{"id":17933,"date":"2026-05-05T09:25:08","date_gmt":"2026-05-05T09:25:08","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=17933"},"modified":"2026-05-05T09:25:33","modified_gmt":"2026-05-05T09:25:33","slug":"religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/","title":{"rendered":"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"312\" data-end=\"640\"><strong>Jakarta|PPMIndonesia.com<\/strong>&#8211; Indonesia dikenal sebagai bangsa <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/\">religius.<\/a> Masjid penuh, majelis taklim tumbuh, ibadah berjalan dengan khusyuk, dan simbol keagamaan hadir hampir di setiap ruang sosial. Namun di tengah ekspresi religiusitas yang kuat itu, sebuah pertanyaan mendasar muncul: <strong data-start=\"570\" data-end=\"640\">mengapa masyarakat yang religius masih bergulat dengan kemiskinan?<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"642\" data-end=\"793\">Pertanyaan ini bukan untuk meragukan agama, melainkan untuk membaca ulang cara umat memahami agama dalam relasinya dengan kehidupan ekonomi dan sosial.<\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_82_2 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#Temuan_Lapangan_Religiusitas_dan_Realitas_Ekonomi\" >Temuan Lapangan: Religiusitas dan Realitas Ekonomi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#Paradoks_Global_Religiusitas_dan_Moral_Sosial\" >Paradoks Global: Religiusitas dan Moral Sosial<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#Ketika_Moral_Agama_Tidak_Menjadi_Etos_Ekonomi\" >Ketika Moral Agama Tidak Menjadi Etos Ekonomi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#Kritik_Paradigma_Agama_yang_Terpisah_dari_Kehidupan\" >Kritik Paradigma: Agama yang Terpisah dari Kehidupan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#Perspektif_Tokoh_Agama_sebagai_Etika_Pemberdayaan\" >Perspektif Tokoh: Agama sebagai Etika Pemberdayaan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#Menjebol_Lingkaran_Setan_Kemiskinan\" >Menjebol Lingkaran Setan Kemiskinan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#Jalan_PPM_Dari_Religiusitas_Menuju_Kesejahteraan\" >Jalan PPM: Dari Religiusitas Menuju Kesejahteraan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#Menuju_Umat_yang_Berdaya\" >Menuju Umat yang Berdaya<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2 data-section-id=\"1wwt63w\" data-start=\"800\" data-end=\"853\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Temuan_Lapangan_Religiusitas_dan_Realitas_Ekonomi\"><\/span>Temuan Lapangan: Religiusitas dan Realitas Ekonomi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"855\" data-end=\"1074\">Dalam <strong data-start=\"861\" data-end=\"942\">Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) NTB<\/strong> pada 27\u201328 Februari 2025 di Pesantren Harmony Thohir, Lombok Timur, peserta mengikuti simulasi sosial berbasis kuesioner reflektif.<\/p>\n<p data-start=\"1076\" data-end=\"1103\">Hasilnya cukup mengejutkan.<\/p>\n<p data-start=\"1105\" data-end=\"1365\">Dari 24 peserta pelatihan, hanya <strong data-start=\"1138\" data-end=\"1151\">14 persen<\/strong> yang menilai bahwa persoalan ekonomi masyarakat berjalan seimbang dengan nilai religiusitas dan sosio-kultural. Artinya, mayoritas peserta merasakan adanya <strong data-start=\"1308\" data-end=\"1364\">jarak antara kesalehan agama dan kesejahteraan hidup<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"1367\" data-end=\"1458\">Agama hadir kuat dalam ritual, tetapi belum sepenuhnya menjadi energi transformasi ekonomi.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"3mgtjh\" data-start=\"1465\" data-end=\"1514\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Paradoks_Global_Religiusitas_dan_Moral_Sosial\"><\/span>Paradoks Global: Religiusitas dan Moral Sosial<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"1516\" data-end=\"1711\">Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Peneliti sosial <strong data-start=\"1579\" data-end=\"1620\"><span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Denny JA<\/span><\/span><\/strong> pernah melakukan riset lintas negara mengenai korelasi religiusitas dengan mental korupsi.<\/p>\n<p data-start=\"1713\" data-end=\"1957\">Dengan sampel <strong data-start=\"1727\" data-end=\"1741\">111 negara<\/strong> dan menggunakan metode korelasi Karl Pearson, ditemukan angka <strong data-start=\"1804\" data-end=\"1814\">\u20130,064<\/strong>. Korelasi negatif ini menunjukkan bahwa kuatnya sistem religius tidak otomatis menghasilkan perilaku sosial yang lebih bersih atau lebih adil.<\/p>\n<p data-start=\"1959\" data-end=\"2091\">Di banyak tempat, orang tetap rajin beribadah tetapi praktik korupsi, ketimpangan ekonomi, dan eksploitasi sosial tetap berlangsung.<\/p>\n<p data-start=\"2093\" data-end=\"2168\">Inilah yang disebut para sosiolog sebagai <strong data-start=\"2135\" data-end=\"2167\">paradoks religiusitas modern<\/strong>.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"5idlww\" data-start=\"2175\" data-end=\"2223\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ketika_Moral_Agama_Tidak_Menjadi_Etos_Ekonomi\"><\/span>Ketika Moral Agama Tidak Menjadi Etos Ekonomi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"2225\" data-end=\"2389\">Pengalaman pelatihan PPM memberikan gambaran awal: semakin kuat moral agama dipahami secara ritualistik, terkadang justru semakin lemah orientasi ekonomi produktif.<\/p>\n<p data-start=\"2391\" data-end=\"2644\">Sebagian masyarakat menerima kemiskinan sebagai keadaan yang harus disyukuri tanpa upaya perubahan struktural. Dalam berbagai ceramah keagamaan, kekayaan sering dipersepsikan sebagai potensi fitnah, sementara kemiskinan dimaknai sebagai tanda kesalehan.<\/p>\n<p data-start=\"2646\" data-end=\"2790\">Akibatnya muncul <strong data-start=\"2663\" data-end=\"2686\">kemiskinan kultural<\/strong>\u2014bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena pola pikir yang tidak mendorong kemandirian ekonomi.<\/p>\n<p data-start=\"2792\" data-end=\"2986\">Sementara itu, sumber daya alam yang melimpah justru dikuasai oleh kelompok kecil yang memiliki orientasi kekuasaan, akumulasi modal, dan mental individualistik. Ketimpangan pun semakin melebar.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"1qqnuns\" data-start=\"2993\" data-end=\"3048\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kritik_Paradigma_Agama_yang_Terpisah_dari_Kehidupan\"><\/span>Kritik Paradigma: Agama yang Terpisah dari Kehidupan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"3050\" data-end=\"3134\">Masalah utama sesungguhnya bukan pada agama, melainkan pada <strong data-start=\"3110\" data-end=\"3133\">cara memahami agama<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"3136\" data-end=\"3203\">Dalam tradisi keilmuan Islam dikenal tiga pendekatan epistemologis:<\/p>\n<ul data-start=\"3205\" data-end=\"3354\">\n<li data-section-id=\"1tqjtfc\" data-start=\"3205\" data-end=\"3254\"><strong data-start=\"3207\" data-end=\"3217\">Bayani<\/strong> \u2014 berbasis teks dan otoritas dalil<\/li>\n<li data-section-id=\"ynbiq3\" data-start=\"3255\" data-end=\"3307\"><strong data-start=\"3257\" data-end=\"3268\">Burhani<\/strong> \u2014 berbasis rasionalitas dan analisis<\/li>\n<li data-section-id=\"4dnruf\" data-start=\"3308\" data-end=\"3354\"><strong data-start=\"3310\" data-end=\"3320\">Irfani<\/strong> \u2014 berbasis pengalaman spiritual<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"3356\" data-end=\"3471\">Ketiganya penting, tetapi ketika dipahami secara kaku dan tidak kontekstual, agama kehilangan daya transformasinya.<\/p>\n<p data-start=\"3473\" data-end=\"3572\">Agama berhenti sebagai ritual keselamatan akhirat, bukan sebagai sistem pembebasan kehidupan dunia.<\/p>\n<p data-start=\"3574\" data-end=\"3687\">Padahal Al-Qur\u2019an menghadirkan manusia sebagai <strong data-start=\"3621\" data-end=\"3633\">khalifah<\/strong>, bukan hanya ahli ibadah, tetapi pengelola kehidupan.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"1vijxt1\" data-start=\"3694\" data-end=\"3747\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perspektif_Tokoh_Agama_sebagai_Etika_Pemberdayaan\"><\/span>Perspektif Tokoh: Agama sebagai Etika Pemberdayaan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"3749\" data-end=\"3921\">Cendekiawan Muslim Indonesia <strong data-start=\"3778\" data-end=\"3819\"><span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Nurcholish Madjid<\/span><\/span><\/strong> pernah menegaskan bahwa agama seharusnya menjadi sumber etika kemajuan, bukan alasan stagnasi sosial.<\/p>\n<p data-start=\"3923\" data-end=\"4004\">Menurutnya, kesalehan sejati adalah kesalehan yang melahirkan kemajuan peradaban.<\/p>\n<p data-start=\"4006\" data-end=\"4294\">Sementara itu, pemikir ekonomi Islam <strong data-start=\"4043\" data-end=\"4084\"><span class=\"hover:entity-accent entity-underline inline cursor-pointer align-baseline\"><span class=\"whitespace-normal\">Muhammad Yunus<\/span><\/span><\/strong>, peraih Nobel Perdamaian, menunjukkan melalui praktik microfinance bahwa kemiskinan bukan disebabkan oleh kelemahan individu, tetapi oleh sistem sosial yang tidak memberi akses ekonomi kepada masyarakat kecil.<\/p>\n<p data-start=\"4296\" data-end=\"4375\">Bagi Yunus, manusia pada dasarnya kreatif dan produktif jika diberi kesempatan.<\/p>\n<p data-start=\"4377\" data-end=\"4514\">Gagasan inilah yang sejalan dengan pendekatan pemberdayaan PPM: <strong data-start=\"4441\" data-end=\"4513\">agama harus menjadi energi pembebasan, bukan legitimasi keterbatasan<\/strong>.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"crmg81\" data-start=\"4521\" data-end=\"4559\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menjebol_Lingkaran_Setan_Kemiskinan\"><\/span>Menjebol Lingkaran Setan Kemiskinan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"4561\" data-end=\"4655\">PPM melihat bahwa kemiskinan umat bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi persoalan paradigma.<\/p>\n<p data-start=\"4657\" data-end=\"4692\">Lingkaran setan itu terbentuk dari:<\/p>\n<ol data-start=\"4694\" data-end=\"4840\">\n<li data-section-id=\"12ulhvk\" data-start=\"4694\" data-end=\"4730\">Pemahaman agama yang fatalistik<\/li>\n<li data-section-id=\"1mn7nmm\" data-start=\"4731\" data-end=\"4765\">Pendidikan ekonomi yang lemah<\/li>\n<li data-section-id=\"1pumyt9\" data-start=\"4766\" data-end=\"4800\">Ketimpangan akses sumber daya<\/li>\n<li data-section-id=\"olhiia\" data-start=\"4801\" data-end=\"4840\">Minimnya kepemimpinan pemberdayaan<\/li>\n<\/ol>\n<p data-start=\"4842\" data-end=\"4953\">Karena itu, perubahan tidak cukup melalui bantuan sosial semata. Yang dibutuhkan adalah <strong data-start=\"4930\" data-end=\"4952\">revolusi kesadaran<\/strong>.<\/p>\n<p data-start=\"4955\" data-end=\"5148\">Dalam perspektif ini, makna <em data-start=\"4983\" data-end=\"4994\">maghfirah<\/em> tidak hanya dipahami sebagai pengampunan dosa, tetapi sebagai proses <strong data-start=\"5064\" data-end=\"5095\">menjebol cara berpikir lama<\/strong> dan membangun paradigma baru yang lebih membebaskan.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"wn2nu3\" data-start=\"5155\" data-end=\"5207\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jalan_PPM_Dari_Religiusitas_Menuju_Kesejahteraan\"><\/span>Jalan PPM: Dari Religiusitas Menuju Kesejahteraan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"5209\" data-end=\"5277\">Melalui konsep <strong data-start=\"5224\" data-end=\"5244\">Qaryah Thayyibah<\/strong>, PPM mendorong integrasi antara:<\/p>\n<ul data-start=\"5279\" data-end=\"5366\">\n<li data-section-id=\"baj4ze\" data-start=\"5279\" data-end=\"5296\">spiritualitas<\/li>\n<li data-section-id=\"1s4jk3d\" data-start=\"5297\" data-end=\"5320\">kemandirian ekonomi<\/li>\n<li data-section-id=\"2n81mq\" data-start=\"5321\" data-end=\"5343\">solidaritas sosial<\/li>\n<li data-section-id=\"1t287d3\" data-start=\"5344\" data-end=\"5366\">kepemimpinan lokal<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"5368\" data-end=\"5447\">Religiusitas tidak lagi berhenti pada ibadah personal, tetapi diwujudkan dalam:<\/p>\n<ul data-start=\"5449\" data-end=\"5578\">\n<li data-section-id=\"s41nfa\" data-start=\"5449\" data-end=\"5473\">koperasi masyarakat,<\/li>\n<li data-section-id=\"bxzj7m\" data-start=\"5474\" data-end=\"5505\">ekonomi berbasis komunitas,<\/li>\n<li data-section-id=\"1u970t6\" data-start=\"5506\" data-end=\"5540\">pengelolaan sumber daya lokal,<\/li>\n<li data-section-id=\"1dz3do4\" data-start=\"5541\" data-end=\"5578\">dan kaderisasi kepemimpinan sosial.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"5580\" data-end=\"5682\">Di sinilah konsep kekhalifahan menemukan bentuk nyatanya: manusia beriman yang mampu memakmurkan bumi.<\/p>\n<h2 data-section-id=\"130qni5\" data-start=\"5689\" data-end=\"5716\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menuju_Umat_yang_Berdaya\"><\/span>Menuju Umat yang Berdaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p data-start=\"5718\" data-end=\"5797\">Pertanyaan \u201cReligius tetapi miskin?\u201d seharusnya menjadi titik refleksi bersama.<\/p>\n<p data-start=\"5799\" data-end=\"5920\">Agama tidak pernah mengajarkan kemiskinan. Yang perlu diubah adalah cara umat membaca hubungan antara iman dan kehidupan.<\/p>\n<p data-start=\"5922\" data-end=\"6009\">Religiusitas sejati bukan menjauh dari dunia, tetapi menghadirkan keadilan di dalamnya.<\/p>\n<p data-start=\"6011\" data-end=\"6177\">Jika paradigma ini berubah, maka umat tidak hanya dikenal sebagai masyarakat yang taat beribadah, tetapi juga sebagai masyarakat yang berdaya, mandiri, dan sejahtera.<\/p>\n<p data-start=\"6179\" data-end=\"6239\">Dan mungkin di situlah makna sebenarnya dari doa bangsa ini: <strong data-start=\"6241\" data-end=\"6282\">baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur<\/strong> \u2014 negeri yang baik, makmur, dan mendapat ridha Tuhan. Acank)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta|PPMIndonesia.com&#8211; Indonesia dikenal sebagai bangsa religius. Masjid penuh,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":17934,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"Penulis: acank| Editor: asyary","footnotes":""},"categories":[36],"tags":[413,502,51,3080],"newstopic":[],"class_list":["post-17933","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nasional","tag-agama","tag-ekonomi","tag-pemberdayaan","tag-religius-tetapi-miskin"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jakarta|PPMIndonesia.com&#8211; Indonesia dikenal sebagai bangsa religius. Masjid penuh,...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-05T09:25:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-05T09:25:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"896\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"ppm Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"ppm Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"ppm Indonesia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/90261122e5a127ac00c78a7578bc98fc\"},\"headline\":\"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat\",\"datePublished\":\"2026-05-05T09:25:08+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-05T09:25:33+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/\"},\"wordCount\":728,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/religius-1-1.jpg\",\"keywords\":[\"agama\",\"ekonomi\",\"pemberdayaan\",\"religius tetapi miskin\"],\"articleSection\":[\"Nasional\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/\",\"name\":\"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/religius-1-1.jpg\",\"datePublished\":\"2026-05-05T09:25:08+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-05T09:25:33+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/religius-1-1.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/05\\\/religius-1-1.jpg\",\"width\":1600,\"height\":896},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/05\\\/05\\\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/90261122e5a127ac00c78a7578bc98fc\",\"name\":\"ppm Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"ppm Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/acank\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat - ppmindonesia","og_description":"Jakarta|PPMIndonesia.com&#8211; Indonesia dikenal sebagai bangsa religius. Masjid penuh,...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2026-05-05T09:25:08+00:00","article_modified_time":"2026-05-05T09:25:33+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":896,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"ppm Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"ppm Indonesia","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/"},"author":{"name":"ppm Indonesia","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/90261122e5a127ac00c78a7578bc98fc"},"headline":"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat","datePublished":"2026-05-05T09:25:08+00:00","dateModified":"2026-05-05T09:25:33+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/"},"wordCount":728,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg","keywords":["agama","ekonomi","pemberdayaan","religius tetapi miskin"],"articleSection":["Nasional"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/","name":"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg","datePublished":"2026-05-05T09:25:08+00:00","dateModified":"2026-05-05T09:25:33+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg","width":1600,"height":896},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/05\/05\/religius-tetapi-miskin-membaca-ulang-paradigma-ekonomi-umat\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Religius tetapi Miskin? Membaca Ulang Paradigma Ekonomi Umat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/90261122e5a127ac00c78a7578bc98fc","name":"ppm Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g","caption":"ppm Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/acank\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg",1600,896,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-1536x860.jpg",1536,860,true],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg",1600,896,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-200x112.jpg",200,112,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"ppm Indonesia","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/acank\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"Jakarta|PPMIndonesia.com&#8211; Indonesia dikenal sebagai bangsa religius. Masjid penuh,...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg",1600,896,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg",1600,896,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg",1600,896,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-1536x860.jpg",1536,860,true],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1.jpg",1600,896,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/religius-1-1-200x112.jpg",200,112,true]},"rttpg_author":{"display_name":"ppm Indonesia","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/acank\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/nasional\/\" rel=\"category tag\">Nasional<\/a>","rttpg_excerpt":"Jakarta|PPMIndonesia.com&#8211; Indonesia dikenal sebagai bangsa religius. Masjid penuh,...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17933","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17933"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17933\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17936,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17933\/revisions\/17936"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17934"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17933"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17933"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17933"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=17933"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}