{"id":18541,"date":"2026-06-20T16:44:06","date_gmt":"2026-06-20T16:44:06","guid":{"rendered":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?p=18541"},"modified":"2026-06-20T16:46:51","modified_gmt":"2026-06-20T16:46:51","slug":"krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/","title":{"rendered":"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #0000ff;\"><strong>EDITORIAL<\/strong><\/span><\/p>\n<blockquote>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"text-align: center;\">&#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.&#8221;<\/span>(QS. Ar-Ra&#8217;d [13]: 11)<\/p>\n<\/blockquote>\n<p><strong>JAKARTA.PPMIndonesia.com<\/strong> &#8211; Indonesia sering dipuji sebagai salah satu bangsa paling religius di dunia. Masjid berdiri megah di setiap sudut kampung. Pengajian berlangsung hampir setiap hari. Ibadah haji dan umrah terus meningkat dari tahun ke tahun. Di ruang publik, simbol-simbol agama hadir begitu kuat dalam kehidupan masyarakat.<\/p>\n<p>Namun di balik wajah religius itu, tersimpan sebuah pertanyaan mendasar yang patut direnungkan: mengapa masyarakat yang sangat religius masih bergulat dengan <a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/\">kemiskinan<\/a>, ketimpangan ekonomi, korupsi, rendahnya produktivitas, dan ketergantungan sosial?<\/p>\n<p>Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan agama dengan pembangunan ekonomi, melainkan mengajak kita melakukan <em><strong>muhasabah<\/strong><\/em> terhadap cara kita memahami agama itu sendiri.<\/p>\n<p>Barangkali yang sedang kita hadapi bukanlah krisis agama, melainkan <em><strong>krisis paradigma dalam beragama.<\/strong><\/em><\/p>\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_85 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#Agama_yang_Berhenti_pada_Ritual\" >Agama yang Berhenti pada Ritual<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#Kemiskinan_Kultural_Warisan_Paradigma_yang_Perlu_Dikoreksi\" >Kemiskinan Kultural: Warisan Paradigma yang Perlu Dikoreksi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#Kekeliruan_Memahami_Harta_dan_Perniagaan\" >Kekeliruan Memahami Harta dan Perniagaan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#Paradigma_Baru_Spiritualitas_yang_Produktif\" >Paradigma Baru: Spiritualitas yang Produktif<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#Dari_Mentalitas_Pasrah_Menuju_Mentalitas_Khalifah\" >Dari Mentalitas Pasrah Menuju Mentalitas Khalifah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#Qaryah_Thayyibah_Jalan_Keluar_dari_Kemiskinan_Kultural\" >Qaryah Thayyibah: Jalan Keluar dari Kemiskinan Kultural<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#Membangun_Teologi_Pemberdayaan\" >Membangun Teologi Pemberdayaan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#Saatnya_Melakukan_Hijrah_Paradigma\" >Saatnya Melakukan Hijrah Paradigma<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Agama_yang_Berhenti_pada_Ritual\"><\/span>Agama yang Berhenti pada Ritual<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Selama ini, keberagamaan sering diukur dari banyaknya ritual yang dilakukan. Kesalehan diidentikkan dengan rajin shalat, berpuasa, membaca Al-Qur&#8217;an, atau menghadiri majelis ilmu. Semua itu merupakan fondasi yang sangat penting.<\/p>\n<p>Namun Al-Qur&#8217;an tidak pernah memisahkan iman dari amal saleh.<\/p>\n<p>Lebih dari lima puluh kali Al-Qur&#8217;an menyandingkan kata &#8220;iman&#8221; dengan &#8220;amal saleh&#8221;. Ini menunjukkan bahwa iman yang sejati harus melahirkan tindakan nyata yang membawa manfaat bagi kehidupan.<\/p>\n<p>Agama yang hanya berhenti pada ritual akan melahirkan kesalehan individual, tetapi belum tentu melahirkan transformasi sosial.<\/p>\n<p>Akibatnya, muncul paradoks yang kita saksikan hari ini: masyarakat semakin religius secara simbolik, tetapi belum sepenuhnya mampu menghadirkan keadilan ekonomi, kesejahteraan bersama, dan tata kehidupan yang bermartabat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kemiskinan_Kultural_Warisan_Paradigma_yang_Perlu_Dikoreksi\"><\/span>Kemiskinan Kultural: Warisan Paradigma yang Perlu Dikoreksi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) memandang bahwa salah satu akar persoalan bangsa bukan semata-mata kemiskinan material, melainkan &#8220;kemiskinan kultural&#8221;.<\/p>\n<p>Kemiskinan kultural adalah keadaan ketika seseorang atau masyarakat memiliki potensi besar, tetapi tidak mampu mengembangkannya karena terkungkung oleh pola pikir yang membatasi.<\/p>\n<p>Kemiskinan jenis ini sering ditandai oleh:<\/p>\n<ul>\n<li>Budaya pasrah yang keliru,<\/li>\n<li>Rendahnya keberanian mengambil risiko,<\/li>\n<li>Ketergantungan terhadap bantuan,<\/li>\n<li>Lemahnya etos produktivitas,<\/li>\n<li>Pandangan bahwa kemiskinan adalah sesuatu yang harus diterima tanpa ikhtiar untuk mengubahnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Padahal Islam justru mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah yang bertugas memakmurkan bumi, bukan sekadar menjadi penonton sejarah.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kekeliruan_Memahami_Harta_dan_Perniagaan\"><\/span>Kekeliruan Memahami Harta dan Perniagaan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Dalam sebagian tradisi dakwah, pembahasan tentang dunia usaha, kekayaan, perdagangan, dan investasi terkadang disampaikan secara tidak proporsional. Kekayaan sering dipersepsikan identik dengan kecintaan berlebihan terhadap dunia, sementara kemiskinan dipandang sebagai simbol kesederhanaan atau bahkan kedekatan dengan nilai-nilai spiritual.<\/p>\n<p>Pandangan seperti ini tentu tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh ulama atau tradisi keilmuan Islam, tetapi perlu dikritisi apabila melahirkan sikap menjauhi ikhtiar ekonomi yang produktif.<\/p>\n<p>Padahal Al-Qur&#8217;an berkali-kali mendorong manusia untuk:<\/p>\n<ul>\n<li>Bekerja keras,<\/li>\n<li>Berdagang secara jujur,<\/li>\n<li>Mengelola bumi,<\/li>\n<li>Memanfaatkan sumber daya secara bertanggung jawab,<\/li>\n<li>Dan membangun kesejahteraan bersama.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Bahkan banyak nabi adalah pelaku ekonomi. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pedagang yang amanah sebelum diangkat menjadi rasul. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi yang beretika adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.<\/p>\n<p>Dengan demikian, persoalannya bukan pada harta, tetapi pada cara memperoleh dan menggunakannya.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Paradigma_Baru_Spiritualitas_yang_Produktif\"><\/span>Paradigma Baru: Spiritualitas yang Produktif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>PPM menawarkan paradigma bahwa religiusitas sejati tidak menjauhkan manusia dari kehidupan dunia, tetapi justru melahirkan tanggung jawab untuk memperbaikinya.<\/p>\n<blockquote><p>Shalat harus melahirkan disiplin.<br \/>\nPuasa harus melahirkan pengendalian diri.<br \/>\nZakat harus melahirkan keadilan ekonomi.<br \/>\nHaji harus melahirkan kepemimpinan moral.<\/p><\/blockquote>\n<p>Dan tauhid harus melahirkan keberanian membebaskan manusia dari kemiskinan, kebodohan, serta ketidakadilan.<\/p>\n<p>Spiritualitas yang benar adalah spiritualitas yang produktif.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dari_Mentalitas_Pasrah_Menuju_Mentalitas_Khalifah\"><\/span>Dari Mentalitas Pasrah Menuju Mentalitas Khalifah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Allah SWT berfirman:<\/p>\n<blockquote><p>\u0647\u064f\u0648\u064e \u0623\u064e\u0646\u0652\u0634\u064e\u0623\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0645\u0650\u0646\u064e \u0627\u0644\u0652\u0623\u064e\u0631\u0652\u0636\u0650 \u0648\u064e\u0627\u0633\u0652\u062a\u064e\u0639\u0652\u0645\u064e\u0631\u064e\u0643\u064f\u0645\u0652 \u0641\u0650\u064a\u0647\u064e\u0627<\/p>\n<p>&#8220;Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.&#8221;(QS. Hud [11]: 61)<\/p><\/blockquote>\n<p>Ayat ini mengandung pesan bahwa manusia diperintahkan menjadi <em><strong>pemakmur bumi<\/strong><\/em>.<\/p>\n<p>Maka bekerja, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, mengelola pertanian, membangun koperasi, mengembangkan wakaf produktif, hingga menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari amanah kekhalifahan.<\/p>\n<p>Dalam perspektif PPM, dakwah masa depan harus melahirkan <strong><em>mentalitas khalifah<\/em><\/strong>, bukan mentalitas pasrah.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Qaryah_Thayyibah_Jalan_Keluar_dari_Kemiskinan_Kultural\"><\/span>Qaryah Thayyibah: Jalan Keluar dari Kemiskinan Kultural<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Konsep <em><strong>Qaryah Thayyibah<\/strong> <\/em>yang dikembangkan PPM merupakan model pembangunan masyarakat berbasis nilai-nilai Al-Qur&#8217;an.<\/p>\n<p>Qaryah Thayyibah bukan hanya desa yang religius, tetapi desa yang:<\/p>\n<ul>\n<li>Produktif ekonominya,<\/li>\n<li>Adil tata kelolanya,<\/li>\n<li>Kuat solidaritas sosialnya,<\/li>\n<li>lestari lingkungannya,<\/li>\n<li>Dan partisipatif kepemimpinannya.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Di dalamnya, agama menjadi energi pemberdayaan, bukan sekadar identitas.<\/p>\n<blockquote><p>Masjid menjadi pusat pendidikan masyarakat.<br \/>\nKoperasi menjadi sarana kemandirian ekonomi.<br \/>\nGotong royong menjadi budaya pembangunan.<br \/>\nDan kaderisasi menjadi investasi peradaban.<\/p><\/blockquote>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Membangun_Teologi_Pemberdayaan\"><\/span>Membangun Teologi Pemberdayaan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>PPM meyakini bahwa umat Islam tidak kekurangan ajaran tentang keadilan sosial dan kesejahteraan. Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah membangun cara pandang yang mampu menghubungkan nilai-nilai spiritual dengan transformasi sosial.<\/p>\n<p>Teologi pemberdayaan tidak mengurangi pentingnya ibadah ritual, tetapi memperluas makna ibadah hingga mencakup seluruh aktivitas yang membawa kemaslahatan bagi manusia.<\/p>\n<blockquote><p>Bekerja adalah ibadah.<br \/>\nMemberdayakan masyarakat adalah ibadah.<br \/>\nMengembangkan ekonomi rakyat adalah ibadah.<br \/>\nMenjaga lingkungan adalah ibadah.<br \/>\nMembangun desa adalah ibadah.<\/p><\/blockquote>\n<p>Dengan demikian, agama tidak lagi dipahami sebagai pelarian dari realitas, melainkan sebagai kekuatan yang mengubah realitas.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Saatnya_Melakukan_Hijrah_Paradigma\"><\/span>Saatnya Melakukan Hijrah Paradigma<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Krisis terbesar bangsa ini mungkin bukan kekurangan sumber daya alam atau lemahnya potensi manusia.<\/p>\n<p>Krisis terbesar adalah ketika paradigma keberagamaan belum sepenuhnya melahirkan budaya produktif, inovatif, dan berkeadilan.<\/p>\n<p>Sudah saatnya kita melakukan <em><strong>hijrah paradigma<\/strong><\/em>: dari agama yang hanya dipahami sebagai kewajiban ritual menuju agama sebagai kekuatan peradaban.<\/p>\n<p>Dari mentalitas menerima nasib menuju mentalitas membangun masa depan.<\/p>\n<p>Dari kemiskinan kultural menuju masyarakat yang mandiri, produktif, dan bermartabat.<\/p>\n<p>Inilah semangat yang terus diperjuangkan oleh <em><strong>Pusat Peranserta Masyarakat (PPM)** melalui Teologi Pemberdayaan <\/strong><\/em>menghadirkan Islam sebagai energi transformasi menuju <strong>Qaryah Thayyibah<\/strong>, masyarakat yang adil, sejahtera, harmonis, dan diridhai Allah SWT.<\/p>\n<p>Karena pada akhirnya, agama yang hidup bukanlah agama yang hanya dibicarakan, tetapi agama yang mampu menggerakkan manusia untuk memakmurkan bumi, memuliakan sesama, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.(ppmindonesia)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDITORIAL &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":18542,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_uag_custom_page_level_css":"","_monsterinsights_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"kia_subtitle":"Redaksippmindonesia. Edirorial: asyary","footnotes":""},"categories":[3161],"tags":[454,857,3130],"newstopic":[],"class_list":["post-18541","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-editorial","tag-kemiskinan","tag-pusat-peranserta-masyarakat","tag-teologi-pemberdayaan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.8 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural - ppmindonesia<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural - ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"EDITORIAL &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"ppmindonesia\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-20T16:44:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-06-20T16:46:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1600\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"896\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"ppm Indonesia\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"ppm Indonesia\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"ppm Indonesia\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/90261122e5a127ac00c78a7578bc98fc\"},\"headline\":\"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural\",\"datePublished\":\"2026-06-20T16:44:06+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-20T16:46:51+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/\"},\"wordCount\":909,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/1000355707.jpg\",\"keywords\":[\"kemiskinan\",\"pusat peranserta masyarakat\",\"teologi pemberdayaan\"],\"articleSection\":[\"Editorial\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/\",\"name\":\"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural - ppmindonesia\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/1000355707.jpg\",\"datePublished\":\"2026-06-20T16:44:06+00:00\",\"dateModified\":\"2026-06-20T16:46:51+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/1000355707.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2026\\\/06\\\/1000355707.jpg\",\"width\":1600,\"height\":896},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/2026\\\/06\\\/20\\\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"name\":\"ppm\",\"description\":\"The Center for People Participation\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#organization\",\"name\":\"ppm\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2024\\\/05\\\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png\",\"width\":572,\"height\":141,\"caption\":\"ppm\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/logo\\\/image\\\/\"}},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/90261122e5a127ac00c78a7578bc98fc\",\"name\":\"ppm Indonesia\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"ppm Indonesia\"},\"sameAs\":[\"http:\\\/\\\/ppmindonesia.com\"],\"url\":\"https:\\\/\\\/ppmindonesia.com\\\/index.php\\\/author\\\/acank\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural - ppmindonesia","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural - ppmindonesia","og_description":"EDITORIAL &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu...","og_url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/","og_site_name":"ppmindonesia","article_published_time":"2026-06-20T16:44:06+00:00","article_modified_time":"2026-06-20T16:46:51+00:00","og_image":[{"width":1600,"height":896,"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"ppm Indonesia","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"ppm Indonesia","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/"},"author":{"name":"ppm Indonesia","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/90261122e5a127ac00c78a7578bc98fc"},"headline":"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural","datePublished":"2026-06-20T16:44:06+00:00","dateModified":"2026-06-20T16:46:51+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/"},"wordCount":909,"publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg","keywords":["kemiskinan","pusat peranserta masyarakat","teologi pemberdayaan"],"articleSection":["Editorial"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/","name":"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural - ppmindonesia","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg","datePublished":"2026-06-20T16:44:06+00:00","dateModified":"2026-06-20T16:46:51+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#primaryimage","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg","width":1600,"height":896},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/2026\/06\/20\/krisis-paradigma-agama-ekonomi-dan-kemiskinan-kultural\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ppmindonesia.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Krisis Paradigma: Agama, Ekonomi, dan Kemiskinan Kultural"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#website","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","name":"ppm","description":"The Center for People Participation","publisher":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/ppmindonesia.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#organization","name":"ppm","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","contentUrl":"https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/cropped-Hiring___2_-removebg-preview.png","width":572,"height":141,"caption":"ppm"},"image":{"@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/logo\/image\/"}},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ppmindonesia.com\/#\/schema\/person\/90261122e5a127ac00c78a7578bc98fc","name":"ppm Indonesia","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/be752d334d06b90b6aa51af7be21f852849728a03a2a646711296cd10b0d67d2?s=96&d=mm&r=g","caption":"ppm Indonesia"},"sameAs":["http:\/\/ppmindonesia.com"],"url":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/acank\/"}]}},"uagb_featured_image_src":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg",1600,896,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-1536x860.jpg",1536,860,true],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg",1600,896,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-200x112.jpg",200,112,true]},"uagb_author_info":{"display_name":"ppm Indonesia","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/acank\/"},"uagb_comment_info":0,"uagb_excerpt":"EDITORIAL &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu...","rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg",1600,896,false],"landscape":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg",1600,896,false],"portraits":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg",1600,896,false],"thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-80x80.jpg",80,80,true],"medium":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-180x130.jpg",180,130,true],"medium_large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-350x220.jpg",350,220,true],"large":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-700x400.jpg",680,389,true],"1536x1536":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-1536x860.jpg",1536,860,true],"2048x2048":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707.jpg",1600,896,false],"depicter-thumbnail":["https:\/\/ppmindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/1000355707-200x112.jpg",200,112,true]},"rttpg_author":{"display_name":"ppm Indonesia","author_link":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/author\/acank\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/category\/editorial\/\" rel=\"category tag\">Editorial<\/a>","rttpg_excerpt":"EDITORIAL &#8220;Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18541","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18541"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18541\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18545,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18541\/revisions\/18545"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18541"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18541"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18541"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/ppmindonesia.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=18541"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}