{"id":14977,"date":"2025-10-12T10:15:04","date_gmt":"2025-10-12T10:15:04","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=14977"},"modified":"2025-10-12T11:45:31","modified_gmt":"2025-10-12T11:45:31","slug":"sukarno","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/","title":{"rendered":"Sukarno"},"content":{"rendered":"<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\">Sukarno<br \/>\nOleh: *Ali Musatafa Trajutisna<\/p>\n<\/blockquote>\n<p>Siang itu udara terasa berat. Angin berputar seperti orang mabuk, mengibaskan debu dan jelaga kendaraan ke mana-mana. Sri pulang sebelum lohor. Ia ingin menuntaskan laporan penelitian tentang naskah-naskah tua koleksi Pustaka Pura Paku Alaman.<\/p>\n<p>Sudah tiga bulan ia bergelut dengan kitab-kitab berwarna kuning kelabu itu, sampai paru-parunya terasa mampat, napasnya pendek-pendek, dan batuk kecil tak mau pergi.<br \/>\nSuaminya, H. Sukarno, B.A., justru senang bila Sri mendendangkan gending Jawi ketika menyalin teks. Padahal bagi Sri, nada-nada itu hanya menambah sakit di kepala.<\/p>\n<p>Begitu mobilnya berhenti di depan rumah, Karno sudah berdiri di pagar. Tangannya menenteng map biru bertuliskan spidol tebal: Nero van Java \u2014 Prof. Dr. Sri Martani Sukarno.<br \/>\nSri tahu, badai kecil akan segera tiba.<\/p>\n<p>Ia turun, menunduk, mencium tangan suaminya dengan takdzim. Tapi Karno tak membalas. Ia menatap Sri waspada, seperti penjaga yang menduga akan ada pelanggaran.<\/p>\n<p>\u201cSekedap, nggih, Kangmas,\u201d ucap Sri pelan. \u201cShalat dulu.\u201d<br \/>\n\u201cKita bicara dulu!\u201d<br \/>\nSri menatapnya. \u201cAda apa?\u201d<br \/>\n\u201cKau tahu maksudku.\u201d<br \/>\nTanpa menunggu jawaban, Karno meletakkan map biru itu di meja tamu dengan hentakan.<br \/>\n\u201cUntuk apa kamu ungkit sejarah yang bisa menimbulkan fitnah! Hanya membuat umat dan kraton saling curiga!\u201d<br \/>\n\u201cLho, dos pundi tho? Ada datanya kok.\u201d<br \/>\n\u201cAku sudah baca! Itu sumber Belanda, kan?\u201d<br \/>\n\u201cIya. Tapi\u2014\u201d<br \/>\n\u201cPenjajah sampai dunia kiamat jangan dipercaya!\u201d<\/p>\n<p>Sri menarik napas dalam. \u201cKangmas, saya bekerja berdasar kaidah ilmiah. Tugas sejarawan adalah menelusuri konteks masa lalu dan dampaknya hari ini. Sejak Sultan Agung hingga raja-raja sekarang, semua bergelar Sayidin Panata Gama Kalifatullah, kecuali Amangkurat I. Bukankah menarik jika kita telusuri kenapa?\u201d<br \/>\n\u201cCukup!\u201d potong Karno. \u201cAku mau ngajar!\u201d<\/p>\n<p>Ia bergegas keluar, meninggalkan Sri duduk di sofa, menatap map biru itu lama-lama. Suaminya memang lelaki yang telaten dan bertanggung jawab\u2014rapi mengatur uang rumah tangga, disiplin menunaikan shalat berjamaah, bahkan selalu hormat bendera sebelum berangkat kerja. Bagi Karno, Garuda dan Merah Putih adalah lambang suci, tak boleh dijadikan bahan olok atau tulisan ilmiah.<\/p>\n<p>Sri pernah menulis esai tentang kebiasaan itu dan dimuat di jurnal luar negeri. Ia menganalisisnya dari sudut pandang sejarah kebudayaan Denys Lombard. Tapi begitu tahu, Karno memaksanya hormat bendera tiga kali dan mencium Merah Putih tiga kali.<br \/>\nSejak itu Sri hanya bisa tersenyum getir setiap kali mengenangnya.<\/p>\n<p>Mereka tumbuh di desa yang sama, di lereng perbukitan Kulon Progo. Sejak SD hingga SMA duduk di sekolah yang sama. Karno dua tahun lebih tua, dan selalu menjadi pelindungnya: membonceng Sri ke sekolah, mengajari naik sepeda, bahkan membela jika ada yang mengganggu.<\/p>\n<p>Setelah SMA, Karno kuliah di Jurusan Sejarah Yogyakarta. Sri sempat berhenti setahun karena tak ada biaya, hingga Karno datang menemui ibunya.<br \/>\n\u201cmBok, saya kuliah ini hanya banda keberanian,\u201d katanya lirih.<br \/>\nIbunya Sri memandang Karno lama, lalu berkata pelan, \u201cBawalah Sri ke Yogya. Aku titipkan.\u201d<\/p>\n<p>Sejak itu mereka hidup berdekatan, tapi tetap terpisah. Masing-masing menempati kamar kecil di dekat Kali Code. Suatu sore Karno datang membawa lamaran.<br \/>\n\u201cDengan hidup bersama, kita bisa lebih hemat,\u201d katanya.<br \/>\nSri terdiam. Di kepalanya, angin sungai seperti berdesir membawa kabar dari masa depan.<\/p>\n<p>Ia menunduk, bingung antara malu dan bahagia.<br \/>\n\u201cDik Sri tetap kuliah,\u201d kata Karno lagi. \u201cAku yang akan bekerja.\u201d<br \/>\n\u201cTapi Mas tidak kuliah?\u201d<br \/>\n\u201cNanti, setelah mapan.\u201d<br \/>\nSri menatapnya. \u201cTidak! Mas harus terus kuliah. Aku yang akan bekerja.\u201d<\/p>\n<p>Butuh waktu tiga bulan untuk meyakinkan Sri, hingga akhirnya mereka menikah. Karno benar-benar berhenti kuliah, bekerja sebagai guru sejarah di Prambanan. Sri justru melesat: lulus summa cum laude, lalu mendapat beasiswa ke Sorbonne.<br \/>\nTiga tahun di Paris, ia meraih gelar doktor. Ia melahirkan anak kedua di sana\u2014Rani\u2014yang disebut suaminya Noviantini Maharani.<br \/>\nSepulang dari Eropa, Sri menjadi profesor sejarah di kampus ternama. Di papan nama rumah dinasnya tertulis:<br \/>\nH. Sukarno, B.A.<\/p>\n<p>Di Lasem, angin laut berbau asin. Sri berdiri di tepi pantai, menatap jauh ke utara. Ia sedang meneliti kembali jejak ekspedisi Cheng Ho. Catatannya menyebutkan bahwa banyak peranakan Tionghoa yang menjadi bagian penting gelombang Islamisasi awal.<br \/>\nKetika Karno tahu, ia marah besar.<br \/>\n\u201cTidak penting itu benar atau tidak! Tidak pantas dikatakan kita jadi muslim karena orang Cina!\u201d<br \/>\n\u201cTapi ada bukti sejarah, Kangmas. Banyak wali keturunan Cina.\u201d<br \/>\n\u201cJangan bawa-bawa Cina! Islam itu dari Arab!\u201d<br \/>\nSri menghela napas. \u201cYang bicara ini Sri, sejarawan. Bukan sekadar istrimu.\u201d<br \/>\n\u201cJustru karena kau istriku, aku mengingatkan: jangan sampai ilmumu menodai iman!\u201d<\/p>\n<p>Langit Lasem meredup. Ombak pecah di batu-batu, membawa gema yang panjang. Di bawah cahaya senja, Sri tahu betapa sulitnya menjadi ilmuwan perempuan di hadapan suami yang memuja kesakralan tradisi.<\/p>\n<p>Beberapa tahun kemudian, di Paris, salju tipis memutih di atap-atap kota. Sri datang menghadiri pemakaman Madame Ren\u00e9\u2014istri dosennya dulu. Di antara hadirin, hanya Sri yang menangis. Setelah upacara selesai, seorang kolega lamanya, Profesor Donny Raphael, mengantarnya pulang.<br \/>\nSampai di depan kamar hotel, Donny menatapnya lama.<br \/>\n\u201cI have to kiss you,\u201d katanya pelan.<br \/>\nSri mundur, tapi tubuhnya terpojok.<br \/>\n\u201cPlease, Don\u2019t\u2014\u201d<br \/>\nTerlambat. Ciuman panas itu datang seperti badai. Sri menepis, menggigit bibir Donny, lalu menamparnya keras.<br \/>\n\u201cHow dare you!\u201d<br \/>\nPintu dibanting. Sri jatuh di kursi, menggigil.<br \/>\nIa menatap langit-langit kamar yang putih dingin, lalu berbisik lirih, \u201cDuh, Kangmas\u2026 aku tetap istrimu, tapi aku juga seorang ilmuwan. Keduanya tak mungkin kupisahkan selamanya.\u201d<\/p>\n<p>Sekembalinya dari Paris, tubuh Sri melemah. Ia dirawat di rumah sakit. Ketika Profesor Sumarti, sahabatnya, menjenguk, Sri berbicara pelan:<br \/>\n\u201cSum, aku sudah putuskan. Aku harus berdiri sebagai ilmuwan, bukan sekadar istri.\u201d<br \/>\nSumarti menatapnya tajam. \u201cUntuk apa, Sri? Kau mau melawan suamimu?\u201d<br \/>\n\u201cBukan melawan. Tapi menegakkan kebenaran ilmiah. Sejarah bukan kitab suci.\u201d<br \/>\n\u201cDan harga yang kau bayar?\u201d<br \/>\nSri tersenyum tipis. \u201cAdalah diriku sendiri.\u201d<\/p>\n<p>Lampu rumah sakit berkedip. Di luar jendela, senja jatuh di balik Gunung Merapi\u2014seakan ikut menyaksikan seorang perempuan yang memilih berdiri di antara cinta dan kebenaran, di antara suami dan sejarah.<\/p>\n<p>Hari-hari Sri di rumah sakit seperti lembar-lembar kertas yang perlahan pudar. Tubuhnya melemah, tapi pikirannya tetap tajam. Setiap pagi ia menulis di buku catatan kecil, menandai tanggal dan menulis kalimat singkat:<br \/>\n\u201cSejarah adalah ingatan manusia terhadap dirinya sendiri. Siapa yang takut pada sejarah, sesungguhnya takut pada bayangannya.\u201d<\/p>\n<p>Karno datang setiap sore, membawa buah tangan: jambu, pisang, atau majalah agama. Ia duduk di tepi ranjang, diam. Kadang hanya membaca ayat-ayat pendek, lalu menatap istrinya dengan mata yang penuh sayang tapi juga letih.<br \/>\n\u201cKau masih menulis?\u201d tanyanya suatu kali.<br \/>\nSri tersenyum lemah. \u201cMenulis itu seperti bernapas, Kangmas. Kalau berhenti, aku mati.\u201d<br \/>\nKarno menunduk, memegang tangan istrinya yang dingin. \u201cTapi jangan sampai tulisanmu memisahkan kita.\u201d<br \/>\n\u201cYang memisahkan kita bukan tulisan,\u201d bisik Sri, \u201ctapi dinding di kepalamu.\u201d<\/p>\n<p>Beberapa bulan kemudian, Sri wafat.<br \/>\nIa dimakamkan di pemakaman kecil di dekat kampus, di antara pohon flamboyan yang sedang berbunga merah menyala. Banyak dosen dan mahasiswa datang. Karno berdiri paling depan, tubuhnya tegak seperti patung, matanya kering.<br \/>\nDi nisan marmer putih tertulis:<\/p>\n<p>Prof. Dr. Sri Martani Sukarno (1953\u20132004)<br \/>\n\u201cIlmu adalah jalan pulang menuju cahaya.\u201d<\/p>\n<p>Setelah semua pulang, Karno duduk lama di tepi makam. Ia membuka map lusuh yang selama ini disimpannya diam-diam. Di dalamnya ada surat Sri, tertulis dengan tinta biru lembut:<\/p>\n<p>\u201cKangmas,<br \/>\nJika suatu saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tak ada.<br \/>\nAku tahu cintamu besar, tapi cintamu pada ketertiban lebih besar dari cintamu pada kebenaran.<br \/>\nAku tidak ingin melawanmu. Aku hanya ingin menulis apa adanya.<br \/>\nBukankah Rasul pernah bersabda, \u2018Tinta ulama lebih mulia daripada darah syuhada?\u2019<br \/>\nMaka biarkan tintaku mengalir, meski mungkin meneteskan air matamu.\u201d<\/p>\n<p>Karno menutup map itu, menatap langit sore yang mulai jingga.<br \/>\n\u201cMaafkan aku, Sri,\u201d bisiknya lirih. \u201cAku tak pernah mengerti betapa sunyi perjuanganmu.\u201d<\/p>\n<p>Beberapa tahun berlalu.<br \/>\nNama Sri semakin dikenal di kalangan akademisi. Tulisan-tulisannya tentang sejarah Nusantara, Islam Jawa, dan kolonialisme menjadi rujukan banyak penelitian. Mahasiswa dari berbagai negara datang ke Yogyakarta hanya untuk membaca karyanya.<\/p>\n<p>Suatu siang, seorang dosen muda bernama Maryati mengunjungi rumah Karno. Ia datang membawa naskah tebal bertanda tangan penerbit internasional.<br \/>\n\u201cPak, kami akan menerbitkan karya lengkap Ibu Sri dalam versi bahasa Inggris. Judulnya \u2018The Forgotten Queen of Java\u2019.\u201d<br \/>\nKarno menatap Maryati lama. \u201cKau muridnya?\u201d<br \/>\n\u201cSaya asisten beliau dulu, Pak. Ibu selalu berkata, sejarah harus ditulis tanpa takut pada siapa pun.\u201d<\/p>\n<p>Karno terdiam. Ia berjalan ke ruang tengah, menatap foto istrinya di dinding: Sri dengan toga hitam, wajahnya tegas tapi lembut.<br \/>\nIa mengelus bingkai itu perlahan.<br \/>\n\u201cWaktu hidup, aku selalu ingin menundukkanmu, Sri. Sekarang aku tahu, yang seharusnya tunduk itu aku\u2014pada kebenaran yang kau perjuangkan.\u201d<\/p>\n<p>Maryati menunduk hormat. \u201cIbu pernah berkata, Bapak adalah inspirasinya menulis tentang cinta dan sejarah.\u201d<br \/>\nKarno tersenyum samar. \u201cIa salah satu dari sedikit orang yang berani mencintai tanpa takut kehilangan dirinya sendiri.\u201d<\/p>\n<p>Malam itu, Karno menulis di buku hariannya\u2014untuk pertama kali setelah sekian tahun:<\/p>\n<p>\u201cAku mengerti kini.<br \/>\nSejarah bukan sekadar nama dan tahun.<br \/>\nIa adalah perjuangan untuk mengingat.<br \/>\nDan Sri&#8230; engkau mengingatkan aku bahwa cinta sejati bukanlah menuntut kesamaan,<br \/>\ntapi keberanian untuk saling menanggung perbedaan.\u201d<\/p>\n<p>Ia menutup buku itu, menatap langit malam yang bersih.<br \/>\nDi luar, suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan. Dalam hati, ia tahu\u2014Sri belum benar-benar pergi. Ia hidup di antara kata-kata yang ditulisnya, di antara kalimat yang tak sempat selesai.<br \/>\nDan di dalam dirinya, Karno akhirnya menemukan kedamaian yang selama ini tak mampu ia pahami.<\/p>\n<p>Tamat<\/p>\n<blockquote><p><strong>*Ali Mustofa Trajutisna (AMT),<\/strong> tokoh sentral dan anggota dewan direktur pada periode pertama Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) tahun 1985 &#8211; 1989, dikenal sebagai sosok visioner dan penuh dedikasi.<\/p>\n<p>Peran dan dedikasinya dalam mengembangkan serta menjalankan roda organisasi PPM sangatlah signifikan. Ia telah meninggalkan warisan yang tak ternilai dalam perjuangan PPM untuk beradaptasi dan tetap relevan di tengah perubahan peradaban yang cepat. Kontribusinya menjadikan beliau tokoh kunci dalam pondasi awal dan pertumbuhan PPM.<\/p><\/blockquote>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sukarno Oleh: *Ali Musatafa Trajutisna Siang itu udara&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":14978,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"Penulis: ali mustafa trajutisna","footnotes":""},"categories":[208,211],"tags":[2253,2255,2254],"newstopic":[],"class_list":["post-14977","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-puisi-dan-sastra","tag-ali-mustafa-trajutisna","tag-cerita-pendek","tag-sukarno"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Sukarno - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sukarno - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sukarno Oleh: *Ali Musatafa Trajutisna Siang itu udara...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-12T10:15:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-10-12T11:45:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1200\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"630\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Redaksi\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Redaksi\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Redaksi\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\"},\"headline\":\"Sukarno\",\"datePublished\":\"2025-10-12T10:15:04+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-12T11:45:31+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/\"},\"wordCount\":1547,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/prof-sukarno-1.jpg\",\"keywords\":[\"ali mustafa trajutisna\",\"cerita pendek\",\"sukarno\"],\"articleSection\":[\"Berita\",\"Puisi dan Sastra\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/\",\"name\":\"Sukarno - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/prof-sukarno-1.jpg\",\"datePublished\":\"2025-10-12T10:15:04+00:00\",\"dateModified\":\"2025-10-12T11:45:31+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/prof-sukarno-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2025\\\/10\\\/prof-sukarno-1.jpg\",\"width\":1200,\"height\":630},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2025\\\/10\\\/12\\\/sukarno\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sukarno\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c\",\"name\":\"Redaksi\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Redaksi\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/redaksi\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sukarno - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sukarno - ppmindonesia","og_description":"Sukarno Oleh: *Ali Musatafa Trajutisna Siang itu udara...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2025-10-12T10:15:04+00:00","article_modified_time":"2025-10-12T11:45:31+00:00","og_image":[{"width":1200,"height":630,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Redaksi","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Redaksi","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/"},"author":{"name":"Redaksi","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c"},"headline":"Sukarno","datePublished":"2025-10-12T10:15:04+00:00","dateModified":"2025-10-12T11:45:31+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/"},"wordCount":1547,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg","keywords":["ali mustafa trajutisna","cerita pendek","sukarno"],"articleSection":["Berita","Puisi dan Sastra"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/","name":"Sukarno - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg","datePublished":"2025-10-12T10:15:04+00:00","dateModified":"2025-10-12T11:45:31+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg","width":1200,"height":630},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2025\/10\/12\/sukarno\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sukarno"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/d111b654829f14d51fe25661c2bcb08c","name":"Redaksi","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/51a7d9925fce8500665e7cbe6ef4490beafdd31309526c2f30d6556cbb89ce6e?s=96&d=mm&r=g","caption":"Redaksi"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-200x105.jpg",200,105,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Sukarno Oleh: *Ali Musatafa Trajutisna Siang itu udara...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg",1200,630,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg",1200,630,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg",1200,630,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg",1200,630,false],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1.jpg",1200,630,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/10\/prof-sukarno-1-200x105.jpg",200,105,true]},"rttpg_author":{"display_name":"Redaksi","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/redaksi\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/berita\/\" rel=\"category tag\">Berita<\/a> <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/puisi-dan-sastra\/\" rel=\"category tag\">Puisi dan Sastra<\/a>","rttpg_excerpt":"Sukarno Oleh: *Ali Musatafa Trajutisna Siang itu udara...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14977","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14977"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14977\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14983,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14977\/revisions\/14983"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14978"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14977"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14977"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14977"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=14977"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}