kenaikan harga di pasar internasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dapat disimpulkan, hingga saat ini, kedelai impor masih mendominasi pasar Indonesia karena lebih murah, lebih konsisten dalam kualitas, dan lebih mudah diperoleh dibandingkan kedelai lokal. Namun, ketergantungan ini bukanlah solusi jangka panjang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, pemerintah perlu melakukan berbagai langkah strategis, termasuk memperluas lahan tanam, meningkatkan produktivitas petani, serta mengatur tata niaga kedelai agar lebih berpihak pada petani lokal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika langkah-langkah ini dijalankan secara serius, maka suatu hari nanti, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada kedelai impor. <\/span><b>Pertanyaannya bukan lagi &#8220;apakah swasembada kedelai bisa dicapai?&#8221;, tetapi &#8220;kapan kita akan benar-benar mencapainya?&#8221;<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. (acank)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ppmindonesia.com. Jakarta&#8211; Indonesia adalah salah satu negara dengan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":11560,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"","footnotes":""},"categories":[208,36],"tags":[1057,1056,1058,1059],"newstopic":[],"class_list":["post-11559","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-nasional","tag-kedelai","tag-kedelai-import","tag-tahu","tag-tempe"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor? - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor? - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ppmindonesia.com. Jakarta&#8211; Indonesia adalah salah satu negara dengan...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-02-12T07:38:40+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-02-12T08:01:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"826\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"551\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\"},\"headline\":\"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor?\",\"datePublished\":\"2025-02-12T07:38:40+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-12T08:01:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/\"},\"wordCount\":944,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/kedelai.png\",\"keywords\":[\"kedelai\",\"kedelai import\",\"tahu\",\"tempe\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Nasional\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/\",\"name\":\"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor? - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/kedelai.png\",\"datePublished\":\"2025-02-12T07:38:40+00:00\",\"dateModified\":\"2025-02-12T08:01:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/kedelai.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/02\\\/kedelai.png\",\"width\":826,\"height\":551,\"caption\":\"gambar kedelai {foto freepik.com)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/02\\\/12\\\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor? - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor? - ppmindonesia","og_description":"ppmindonesia.com. Jakarta&#8211; Indonesia adalah salah satu negara dengan...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2025-02-12T07:38:40+00:00","article_modified_time":"2025-02-12T08:01:22+00:00","og_image":[{"width":826,"height":551,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png","type":"image\/png"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Redaksi","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c"},"headline":"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor?","datePublished":"2025-02-12T07:38:40+00:00","dateModified":"2025-02-12T08:01:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/"},"wordCount":944,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png","keywords":["kedelai","kedelai import","tahu","tempe"],"articleSection":["Berita","Nasional"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/","name":"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor? - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png","datePublished":"2025-02-12T07:38:40+00:00","dateModified":"2025-02-12T08:01:22+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png","width":826,"height":551,"caption":"gambar kedelai {foto freepik.com)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/02\/12\/sampai-kapan-indonesia-bergantung-pada-kedelai-impor\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png",826,551,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-80x80.png",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-180x130.png",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-350x220.png",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-700x400.png",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png",826,551,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png",826,551,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-200x133.png",200,133,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"ppmindonesia.com. Jakarta&#8211; Indonesia adalah salah satu negara dengan...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png",826,551,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png",826,551,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png",826,551,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-80x80.png",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-180x130.png",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-350x220.png",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-700x400.png",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png",826,551,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai.png",826,551,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/kedelai-200x133.png",200,133,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/berita\/\" rel=\"category tag\">Berita<\/a> <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/nasional\/\" rel=\"category tag\">Nasional<\/a>","rttpg_excerpt":"ppmindonesia.com. Jakarta&#8211; Indonesia adalah salah satu negara dengan...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11559","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11559"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11559\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":11566,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11559\/revisions\/11566"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11560"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11559"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11559"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11559"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=11559"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}