Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Fitrah Manusia dan Peran Orang Tua: Siapa yang Membentuk Anak Kita?

5
×

Fitrah Manusia dan Peran Orang Tua: Siapa yang Membentuk Anak Kita?

Share this article

Kajian Syahida - Quran bil Quran| Editor : asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Setiap anak lahir dalam keadaan suci. Namun, mengapa ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang berbeda-beda—ada yang lurus, ada yang menyimpang? Apakah itu takdir Tuhan, atau hasil dari lingkungan yang membentuknya? Al-Qur’an memberi jawaban yang jernih: manusia lahir membawa fitrah, tetapi arah hidupnya sangat ditentukan oleh proses pendidikan—terutama dari orang tua.

Fitrah: Titik Awal yang Suci

Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan membawa potensi kebenaran. Fitrah bukan sekadar “kosong”, tetapi kecenderungan menuju tauhid dan kebaikan.

فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.”
(QS. Ar-Rum [30]: 30)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap manusia lahir dengan potensi yang lurus. Tidak ada manusia yang sejak awal diciptakan untuk menjadi jahat. Fitrah adalah modal dasar spiritual.

Lingkungan: Penentu Arah Fitrah

Namun Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa manusia tidak hidup dalam ruang hampa. Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk arah kehidupan seseorang.

Kisah keluarga dalam Al-Qur’an menjadi bukti kuat. Lihat bagaimana Luqman mendidik anaknya:

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar.”
(QS. Luqman [31]: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa nilai tidak diwariskan secara otomatis, tetapi diajarkan, ditanamkan, dan dibiasakan. Orang tua menjadi aktor utama dalam menjaga atau justru mengubah arah fitrah.

“Anak tidak menjadi seperti yang kita katakan, tetapi seperti yang kita lakukan.”

Tanggung Jawab Orang Tua dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang fitrah, tetapi juga memberikan peringatan keras tentang tanggung jawab keluarga.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim [66]: 6)

Ayat ini bukan sekadar seruan spiritual, tetapi juga mandat pendidikan. Orang tua bukan hanya bertugas memberi makan dan memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menjaga arah moral dan iman anak-anaknya.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah mengingatkan:

“Kerusakan anak pada umumnya berasal dari kelalaian orang tua dalam mendidik dan mengarahkannya.”

Anak Belajar dari Teladan, Bukan Sekadar Nasihat

Salah satu kesalahan umum dalam pendidikan adalah mengandalkan kata-kata tanpa keteladanan. Padahal Al-Qur’an mengecam keras ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ۝ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Saff [61]: 2–3)

Anak-anak tidak hanya mendengar, tetapi mengamati. Mereka tidak sekadar menerima ajaran, tetapi meniru perilaku. Ketika orang tua berkata jujur tetapi hidup dalam kebohongan, maka yang ditiru adalah kebohongan.

Antara Takdir dan Tanggung Jawab

Sebagian orang berlindung di balik takdir ketika melihat anaknya menyimpang. Padahal Al-Qur’an memberikan keseimbangan: manusia lahir dengan fitrah (takdir), tetapi tumbuh dalam pengaruh lingkungan (tanggung jawab).

وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
(QS. Al-Balad [90]: 10)

Anak diberi potensi memilih, tetapi orang tua bertugas mengenalkan jalan, membimbing langkah, dan memberi contoh nyata.

Kembali ke Tanggung Jawab Keluarga

Pertanyaan “siapa yang membentuk anak kita?” tidak bisa dijawab dengan satu kata. Fitrah adalah pemberian Allah, tetapi arah hidup adalah hasil interaksi antara potensi dan pendidikan.

Orang tua bukan penentu mutlak, tetapi juga bukan penonton pasif. Mereka adalah penjaga awal fitrah, pembentuk karakter pertama, dan teladan paling kuat dalam kehidupan anak.

Iman tidak diwariskan melalui darah, tetapi melalui keteladanan, pembiasaan, dan kesungguhan mendidik.

“Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Lingkunganlah yang menentukan arah langkahnya.” (syahida)

Example 120x600