{"id":12942,"date":"2025-06-17T06:34:49","date_gmt":"2025-06-17T06:34:49","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=12942"},"modified":"2025-06-17T06:35:28","modified_gmt":"2025-06-17T06:35:28","slug":"paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/","title":{"rendered":"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>ppmindonesia.com.Jakarta<\/strong>&#8211; Dalam setiap krisis pangan global, kita kerap mengulang mantra lama: <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/\">petani<\/a> adalah pahlawan. Mereka penopang ketahanan pangan, garda terdepan penjaga perut bangsa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun di balik puja-puji itu, tersembunyi ironi yang mencolok\u2014petani justru menjadi golongan yang paling rentan, paling miskin, dan paling terlupakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB Indonesia masih signifikan, sekitar 12,8 persen per 2024. Tapi, data itu menipu jika tak dibaca lebih dalam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendapatan rumah tangga petani cenderung stagnan, bahkan menurun dalam beberapa tahun terakhir. Banyak petani tak lagi hidup dari hasil sawah, ladang, atau kebun mereka. Alih-alih sejahtera, mereka bergulat dengan kemiskinan struktural yang menahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ironi ini menggugah tanya: mengapa petani, yang memberi makan bangsa, justru hidup dalam ketidakpastian?<\/span><\/p>\n<p><b>Masalah Struktural<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Permasalahan petani Indonesia tidak semata soal cuaca buruk atau hama musiman. Akar masalahnya jauh lebih dalam: struktural, sistemik, dan politis. Luas lahan yang semakin sempit, mayoritas di bawah 0,5 hektare, membuat hasil produksi tak sebanding dengan biaya produksi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sisi lain, sistem distribusi dan tata niaga pertanian tak berpihak kepada petani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kartel pupuk dan benih, mafia tata niaga, serta rantai distribusi yang panjang menekan petani dari berbagai sisi. Petani membeli input produksi dengan harga tinggi, namun menjual hasil panen dengan harga rendah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah sistem yang timpang ini, para tengkulak, makelar, dan pengepul menikmati margin keuntungan terbesar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petani menjadi produsen tanpa kuasa. Mereka tidak menentukan harga, tidak memiliki akses langsung ke pasar, dan minim perlindungan dari fluktuasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan kebijakan subsidi yang digembar-gemborkan kerap tidak tepat sasaran, disalurkan tanpa transparansi, atau habis di jalan sebelum sampai ke petani.<\/span><\/p>\n<p><b>Regenerasi yang Mandek<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemiskinan petani adalah jerat yang tak hanya merugikan satu generasi, tapi juga membunuh harapan generasi berikutnya. Anak-anak petani, melihat penderitaan orang tuanya, enggan melanjutkan profesi itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di mata mereka, menjadi petani bukan hanya tak menjanjikan secara ekonomi, tetapi juga tak bergengsi secara sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak heran, jumlah petani muda terus menyusut. Rata-rata usia petani di Indonesia kini di atas 50 tahun. Regenerasi mandek. Jika tren ini dibiarkan, kita menghadapi bom waktu krisis pangan, bukan karena kekurangan lahan, melainkan karena kekurangan petani.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketahanan Pangan Butuh Keadilan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Negara tidak kekurangan program. Setiap pemerintahan datang dengan janji besar: kedaulatan pangan, swasembada beras, revolusi hijau, food estate.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun terlalu banyak kebijakan hanya berhenti di atas kertas, atau bahkan terjebak dalam logika korporatisasi dan industrialisasi pertanian yang justru menggeser petani kecil dari lahan mereka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petani tidak butuh retorika. Mereka butuh lahan yang aman dari spekulan. Butuh akses modal tanpa jerat utang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Butuh pendidikan dan teknologi yang aplikatif, bukan sekadar pilot project yang tak berkelanjutan. Mereka butuh keberpihakan nyata, bukan slogan musiman menjelang panen atau pemilu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keadilan agraria bukan sekadar wacana romantik, tapi prasyarat ketahanan pangan. Tanpa keberpihakan terhadap petani kecil, kedaulatan pangan hanya akan menjadi jargon kosong yang dibungkus dalam pidato.<\/span><\/p>\n<p><b>Membangun Ulang Narasi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah waktunya kita menggeser narasi pembangunan. Petani bukan sekadar obyek belas kasihan atau target program sosial. Mereka adalah pelaku utama ekonomi bangsa. Memberdayakan petani bukan hanya soal pangan, tetapi soal martabat, keberlanjutan, dan kemandirian nasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paradoks ini harus diakhiri. Petani tak boleh lagi menjadi pahlawan yang terluka, yang hidupnya dikorbankan demi kemakmuran orang lain. Keberhasilan bangsa tidak bisa berdiri di atas penderitaan mereka.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>Saatnya petani dihargai, bukan hanya dipuji<\/strong>.(acank)<\/span><\/p><\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ppmindonesia.com.Jakarta&#8211; Dalam setiap krisis pangan global, kita kerap&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":12943,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"Penulis ; acank | Editor ; asyary |","footnotes":""},"categories":[208,356],"tags":[1514,366,1461],"newstopic":[],"class_list":["post-12942","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-pertanian","tag-nasib-petani","tag-petani","tag-petani-miskin"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin? - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin? - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ppmindonesia.com.Jakarta&#8211; Dalam setiap krisis pangan global, kita kerap...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-06-17T06:34:49+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-06-17T06:35:28+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"630\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\"},\"headline\":\"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin?\",\"datePublished\":\"2025-06-17T06:34:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-17T06:35:28+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/\"},\"wordCount\":533,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/people-2-1.jpg\",\"keywords\":[\"nasib petani\",\"petani\",\"petani miskin\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Pertanian\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/\",\"name\":\"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin? - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/people-2-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-06-17T06:34:49+00:00\",\"dateModified\":\"2025-06-17T06:35:28+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/people-2-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/06\\\/people-2-1.jpg\",\"width\":1200,\"height\":630},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/06\\\/17\\\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin? - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin? - ppmindonesia","og_description":"ppmindonesia.com.Jakarta&#8211; Dalam setiap krisis pangan global, kita kerap...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2025-06-17T06:34:49+00:00","article_modified_time":"2025-06-17T06:35:28+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":630,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Redaksi","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c"},"headline":"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin?","datePublished":"2025-06-17T06:34:49+00:00","dateModified":"2025-06-17T06:35:28+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/"},"wordCount":533,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg","keywords":["nasib petani","petani","petani miskin"],"articleSection":["Berita","Pertanian"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/","name":"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin? - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg","datePublished":"2025-06-17T06:34:49+00:00","dateModified":"2025-06-17T06:35:28+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg","width":1200,"height":630},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/06\/17\/paradoks-pahlawan-pangan-mengapa-petani-tetap-miskin\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Paradoks Pahlawan Pangan: Mengapa Petani Tetap Miskin?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-200x105.jpg",200,105,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"ppmindonesia.com.Jakarta&#8211; Dalam setiap krisis pangan global, kita kerap...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg",1200,630,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg",1200,630,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/people-2-1-200x105.jpg",200,105,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/berita\/\" rel=\"category tag\">Berita<\/a> <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/pertanian\/\" rel=\"category tag\">Pertanian<\/a>","rttpg_excerpt":"ppmindonesia.com.Jakarta&#8211; Dalam setiap krisis pangan global, kita kerap...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12942","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12942"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12942\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12945,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12942\/revisions\/12945"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12943"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12942"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12942"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12942"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=12942"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}