{"id":13133,"date":"2025-07-02T04:21:33","date_gmt":"2025-07-02T04:21:33","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=13133"},"modified":"2025-07-02T04:22:22","modified_gmt":"2025-07-02T04:22:22","slug":"beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/","title":{"rendered":"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam"},"content":{"rendered":"<p><b>ppmindonesia.com<\/b><b>.Bogor<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">&#8211; <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/\">Indonesia<\/a> dikenal sebagai negeri religius. Rumah ibadah berdiri megah, kitab suci dibaca merdu, dan slogan-slogan spiritual terpasang di mana-mana. Namun, di tengah gegap gempita simbol-simbol keagamaan itu, kita menyaksikan kontradiksi yang mencolok: krisis kejujuran, korupsi merajalela, keadilan tak merata, dan empati yang kian tumpul.<\/span><\/p>\n<p><b>Masyarakatnya beragama, tapi tak bersungguh-sungguh.<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena ini bukan sekadar kelalaian individu, tetapi gejala sosial yang menunjukkan bagaimana kemunafikan telah menjelma menjadi budaya diam\u2014dilihat, dirasakan, namun dibiarkan. Semua tahu ada yang salah, tapi tak ada yang bicara. Semua hafal rukun iman, tapi lupa menerapkannya dalam hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iman yang Tak Mengakar dalam Tindakan<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam QS Al-Baqarah [2]:8-9, Allah mengungkap perilaku orang-orang yang mengaku beriman padahal tidak:<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u0648\u064e\u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0633\u0650 \u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u0651\u064e\u0642\u064f\u0648\u0652\u0644\u064f \u0627\u0670\u0645\u064e\u0646\u0651\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u064a\u064e\u0648\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0627\u0670\u062e\u0650\u0631\u0650 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0647\u064f\u0645\u0652 \u0628\u0650\u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e\u06d8 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0668<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u064a\u064f\u062e\u0670\u062f\u0650\u0639\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u064e \u0648\u064e\u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u0627\u0670\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0652\u0627\u06da \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u064a\u064e\u062e\u0652\u062f\u064e\u0639\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u0627\u0650\u0644\u0651\u064e\u0627\u0653 \u0627\u064e\u0646\u0652\u0641\u064f\u0633\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u064a\u064e\u0634\u0652\u0639\u064f\u0631\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e\u06d7 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0669<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDan di antara manusia ada yang berkata: &#8216;Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,&#8217; padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak sadar.\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayat ini menyentuh akar masalah kita hari ini. Kita terlalu sering menyamakan ucapan dengan iman, padahal iman yang sejati menuntut kesungguhan dalam amal dan konsistensi dalam kejujuran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika agama hanya menjadi bagian dari rutinitas formal\u2014tanpa kesungguhan moral, tanpa keberanian menegakkan kebenaran\u2014maka itu bukan keberagamaan, tapi hanya topeng identitas.<\/span><\/p>\n<p><b>Munafik: Bukan Sekadar Sifat Pribadi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rasulullah \ufdfa bersabda:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika diberi amanat ia berkhianat.\u201d (HR. Bukhari dan Muslim)<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ini, tiga ciri itu bukan hanya ditemukan pada individu, tapi telah merembes ke dalam struktur sosial dan budaya politik. Kita menyaksikan pemimpin yang ingkar janji, lembaga yang penuh dusta, dan publik yang acuh terhadap pengkhianatan amanah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang lebih mengkhawatirkan, sikap ini sudah dianggap biasa. Kemunafikan tidak lagi dianggap aib. Ia hanya dibisikkan, tak pernah disuarakan. Ia menjadi bagian dari budaya diam yang melembaga\u2014diam terhadap korupsi, terhadap ketidakadilan, terhadap kebohongan publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ali bin Abi Thalib pernah berkata:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u201cKebatilan yang terorganisir akan mengalahkan kebenaran yang tidak terorganisir.\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan lebih dari itu, kebenaran yang diam adalah kebenaran yang dikhianati.<\/span><\/p>\n<p><b>Beragama Tanpa Komitmen: Sebuah Bahaya<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di banyak ruang, agama hanya dipakai sebagai pelengkap pidato, hiasan baliho, atau alat legitimasi. Ia tidak lagi menjadi daya dorong perubahan moral. Ketika agama kehilangan roh perjuangannya, maka ia tak lagi mampu menggerakkan nurani umat. Agama menjadi bahan pertunjukan, bukan pembebasan.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u0648\u064e\u064a\u064e\u0642\u064f\u0648\u0652\u0644\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u0627\u0670\u0645\u064e\u0646\u0651\u064e\u0627 \u0628\u0650\u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0628\u0650\u0627\u0644\u0631\u0651\u064e\u0633\u064f\u0648\u0652\u0644\u0650 \u0648\u064e\u0627\u064e\u0637\u064e\u0639\u0652\u0646\u064e\u0627 \u062b\u064f\u0645\u0651\u064e \u064a\u064e\u062a\u064e\u0648\u064e\u0644\u0651\u0670\u0649 \u0641\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0642\u064c \u0645\u0651\u0650\u0646\u0652\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0645\u0651\u0650\u0646\u0652\u06e2 \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u0650 \u0630\u0670\u0644\u0650\u0643\u064e\u06d7 \u0648\u064e\u0645\u064e\u0627\u0653 \u0627\u064f\u0648\u0644\u0670\u06e4\u0649\u0655\u0650\u0643\u064e \u0628\u0650\u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0664\u0667<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u201cDan mereka mengatakan: &#8216;Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami menaati (keduanya).&#8217; Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, dan mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.\u201d (QS An-Nur [24]: 47)<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayat ini memberi isyarat penting: bahwa iman yang tidak konsisten dengan amal adalah bentuk pengingkaran yang nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka tidak heran jika bangsa ini terus terpuruk bukan karena krisis ekonomi semata, tetapi karena krisis kejujuran spiritual. Kita punya banyak orang beragama, tapi sedikit yang bersungguh-sungguh dalam menegakkan amanah agama.<\/span><\/p>\n<p><b>Diamnya Orang Baik, Bangkitnya Kezaliman<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita menyaksikan pula fenomena diamnya orang baik. Para pemuka agama enggan bicara lantang karena takut dianggap oposan. Aktivis kehilangan daya karena dibungkam atau dikriminalisasi. Masyarakat awam belajar untuk tidak peduli karena merasa semua sudah biasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, sebagaimana kata Martin Luther King Jr:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cThe ultimate tragedy is not the oppression and cruelty by the bad people but the silence over that by the good people.\u201d<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sinilah letak kemunafikan struktural: ketika sistem sosial membuat orang-orang saleh menjadi pasif, dan membiarkan yang salah terus berjalan.<\/span><\/p>\n<p><b>Saatnya Menjadi Umat yang Bersungguh-sungguh<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika umat ini ingin keluar dari krisis moral dan kejumudan sosial, maka langkah pertama adalah meninggalkan budaya kemunafikan diam-diam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita perlu menghidupkan kembali agama sebagai kekuatan etis dan spiritual, bukan hanya simbol dan seremonial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Allah telah memperingatkan:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">\u0627\u0650\u0646\u0651\u064e \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0646\u0670\u0641\u0650\u0642\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u0641\u0650\u0649 \u0627\u0644\u062f\u0651\u064e\u0631\u0652\u0643\u0650 \u0627\u0644\u0652\u0627\u064e\u0633\u0652\u0641\u064e\u0644\u0650 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0646\u0651\u064e\u0627\u0631\u0650\u06da \u0648\u064e\u0644\u064e\u0646\u0652 \u062a\u064e\u062c\u0650\u062f\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u0652 \u0646\u064e\u0635\u0650\u064a\u0652\u0631\u064b\u0627\u06d9 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0661\u0664\u0665<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u201cSesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(QS An-Nisa [4]: 145)<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menggugah kesadaran kolektif: bahwa keimanan yang tidak dilandasi kesungguhan, bukanlah cahaya, melainkan kegelapan yang menipu.<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangkitnya bangsa dimulai dari bangkitnya hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan hati yang hidup adalah hati yang jujur dalam iman, teguh dalam kebenaran, dan berani menolak kemunafikan\u2014baik yang disuarakan, maupun yang dibungkam oleh budaya diam.(husni fahro)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">* Husni Fahro; peminat kajian\u00a0 Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p><\/blockquote>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ppmindonesia.com.Bogor&#8211; Indonesia dikenal sebagai negeri religius. Rumah ibadah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":13134,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"Punulis : husni fahro| Edditor; asyary","footnotes":""},"categories":[208,1],"tags":[1599,465,1596,641],"newstopic":[],"class_list":["post-13133","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-hikmah","tag-bangsa-yang-munafik","tag-indonesia","tag-kemunafikan","tag-munafik"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ppmindonesia.com.Bogor&#8211; Indonesia dikenal sebagai negeri religius. Rumah ibadah...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-02T04:21:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-02T04:22:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"630\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\"},\"headline\":\"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam\",\"datePublished\":\"2025-07-02T04:21:33+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-02T04:22:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/\"},\"wordCount\":692,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/beragama-1.jpg\",\"keywords\":[\"bangsa yang munafik\",\"indonesia\",\"kemunafikan\",\"munafik\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Hikmah\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/\",\"name\":\"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/beragama-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-07-02T04:21:33+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-02T04:22:22+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/beragama-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/beragama-1.jpg\",\"width\":1200,\"height\":630},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/02\\\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam - ppmindonesia","og_description":"ppmindonesia.com.Bogor&#8211; Indonesia dikenal sebagai negeri religius. Rumah ibadah...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2025-07-02T04:21:33+00:00","article_modified_time":"2025-07-02T04:22:22+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":630,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Redaksi","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c"},"headline":"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam","datePublished":"2025-07-02T04:21:33+00:00","dateModified":"2025-07-02T04:22:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/"},"wordCount":692,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg","keywords":["bangsa yang munafik","indonesia","kemunafikan","munafik"],"articleSection":["Berita","Hikmah"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/","name":"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg","datePublished":"2025-07-02T04:21:33+00:00","dateModified":"2025-07-02T04:22:22+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg","width":1200,"height":630},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/02\/beragama-tapi-tak-bersungguh-sungguh-ketika-munafik-jadi-budaya-diam\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Beragama Tapi Tak Bersungguh-sungguh: Ketika Munafik Jadi Budaya Diam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-200x105.jpg",200,105,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"ppmindonesia.com.Bogor&#8211; Indonesia dikenal sebagai negeri religius. Rumah ibadah...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg",1200,630,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg",1200,630,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/beragama-1-200x105.jpg",200,105,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/berita\/\" rel=\"category tag\">Berita<\/a> <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/hikmah\/\" rel=\"category tag\">Hikmah<\/a>","rttpg_excerpt":"ppmindonesia.com.Bogor&#8211; Indonesia dikenal sebagai negeri religius. Rumah ibadah...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13133","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13133"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13133\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13136,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13133\/revisions\/13136"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13134"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13133"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13133"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13133"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=13133"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}