Agama yang Menyatukan, Sejarah yang Memisahkan
Jakarta|PPMIndonesia.com– Islam turun sebagai agama persatuan. Nabi Muhammad ﷺ membangun masyarakat Madinah bukan di atas suku, darah, ataupun kelompok teologis, tetapi di atas iman dan keadilan.
Namun sejarah kemudian mencatat kenyataan yang berbeda: umat Islam terpecah menjadi berbagai kelompok, mazhab, dan identitas teologis. Konflik yang awalnya bersifat politik dan sejarah perlahan berubah menjadi keyakinan religius yang diwariskan lintas generasi.
Pertanyaannya menjadi mendasar:
apakah perpecahan umat berasal dari wahyu atau dari pembacaan sejarah manusia?
Pendekatan Qur’an bil Qur’an mencoba menjawabnya dengan kembali langsung kepada Al-Qur’an sebagai sumber penilaian.
Al-Qur’an Menolak Fanatisme Kelompok
Al-Qur’an secara tegas memperingatkan bahaya menjadikan agama sebagai identitas kelompok yang saling meniadakan.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan, engkau (Muhammad) tidak termasuk bagian dari mereka sedikit pun.”
(QS. Al-An‘am [6]: 159)
Ayat ini bukan sekadar kritik sejarah, tetapi peringatan universal: agama kehilangan ruhnya ketika berubah menjadi faksi.
Istilah syi‘a dalam bahasa Al-Qur’an berarti kelompok atau fraksi—menunjukkan bahwa fanatisme kelompok merupakan kecenderungan manusia yang berulang dalam sejarah.
Dari Peristiwa Sejarah Menjadi Identitas Iman
Banyak konflik umat Islam berakar pada peristiwa politik awal Islam: persoalan kepemimpinan, kekuasaan, dan legitimasi.
Peristiwa sejarah seharusnya menjadi pelajaran moral, bukan sumber permusuhan abadi. Namun manusia sering melakukan kesalahan yang sama: mengabadikan konflik masa lalu sebagai identitas iman masa kini.
Al-Qur’an menggambarkan fenomena psikologis ini:
كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”
(QS. Ar-Rum [30]: 32)
Fanatisme muncul ketika kebenaran tidak lagi dicari, tetapi diasumsikan telah dimiliki secara eksklusif.
Wahyu Tidak Pernah Memerintahkan Perpecahan
Prinsip dasar Islam justru adalah persatuan spiritual umat.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 103)
“Tali Allah” dalam perspektif Qur’an bil Qur’an merujuk pada wahyu—Al-Qur’an sebagai sumber orientasi bersama.
Artinya, persatuan Islam tidak dibangun di atas keseragaman mazhab, tetapi kesatuan sumber petunjuk.
Ketika Agama Menjadi Warisan Emosional
Banyak umat Islam lahir dalam identitas tertentu sebelum sempat memahami ajaran Islam secara sadar. Mazhab, organisasi, bahkan konflik teologis diwariskan seperti identitas keluarga.
Al-Qur’an mengkritik pola keberagamaan yang hanya mengikuti tradisi tanpa kesadaran:
إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ
“Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama dan kami hanya mengikuti jejak mereka.”
(QS. Az-Zukhruf [43]: 23)
Ayat ini tidak menolak tradisi, tetapi mengingatkan bahwa iman tidak boleh berhenti pada warisan sejarah.
Standar Al-Qur’an: Takwa, Bukan Kelompok
Al-Qur’an menetapkan ukuran kemuliaan yang sangat sederhana namun revolusioner:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat [49]: 13)
Bukan Sunni atau Syiah.
Bukan tradisionalis atau reformis.
Bukan mayoritas atau minoritas.
Yang dinilai Allah adalah ketakwaan.
Perspektif Syahida: Membaca Ulang Sejarah dengan Cahaya Wahyu
Kajian Syahida memandang bahwa konflik umat bukan semata masalah teologi, melainkan cara membaca sejarah.
Ketika sejarah dijadikan sumber legitimasi iman, maka konflik akan terus diwariskan. Namun ketika wahyu dijadikan standar penilaian sejarah, umat menemukan ruang rekonsiliasi.
Al-Qur’an memberikan metode penyelesaian konflik:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa’ [4]: 59)
Kembali kepada Allah berarti kembali kepada wahyu-Nya.
Islam Modern dan Tantangan Perang Identitas
Di era digital, fanatisme tidak lagi terjadi di medan perang, tetapi di ruang komentar dan mimbar virtual. Identitas kelompok sering lebih dominan daripada akhlak Islam itu sendiri.
Akibatnya: debat menggantikan dialog, label menggantikan hikmah, kemenangan kelompok lebih penting daripada kebenaran.
Padahal misi Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)
Jalan Keluar dari Perpecahan
Perpecahan umat bukan takdir teologis, melainkan akibat fanatisme terhadap fragmen sejarah.
Jalan keluarnya bukan menghapus perbedaan, tetapi mengembalikan pusat kesetiaan umat kepada Al-Qur’an.
Ketika wahyu menjadi rujukan bersama: sejarah menjadi pelajaran, mazhab menjadi kekayaan ilmu, dan umat kembali menjadi satu komunitas spiritual.
Islam tidak membutuhkan kemenangan satu kelompok atas kelompok lain.
Islam membutuhkan kesadaran bersama untuk kembali kepada Kitabullah. (syahida)



























