Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Sholat: Sekolah Keadilan Sosial yang Kita Lupakan

324
×

Sholat: Sekolah Keadilan Sosial yang Kita Lupakan

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

ppmindonesia.com.JakartaSholat adalah ibadah paling mendasar dalam Islam, tiang agama yang pertama kali akan dihisab pada Hari Kiamat. Ia bukan hanya ritual pribadi antara hamba dan Tuhannya, tetapi juga sebuah sekolah yang mendidik umat tentang nilai-nilai keadilan sosial.

Sayangnya, di tengah hiruk-pikuk umat yang ribut tentang detail fiqh dan perbedaan-perbedaan kecil, pesan keadilan sosial dari sholat sering kali kita lupakan.

Sholat sejatinya bukan hanya tentang sujud dan rukuk, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar menempatkan diri di hadapan Allah sebagai hamba yang sama, setara, dan sederajat dengan manusia lain.

Di masjid, tidak ada kursi khusus untuk pejabat, tidak ada karpet mewah untuk orang kaya, tidak ada pengkhususan bagi mereka yang menyumbang banyak. Siapa datang dulu, ia duduk di depan. Siapa datang terlambat, duduk di belakang. Tidak peduli ia bupati atau tukang becak.

Inilah pesan keadilan sosial yang nyata. Sholat mengajarkan kita bahwa di hadapan Tuhan, pangkat, kekayaan, warna kulit, dan status sosial tidak ada artinya. Yang membedakan hanyalah takwa, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:

…اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13)

Namun, nilai luhur ini perlahan memudar. Masjid-masjid kini kadang lebih sibuk dengan politik, dengan rebutan saf terdepan, bahkan dengan “pesan karpet” untuk tokoh tertentu. Ada yang memandang rendah orang miskin yang bajunya lusuh. Ada pula yang merasa saf-nya “tercemar” jika berdiri di samping orang asing atau orang kecil.

Padahal Rasulullah ﷺ menegaskan:

“Tidaklah seseorang lebih utama dari yang lain kecuali dengan takwanya. Tidak ada kelebihan orang Arab atas non-Arab, tidak pula non-Arab atas orang Arab, tidak pula orang putih atas orang hitam, kecuali dengan takwa.” (HR Ahmad)

Keadilan sosial dalam sholat bukan hanya tentang siapa duduk di mana. Ia juga mengajarkan kita untuk berempati, berbagi, dan menghapus sekat-sekat sosial yang selama ini memisahkan. 

Sholat lima waktu yang kita lakukan sehari semalam, berjamaah, bahu membahu, seharusnya melatih kita untuk lebih peduli terhadap sekitar. 

Bagaimana mungkin seseorang sujud setiap hari tetapi tetap tega menindas tetangganya? 

Bagaimana mungkin seorang yang rukuk dan sujud bersama rakyat tetap memeras mereka di luar masjid?

Sosiolog Ali Shariati pernah menyebut, 

“Sholat adalah protes harian terhadap ketidakadilan, di mana manusia belajar menempatkan dirinya sebagai bagian dari barisan umat yang setara.” Di dalam saf, ubun-ubun seorang pejabat bisa berada di bawah telapak kaki petani ketika sujud. Semua tunduk, semua rendah, semua kembali pada fitrah: hamba Allah.

Sayangnya, sholat yang seharusnya menjadi sekolah keadilan sosial itu kini sering disalahpahami sebagai sekadar ritual individual. Orang merasa sudah cukup hanya dengan memenuhi gerakan dan bacaan, tetapi lupa memperbaiki relasi sosialnya. Al-Qur’an sudah mengingatkan kita:

…اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ… ۝٤٥

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS Al-‘Ankabut: 45)

Kalau sholat tidak membentuk kita menjadi pribadi yang adil dan peduli, mungkin ada yang salah dengan cara kita memaknai sholat.

Sudah saatnya kita mengembalikan masjid sebagai ruang pembauran. Sebagai tempat pendidikan sosial yang melatih kita untuk rendah hati dan berempati. Jangan lagi ada karpet untuk pangkat. Jangan lagi ada jarak antara kaya dan miskin. Jangan lagi ada sikap merasa lebih suci daripada orang lain.

Sholat adalah sekolah keadilan sosial yang kita lupakan. Mari kita belajar lagi, bahwa rukuk dan sujud tidak hanya untuk Allah, tetapi juga untuk mengingat siapa kita di tengah manusia: sama, setara, dan harus adil.(acank)

Example 120x600