“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya…”
(QS. Al-Maidah: 35)
Pendahuluan
Jakarta|PPMIndonesia.com– Perdebatan mengenai konsep “perantara” dalam mendekatkan diri kepada Allah merupakan salah satu tema yang terus muncul dalam diskursus keislaman. Sebagian kalangan memahami istilah wasilah dalam QS. Al-Maidah ayat 35 sebagai legitimasi untuk menjadikan nabi, wali, atau orang-orang saleh sebagai mediator antara manusia dengan Allah.
Namun, benarkah Al-Qur’an mengajarkan demikian?
Kajian Qur’an bil Qur’an mengharuskan setiap ayat dipahami melalui penjelasan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya, bukan melalui tambahan makna yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash. Dengan metode ini, makna “wasilah” perlu ditelusuri langsung dari keseluruhan petunjuk Al-Qur’an.
Makna Wasilah dalam Al-Qur’an
Allah berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) untuk mendekat kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Maidah: 35)
Ayat ini tidak menyebut nabi, wali, orang mati, ataupun makhluk tertentu sebagai perantara. Kata wasilah dalam ayat tersebut hadir secara umum sebagai “jalan mendekat kepada Allah”.
Dalam metode Qur’an bil Qur’an, makna “jalan menuju Allah” harus dicari dari ayat-ayat lain yang menjelaskan bagaimana manusia memperoleh ridha dan kedekatan dengan-Nya.
Al-Qur’an Menegaskan: Amal Sendirilah yang Menjadi Jalan
Allah berfirman:
﴿ وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى ﴾
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini menjadi prinsip dasar dalam memahami hubungan manusia dengan Allah. Kedekatan kepada Allah tidak dibangun melalui jasa spiritual orang lain, melainkan melalui usaha, iman, amal saleh, dan ketakwaan pribadi.
Dengan demikian, “wasilah” menurut Al-Qur’an adalah amal dan ketaatan yang dilakukan langsung oleh seorang hamba.
Jalan Mendekat kepada Allah Menurut Al-Qur’an
1. Melaksanakan Salat dan Bersabar
﴿ وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ ﴾
“Dan orang-orang yang bersabar karena mencari keridhaan Tuhannya serta mendirikan salat…” (QS. Ar-Ra’d: 22)
Ayat ini menunjukkan bahwa salat, kesabaran, dan keikhlasan merupakan jalan menuju ridha Allah.
2. Sedekah dan Kepedulian Sosial
﴿ وَمَا آتَيْتُمْ مِنْ زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ ﴾
“Dan zakat yang kamu tunaikan untuk mencari keridhaan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang melipatgandakan pahala.”
(QS. Ar-Rum: 39)
Al-Qur’an menempatkan sedekah, zakat, dan kepedulian sosial sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.
3. Berjuang di Jalan Allah
﴿ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ ﴾
“Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah…” (QS. At-Taubah: 20)
Jihad dalam makna luas—membela kebenaran, menegakkan keadilan, dan memperjuangkan nilai-nilai Ilahi—merupakan bagian dari wasilah menuju Allah.
4. Taubat dan Penyucian Diri
﴿ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴾
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Taubat dan penyucian jiwa menjadi sarana spiritual yang secara langsung disebut dicintai Allah.
Apakah Memohon kepada Selain Allah Dibenarkan?
Al-Qur’an secara tegas menolak praktik menyeru makhluk sebagai perantara ibadah dan doa.
1. Yang Diseru Selain Allah Tidak Mampu Menolong
﴿ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ﴾
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu. Dan sekiranya mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.” (QS. Fatir: 14)
Ayat ini menjadi penegasan bahwa makhluk yang diseru tidak memiliki kuasa memberi manfaat.
2. Alasan “Agar Lebih Dekat kepada Allah” Ditolak Al-Qur’an
﴿ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى ﴾
“Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah.”
(QS. Az-Zumar: 3)
Ayat ini sangat penting karena menjelaskan alasan kaum musyrik: menjadikan makhluk sebagai mediator spiritual menuju Allah.
Al-Qur’an justru mengecam keyakinan tersebut dan menegaskan bahwa agama yang murni hanyalah milik Allah semata.
3. Mereka yang Diseru Juga Mencari Jalan kepada Allah
﴿ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ ﴾
“Orang-orang yang mereka seru itu sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka untuk siapa yang lebih dekat.”
(QS. Al-Isra’: 57)
Ayat ini menegaskan bahwa para nabi dan hamba saleh sendiri bergantung kepada rahmat Allah serta mencari wasilah kepada-Nya. Mereka bukan pemilik kuasa Ilahi.
Doa dalam Al-Qur’an: Langsung kepada Allah
Allah berfirman:
﴿ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ﴾
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)
Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an yang memerintahkan manusia memohon melalui perantara tertentu agar doa diterima. Sebaliknya, seluruh seruan Al-Qur’an mengarahkan manusia untuk berdoa langsung kepada Allah.
Kesimpulan
Kajian Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa konsep wasilah dalam Al-Qur’an bukanlah perantara manusia, melainkan seluruh amal saleh dan ketaatan yang mengantarkan seorang hamba kepada ridha Allah.
Salat, sedekah, taubat, kesabaran, jihad di jalan Allah, serta penyucian diri merupakan bentuk-bentuk wasilah yang dijelaskan Al-Qur’an.
Sebaliknya, menjadikan makhluk sebagai mediator spiritual dalam doa dan ibadah justru dikritik keras oleh Al-Qur’an karena berpotensi menggeser kemurnian tauhid.
Allah menegaskan bahwa hubungan antara hamba dan Rabb-nya bersifat langsung, tanpa perantara:
﴿ وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ﴾
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 186)
Penutup
Tauhid dalam Al-Qur’an tidak hanya berarti mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi juga memurnikan seluruh bentuk doa, pengharapan, dan ketergantungan hanya kepada-Nya.
Karena itu, jalan menuju Allah bukanlah melalui pengagungan makhluk, melainkan melalui iman, amal saleh, dan ketundukan total kepada firman-Nya. (a mohammed)



























