{"id":13289,"date":"2025-07-09T04:54:41","date_gmt":"2025-07-09T04:54:41","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=13289"},"modified":"2025-07-09T04:55:09","modified_gmt":"2025-07-09T04:55:09","slug":"budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/","title":{"rendered":"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah"},"content":{"rendered":"<p><b>ppmindonesia.com.Riau<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u2014 Di bawah langit pagi yang cerah, sejumlah santri tampak tekun membolak-balik timbunan sampah organik bercampur cacing di sebuah kebun di Riau. Tangan mereka penuh tanah hitam yang lembut, namun wajah mereka berbinar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ahad, 6 Juli 2025 lalu, Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA) menggelar workshop bertajuk \u201cMengelola Sampah dan Budidaya Cacing\u201d. Acara ini dipandu langsung oleh Guntoro Soewarno,Ketua\u00a0 IPAMA, sekaligus penggagas gerakan pertanian organik di berbagai daerah dengan nama <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/\">Ali Organic Farm<\/a> (ALO FARM) .<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diikuti oleh perwakilan dari tujuh pesantren se-Riau, pelatihan itu menawarkan cara sederhana namun efektif untuk merawat bumi: memanfaatkan sampah menjadi kompos, dan membudidayakan cacing tanah untuk memperbaiki kualitas tanah sekaligus sumber ekonomi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDi tengah dominasi pertanian berbasis kimia yang merusak tanah, kami memilih jalan kembali ke cara alami, organik, dan berkelanjutan,\u201d ujar Guntoro. \u201cBagi kami, ini bukan hanya pilihan ekonomi, tetapi wujud nyata tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh\u2014pemakmur bumi, sebagaimana amanah Al-Qur\u2019an.\u201d<\/span><\/p>\n<p><b>Tanah yang Lelah<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Krisis tanah bukan isapan jempol. Data Kementerian Pertanian (2023) menunjukkan lebih dari 70 persen lahan pertanian Indonesia mengalami degradasi akibat pemakaian pupuk dan pestisida kimia. Sementara itu, KLHK (2022) mencatat sekitar 3,5 juta ton pestisida sintetis mencemari air tanah setiap tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam pelatihan itu, Guntoro menjelaskan bahwa lahan seluas 300 meter persegi dengan budidaya cacing bisa menghasilkan Rp8\u201315 juta per bulan. \u201cIni bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga membuka jalan kemandirian ekonomi bagi pesantren,\u201d tegasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para peserta belajar membuat kompos dari sampah organik, memelihara cacing sebagai penghasil kascing (kotoran cacing yang subur sebagai pupuk), dan memanfaatkan lahan pesantren yang sebelumnya terbengkalai.<\/span><\/p>\n<p><b>Warisan Nabi, Jalan Pesantren<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jauh sebelum istilah \u201corganik\u201d dikenal, Nabi Muhammad SAW sudah memberi teladan. Dalam satu riwayat, Rasulullah melarang mencela tanah (HR Muslim), menganjurkan bercocok tanam meski kiamat sudah dekat (HR Bukhari), dan mempraktikkan kebun alami di Madinah tanpa bahan kimia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPara ulama klasik seperti Ibnu Aqil dan Al-Ghazali pun mengingatkan: merawat tanah adalah bagian dari ibadah,\u201d ujar Guntoro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kini, gerakan itu mulai merambah pesantren. Lahan pesantren yang dulu kosong disulap menjadi kebun produktif, sampah dikelola menjadi kompos, dan cacing-cacing tanah menjadi mitra sunyi yang memberi kehidupan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami ingin umat Islam menjadi pelopor pertanian berkelanjutan,\u201d ungkap salah seorang peserta workshop dengan nada penuh harap.<\/span><\/p>\n<p><b>Bukan Sekadar Retorika<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah krisis iklim dan ekologi global, pesantren-pesantren di Riau memberi teladan: perubahan dimulai dari tangan sendiri, dari tanah sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barangkali sudah waktunya umat Islam memimpin bukan hanya dengan khutbah dan retorika, melainkan dengan cangkul, kompos, dan cacing di tangan. Sebab, menjaga bumi bukan pilihan, tetapi amanah yang melekat pada setiap khalifah fil ardh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana pesan seorang petani tua yang pernah dikutip Guntoro: \u201cTanah yang kita rusak hari ini adalah air mata anak cucu kita esok.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan di kebun kecil pesantren-pesantren itu, setidaknya kita belajar: bahwa bumi yang sehat bukan hanya diwariskan, tetapi juga diperjuangkan.(acank)<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ppmindonesia.com.Riau\u2014 Di bawah langit pagi yang cerah, sejumlah&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":13291,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"Penulis ; acank | Editor ; asyary |","footnotes":""},"categories":[36],"tags":[1636,1634,1632,1633],"newstopic":[],"class_list":["post-13289","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-ali-oorganic-farm","tag-budidaya-cacing","tag-pengelolaan-sampah","tag-workshop-ipama"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ppmindonesia.com.Riau\u2014 Di bawah langit pagi yang cerah, sejumlah...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-07-09T04:54:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-07-09T04:55:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"630\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\"},\"headline\":\"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah\",\"datePublished\":\"2025-07-09T04:54:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-09T04:55:09+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/\"},\"wordCount\":461,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/sampah-1.jpg\",\"keywords\":[\"ali Oorganic farm\",\"budidaya cacing\",\"pengelolaan sampah\",\"workshop ipama\"],\"articleSection\":[\"Nasional\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/\",\"name\":\"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/sampah-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-07-09T04:54:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-07-09T04:55:09+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/sampah-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/07\\\/sampah-1.jpg\",\"width\":1200,\"height\":630,\"caption\":\"Saat ilmu bertemu aksi! Ahad lalu (6\\\/7), perwakilan dari 7 pesantren se-Riau tidak ragu untuk 'kotor' demi belajar mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai. Dipandu oleh Bapak Guntoro Soewarno (doc.ipama)\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/07\\\/09\\\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah - ppmindonesia","og_description":"ppmindonesia.com.Riau\u2014 Di bawah langit pagi yang cerah, sejumlah...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2025-07-09T04:54:41+00:00","article_modified_time":"2025-07-09T04:55:09+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":630,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Redaksi","Est. reading time":"3 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c"},"headline":"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah","datePublished":"2025-07-09T04:54:41+00:00","dateModified":"2025-07-09T04:55:09+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/"},"wordCount":461,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg","keywords":["ali Oorganic farm","budidaya cacing","pengelolaan sampah","workshop ipama"],"articleSection":["Nasional"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/","name":"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg","datePublished":"2025-07-09T04:54:41+00:00","dateModified":"2025-07-09T04:55:09+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg","width":1200,"height":630,"caption":"Saat ilmu bertemu aksi! Ahad lalu (6\/7), perwakilan dari 7 pesantren se-Riau tidak ragu untuk 'kotor' demi belajar mengelola sampah menjadi sesuatu yang bernilai. Dipandu oleh Bapak Guntoro Soewarno (doc.ipama)"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/07\/09\/budidaya-cacing-dan-sampah-pesantren-menjawab-krisis-tanah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Budidaya Cacing dan Sampah: Pesantren Menjawab Krisis Tanah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-200x105.jpg",200,105,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"ppmindonesia.com.Riau\u2014 Di bawah langit pagi yang cerah, sejumlah...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg",1200,630,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg",1200,630,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/07\/sampah-1-200x105.jpg",200,105,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/nasional\/\" rel=\"category tag\">Nasional<\/a>","rttpg_excerpt":"ppmindonesia.com.Riau\u2014 Di bawah langit pagi yang cerah, sejumlah...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13289","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13289"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13289\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13293,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13289\/revisions\/13293"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13291"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13289"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13289"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13289"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=13289"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}