Jakarta|PPMIndonesia.com– Di banyak masyarakat, agama sering diwariskan sebagai identitas turun-temurun. Seseorang lahir dalam keluarga tertentu, tumbuh dalam lingkungan tertentu, lalu mengikuti pola keyakinan yang berlaku di sekitarnya. Tradisi memiliki nilai sosial yang penting, tetapi Al-Qur’an mengingatkan bahwa iman sejati tidak pernah lahir hanya dari kebiasaan, lingkungan, atau warisan budaya. Iman lahir dari perjumpaan manusia dengan wahyu.
Dalam perspektif kajian Syahida dengan metodologi Qur’an bil Qur’an, Al-Qur’an menunjukkan bahwa petunjuk Allah hadir untuk membebaskan manusia dari keimanan yang dibangun atas dasar ikut-ikutan menuju keyakinan yang tumbuh atas dasar ilmu, kesadaran, dan hidayah.
Ketika Tradisi Menjadi Penghalang Kebenaran
Al-Qur’an berulang kali menampilkan pola yang sama dalam sejarah para nabi: penolakan terhadap kebenaran sering muncul bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena kuatnya ikatan tradisi.
Allah berfirman:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah Allah turunkan,’ mereka menjawab, ‘Tidak! Kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka tetap mengikuti walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk?”
(QS. Al-Baqarah: 170)
Ayat ini memperlihatkan kritik Al-Qur’an terhadap sikap menerima keyakinan secara pasif. Wahyu mengajak manusia berpikir, menimbang, dan mencari kebenaran secara sadar.
Iman Dibangun di Atas Ilmu
Dalam kajian Qur’an bil Qur’an, iman selalu berkaitan dengan pengetahuan dan petunjuk. Al-Qur’an tidak memisahkan antara keyakinan dan pemahaman.
Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.”
(QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menarik karena tidak dimulai dengan “percayalah”, melainkan “ketahuilah”. Iman yang kokoh dibangun di atas kesadaran dan pengetahuan. Seseorang mengenal Allah melalui ayat-ayat-Nya, memahami petunjuk-Nya, lalu keyakinannya tumbuh.
Dengan demikian, iman bukan sekadar menerima warisan keyakinan, tetapi perjalanan mengenal kebenaran.
Al-Qur’an: Jalan Menuju Keyakinan
Al-Qur’an menjelaskan dirinya sebagai petunjuk bagi manusia:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 2)
Dalam pendekatan Syahida, ayat ini dipahami bersama ayat-ayat lain tentang petunjuk, hidayah, hati, dan iman. Al-Qur’an bukan kumpulan pesan yang terpisah, tetapi sistem yang saling menjelaskan.
Karena itu, keimanan yang dibangun melalui Al-Qur’an memiliki fondasi yang kuat. Ia tidak mudah goyah oleh perubahan zaman, tekanan sosial, atau pengaruh lingkungan.
Bahaya Iman Turunan Tanpa Pemahaman
Ketika keyakinan hanya diwariskan tanpa dipahami, agama dapat berubah menjadi formalitas. Ritual dijalankan, tetapi hati tidak hadir. Simbol dipertahankan, tetapi nilai wahyu tidak memengaruhi kehidupan.
Allah mengingatkan:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?”
(QS. Muhammad: 24)
Kunci persoalannya bukan pada banyaknya aktivitas keagamaan, tetapi pada keterhubungan hati dengan wahyu.
Seseorang dapat sangat dekat dengan tradisi agama, tetapi tetap jauh dari petunjuk Allah jika ia tidak membangun hubungan hidup dengan Al-Qur’an.
Metodologi Qur’an bil Qur’an: Kembali kepada Wahyu
Kajian Syahida mengajak pembaca untuk memahami Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Artinya:
- Ayat dijelaskan oleh ayat lain
- Tema dipahami secara utuh
- Makna tidak dipotong secara parsial
- Petunjuk dilihat sebagai sistem kehidupan
Dengan cara ini, seseorang tidak hanya mewarisi agama, tetapi menemukan sendiri alasan mengapa ia beriman.
Imannya berubah dari “ikut keluarga” menjadi “hasil kesadaran”.
Dari Warisan Menjadi Kesaksian
Kata Syahida berasal dari akar kata syahadah—kesaksian. Seorang mukmin sejati bukan sekadar mewarisi keyakinan, tetapi bersaksi atas kebenaran yang ia pahami dan rasakan.
Karena itu, Al-Qur’an menghubungkan iman dengan pengalaman batin:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambah iman mereka…”
(QS. Al-Anfal: 2)
Iman yang hidup tidak lahir dari kebiasaan semata, tetapi dari perjumpaan yang terus-menerus dengan ayat-ayat Allah.
Penutup
Tradisi dapat memperkenalkan agama, tetapi wahyu yang menghidupkan iman. Tradisi dapat mengantar seseorang ke pintu, tetapi Al-Qur’anlah yang membimbing langkah di dalam perjalanan.
Karena itu, tugas setiap mukmin bukan sekadar mewarisi agama, melainkan menumbuhkan keyakinan melalui pemahaman, perenungan, dan kedekatan dengan wahyu Allah.
Sebab iman sejati tidak lahir dari tradisi.
Ia lahir dari cahaya wahyu.
اللَّهُ يَهْدِي لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ
“Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki.”
(QS. An-Nur: 35)



























