{"id":13186,"date":"2025-07-04T09:09:02","date_gmt":"2025-07-04T09:09:02","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=13186"},"modified":"2025-07-04T09:09:30","modified_gmt":"2025-07-04T09:09:30","slug":"menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/","title":{"rendered":"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital"},"content":{"rendered":"<p><strong>ppmindonesia.com<\/strong><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>.Jakarta<\/strong> &#8211; Di<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/\"> era digital<\/a> yang dipenuhi layar, notifikasi, dan algoritma personalisasi, kita hidup dalam masyarakat yang tampak lebih terkoneksi, namun secara spiritual justru semakin terputus. Salah satu gejala paling mencolok dari zaman ini adalah kultus ego, sebuah kondisi saat manusia bukan hanya menjadi pusat kehidupannya sendiri, tapi juga bertindak seolah-olah dirinya adalah otoritas tertinggi dalam segala hal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah \u201cmenjadi tuhannya sendiri\u201d mungkin terdengar berlebihan. Namun Al-Qur\u2019an sudah jauh hari memperingatkan bahwa ada manusia yang menjadikan egonya sebagai tuhan:<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u0627\u064e\u0631\u064e\u0621\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e \u0645\u064e\u0646\u0650 \u0627\u062a\u0651\u064e\u062e\u064e\u0630\u064e \u0627\u0650\u0644\u0670\u0647\u064e\u0647\u0657 \u0647\u064e\u0648\u0670\u0649\u0647\u064f\u06d7 \u0627\u064e\u0641\u064e\u0627\u064e\u0646\u0652\u062a\u064e \u062a\u064e\u0643\u064f\u0648\u0652\u0646\u064f \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0643\u0650\u064a\u0652\u0644\u064b\u0627\u06d9 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0664\u0663<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah kamu akan menjadi pelindungnya?\u201d (QS Al-Furqan: 43)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: right;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u0627\u064e\u0641\u064e\u0631\u064e\u0621\u064e\u064a\u0652\u062a\u064e \u0645\u064e\u0646\u0650 \u0627\u062a\u0651\u064e\u062e\u064e\u0630\u064e \u0627\u0650\u0644\u0670\u0647\u064e\u0647\u0657 \u0647\u064e\u0648\u0670\u0649\u0647\u064f \u0648\u064e\u0627\u064e\u0636\u064e\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u064f \u0639\u064e\u0644\u0670\u0649 \u0639\u0650\u0644\u0652\u0645\u064d \u0648\u0651\u064e\u062e\u064e\u062a\u064e\u0645\u064e \u0639\u064e\u0644\u0670\u0649 \u0633\u064e\u0645\u0652\u0639\u0650\u0647\u0656 \u0648\u064e\u0642\u064e\u0644\u0652\u0628\u0650\u0647\u0656 \u0648\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064e \u0639\u064e\u0644\u0670\u0649 \u0628\u064e\u0635\u064e\u0631\u0650\u0647\u0656 \u063a\u0650\u0634\u0670\u0648\u064e\u0629\u064b\u06d7 \u0641\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u064a\u0651\u064e\u0647\u0652\u062f\u0650\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0645\u0650\u0646\u0652\u06e2 \u0628\u064e\u0639\u0652\u062f\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u0650\u06d7 \u0627\u064e\u0641\u064e\u0644\u064e\u0627 \u062a\u064e\u0630\u064e\u0643\u0651\u064e\u0631\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0662\u0663<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kamu (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran?.\u201d (QS Al-Jatsiyah: 23)<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ayat-ayat ini mengisyaratkan sebuah fenomena spiritual berbahaya: ketika manusia bukan lagi menyembah Tuhan, tapi menyembah keinginannya sendiri, membenarkan semua yang ia rasakan, mengagungkan semua yang ia pikirkan, dan menolak semua yang tidak sesuai dengan selera pribadinya.<\/span><\/p>\n<p><b>Era Digital dan Ego yang Melejit<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Era digital menciptakan panggung besar untuk performa ego. Media sosial memfasilitasi ruang bagi siapa saja untuk menjadi pusat perhatian. Likes, views, dan followers menjadi indikator harga diri. Semua didesain untuk menumbuhkan kesan bahwa &#8220;aku penting, aku unik, aku harus didengar.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Psikolog sosial Jean Twenge dalam bukunya \u201cGeneration Me\u201d menyebut bahwa generasi digital cenderung mengalami peningkatan narsisme dan kesulitan menerima kritik. Ia menyebut ini sebagai efek dari \u201cpemujaan terhadap self-esteem yang tidak seimbang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, cendekiawan Muslim kontemporer, Prof. Tariq Ramadan, menyebut bahwa \u201cdalam dunia yang kehilangan pusat spiritual, manusia menciptakan pusatnya sendiri, dan biasanya yang dipilih adalah dirinya sendiri.\u201d<\/span><\/p>\n<p><b>Egoistik dan Penolakan terhadap Otoritas Moral<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gejala egoistik ini tidak berhenti di level pribadi. Ia menjelma menjadi penolakan terhadap otoritas moral\u2014baik agama, guru, orang tua, hingga ilmu. Semua yang tidak sesuai dengan narasi ego pribadi dianggap ketinggalan zaman, otoriter, bahkan toksik. Alhasil, otoritas wahyu pun kerap digeser oleh narasi \u201caku merasa\u201d, \u201caku berpendapat\u201d, atau \u201caku tidak cocok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, dalam Islam, posisi manusia adalah hamba, bukan pencipta hukum. Tuhan adalah pusat nilai, bukan ego manusia.<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u0648\u064e\u0645\u064e\u0627 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0644\u0650\u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u064d \u0648\u0651\u064e\u0644\u064e\u0627 \u0645\u064f\u0624\u0652\u0645\u0650\u0646\u064e\u0629\u064d \u0627\u0650\u0630\u064e\u0627 \u0642\u064e\u0636\u064e\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u064f \u0648\u064e\u0631\u064e\u0633\u064f\u0648\u0652\u0644\u064f\u0647\u0657\u0653 \u0627\u064e\u0645\u0652\u0631\u064b\u0627 \u0627\u064e\u0646\u0652 \u064a\u0651\u064e\u0643\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u0644\u064e\u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0652\u062e\u0650\u064a\u064e\u0631\u064e\u0629\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0627\u064e\u0645\u0652\u0631\u0650\u0647\u0650\u0645\u0652\u06d7\u2026\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0663\u0666<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u201cDan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan dalam urusan mereka.\u201d (QS Al-Ahzab: 36)<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, ayat ini semakin tidak populer dalam lanskap kejiwaan digital yang menempatkan pilihan personal di atas perintah ilahi.<\/span><\/p>\n<p><b>Konsekuensi Spiritual: Keterasingan dan Kegelisahan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika ego menjadi tuhan, manusia kehilangan arah. Karena ego tak punya kompas moral. Ia hanya tahu apa yang menyenangkan, bukan apa yang menyelamatkan. Maka tak heran jika dunia digital yang tampak gemerlap justru menghasilkan gelombang kesepian, kecemasan, dan depresi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Al-Qur\u2019an menggambarkan keadaan orang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang \u201ctersesat meskipun mengetahui\u201d (QS 45:23). Ini adalah kondisi tragis: tahu kebenaran tapi menolaknya karena terlalu cinta pada diri sendiri.<\/span><\/p>\n<p><b>Mengembalikan Posisi Tuhan dalam Hidup<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Islam mengajarkan keseimbangan antara martabat manusia dan pengakuan akan keterbatasannya. Kita diajarkan untuk mengenal diri, tapi juga menyadari bahwa diri bukanlah pusat kebenaran. Seorang Muslim sejati tidak menjadikan hawa nafsu sebagai hakim tertinggi, tapi menundukkannya kepada wahyu dan akal sehat.<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u0642\u064e\u062f\u0652 \u0627\u064e\u0641\u0652\u0644\u064e\u062d\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u0632\u064e\u0643\u0651\u0670\u0649\u0647\u064e\u0627\u06d6 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0669<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u0648\u064e\u0642\u064e\u062f\u0652 \u062e\u064e\u0627\u0628\u064e \u0645\u064e\u0646\u0652 \u062f\u064e\u0633\u0651\u0670\u0649\u0647\u064e\u0627\u06d7 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0661\u0660<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotorinya.\u201d (QS Asy-Syams: 9\u201310)<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Imam Al-Ghazali dalam Ihya\u2019 Ulumuddin menegaskan bahwa perang terbesar manusia bukan melawan orang lain, tapi melawan egonya sendiri. Ini adalah jihad akbar\u2014peperangan batin melawan keinginan untuk menjadi pusat segalanya.<\/span><\/p>\n<p><b>Dari Pusat Diri Menuju Pusat Tuhan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika manusia hari ini ingin lepas dari kegelisahan dan keterasingan spiritual, maka satu hal harus dilakukan: turunkan ego dari singgasananya dan kembalikan Tuhan ke pusat kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak semua yang kita rasa benar adalah kebenaran. Tidak semua yang menyakitkan adalah kesalahan. Sering kali, justru dalam kritik, keterbatasan, dan kesadaran akan dosa, kita menemukan jalan kembali kepada Tuhan.<\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: right;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u064a\u064e\u0633\u0652\u062a\u064e\u0645\u0650\u0639\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0642\u064e\u0648\u0652\u0644\u064e \u0641\u064e\u064a\u064e\u062a\u0651\u064e\u0628\u0650\u0639\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e \u0627\u064e\u062d\u0652\u0633\u064e\u0646\u064e\u0647\u0657\u06d7 \u0627\u064f\u0648\u0644\u0670\u06e4\u0649\u0655\u0650\u0643\u064e \u0627\u0644\u0651\u064e\u0630\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u0647\u064e\u062f\u0670\u0649\u0647\u064f\u0645\u064f \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u064f \u0648\u064e\u0627\u064f\u0648\u0644\u0670\u06e4\u0649\u0655\u0650\u0643\u064e \u0647\u064f\u0645\u0652 \u0627\u064f\u0648\u0644\u064f\u0648\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0627\u064e\u0644\u0652\u0628\u064e\u0627\u0628\u0650 <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u06dd\u0661\u0668<\/span><\/p>\n<\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u201cMereka yang diberi petunjuk adalah mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik darinya.\u201d (QS Az-Zumar: 18)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saatnya berhenti menjadi tuhannya sendiri. Karena hanya ketika kita kembali menjadi hamba, kita akan menemukan kedamaian sejati.(acank)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ppmindonesia.com.Jakarta &#8211; Di era digital yang dipenuhi layar,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":13187,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"Penulis ; acank | Editor ; asyary |","footnotes":""},"categories":[208,1],"tags":[1574,1391,1616],"newstopic":[],"class_list":["post-13186","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-hikmah","tag-ego","tag-era-digital","tag-generasi-dgital"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.7 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ppmindonesia.com.Jakarta &#8211; Di era digital yang dipenuhi layar,...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-04T09:09:02+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-04T09:09:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"630\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\"},\"headline\":\"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital\",\"datePublished\":\"2025-07-04T09:09:02+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-04T09:09:30+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/\"},\"wordCount\":674,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/egoist-1.jpg\",\"keywords\":[\"ego\",\"era digital\",\"generasi dgital\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Hikmah\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/\",\"name\":\"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/egoist-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-07-04T09:09:02+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-04T09:09:30+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/egoist-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/egoist-1.jpg\",\"width\":1200,\"height\":630},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/04\\\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital - ppmindonesia","og_description":"ppmindonesia.com.Jakarta &#8211; Di era digital yang dipenuhi layar,...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2025-07-04T09:09:02+00:00","article_modified_time":"2025-07-04T09:09:30+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":630,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Redaksi","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c"},"headline":"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital","datePublished":"2025-07-04T09:09:02+00:00","dateModified":"2025-07-04T09:09:30+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/"},"wordCount":674,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg","keywords":["ego","era digital","generasi dgital"],"articleSection":["Berita","Hikmah"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/","name":"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg","datePublished":"2025-07-04T09:09:02+00:00","dateModified":"2025-07-04T09:09:30+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg","width":1200,"height":630},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/04\/menjadi-tuhannya-sendiri-fenomena-egoistik-di-era-digital\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-200x105.jpg",200,105,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"ppmindonesia.com.Jakarta &#8211; Di era digital yang dipenuhi layar,...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg",1200,630,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg",1200,630,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/egoist-1-200x105.jpg",200,105,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/berita\/\" rel=\"category tag\">Berita<\/a> <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/hikmah\/\" rel=\"category tag\">Hikmah<\/a>","rttpg_excerpt":"ppmindonesia.com.Jakarta &#8211; Di era digital yang dipenuhi layar,...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13186","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13186"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13186\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13189,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13186\/revisions\/13189"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13187"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13186"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13186"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13186"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=13186"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}