“Daging dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS Al-Hajj: 37)
Jakarta|PPMIndonesia.com- Setiap Idul Adha, umat Islam di seluruh dunia memperingati kisah Nabi Ibrahim yang diyakini rela mengorbankan putranya demi menaati perintah Allah. Narasi ini telah menjadi simbol kepasrahan total kepada Tuhan.
Namun, ketika Al-Qur’an dikaji secara menyeluruh melalui metode Qur’an bil Qur’an — yakni memahami suatu ayat dengan ayat lainnya — muncul pertanyaan mendasar:
Apakah Islam benar-benar mengajarkan konsep pengorbanan darah untuk Tuhan?
Apakah Allah membutuhkan sembelihan dan darah?
Ataukah makna pengorbanan dalam Al-Qur’an justru jauh lebih dalam daripada sekadar ritual penyembelihan?
Kajian ini mencoba membaca kembali konsep pengorbanan dalam Islam berdasarkan petunjuk Al-Qur’an secara utuh.
Allah Tidak Membutuhkan Darah dan Daging
Ayat paling penting tentang kurban terdapat dalam Surah Al-Hajj:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS Al-Hajj: 37)
Ayat ini sangat tegas.
Allah tidak membutuhkan darah.
Allah tidak membutuhkan daging.
Yang sampai kepada Allah hanyalah ketakwaan manusia.
Dengan demikian, ritual penyembelihan dalam Islam bukanlah “memberi makan Tuhan”, bukan pula persembahan darah demi memperoleh keridaan-Nya sebagaimana konsep pengorbanan dalam sebagian tradisi kuno.
Kurban dalam Al-Qur’an adalah Sarana Ketakwaan Sosial
Allah berfirman:
فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang miskin yang membutuhkan.”
(QS Al-Hajj: 28)
Dan:
فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْقَانِعَ وَٱلْمُعْتَرَّ
“Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang merasa cukup maupun yang meminta.”
(QS Al-Hajj: 36)
Ini menunjukkan bahwa inti ibadah kurban bukanlah darahnya, melainkan:
- kepedulian sosial,
- berbagi rezeki,
- solidaritas kemanusiaan,
- dan pendidikan ketakwaan.
Kurban menjadi sarana agar manusia belajar melepaskan ego dan menolong sesama.
Apakah Allah Memerintahkan Ibrahim Menyembelih Ismail?
Narasi populer menyatakan bahwa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putranya sebagai ujian iman.
Namun Al-Qur’an sendiri tidak pernah secara eksplisit menyatakan demikian.
Mari perhatikan ayat utamanya:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ
“Ketika anak itu sampai pada usia dapat berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.’”
(QS Ash-Shaffat: 102)
Perhatikan baik-baik.
Ibrahim hanya berkata:
“Aku melihat dalam mimpi.”
Beliau tidak berkata:
“Allah memerintahkanku.”
Ini penting, sebab Al-Qur’an sangat jelas bahwa Allah tidak pernah memerintahkan kejahatan.
Allah Tidak Memerintahkan Perbuatan Keji
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ
“Katakanlah: Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.”
(QS Al-A‘raf: 28)
Dan:
وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ
“Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.”
(QS Al-An‘am: 151)
Ismail adalah anak yang saleh dan tidak bersalah.
Jika demikian, bagaimana mungkin Allah memerintahkan pembunuhannya?
Allah Justru Menghentikan Ibrahim
Ketika Ibrahim hendak melaksanakan mimpi tersebut, Allah justru menghentikannya:
يَـٰٓإِبْرَٰهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ
“Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.”
(QS Ash-Shaffat: 104–105)
Allah tidak berkata:
“Engkau telah menaati perintah-Ku.”
Sebaliknya, Allah menyatakan bahwa Ibrahim telah mempercayai mimpi tersebut.
Lalu Allah menyelamatkan keduanya.
Makna “Sembelihan Besar”
Ayat berikutnya berbunyi:
وَفَدَيْنَـٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
(QS Ash-Shaffat: 107)
Selama ini ayat ini dipahami sebagai penggantian Ismail dengan seekor domba.
Namun menariknya, Al-Qur’an tidak pernah menyebut adanya domba.
Secara bahasa:
- فَدَيْنَاهُ = Kami menyelamatkannya
- بِذِبْحٍ = dari penyembelihan
- عَظِيمٍ = besar atau mengerikan
Artinya dapat dipahami:
“Kami menyelamatkannya dari penyembelihan besar yang mengerikan.”
Yakni tragedi pembunuhan Ismail sendiri.
Setanlah yang Mengajak kepada Kekejian
Al-Qur’an menjelaskan:
إِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
“Sesungguhnya setan menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar.”
(QS An-Nur: 21)
Dorongan untuk membunuh orang tak bersalah lebih sesuai dengan karakter tipu daya setan daripada wahyu Allah.
Namun karena Ibrahim adalah hamba yang tulus, Allah menyelamatkannya sebelum tragedi itu terjadi.
Hakikat Pengorbanan dalam Islam
Jika demikian, apa makna pengorbanan yang sebenarnya diajarkan Al-Qur’an?
Pengorbanan dalam Islam bukanlah darah manusia atau ritual kekerasan.
Pengorbanan sejati adalah:
- mengorbankan ego,
- mengalahkan keserakahan,
- berbagi kepada sesama,
- menegakkan keadilan,
- serta tunduk kepada nilai-nilai Allah.
Allah berfirman:
لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian dari apa yang kamu cintai.”
(QS Ali ‘Imran: 92)
Inilah esensi pengorbanan dalam Islam: melepaskan kecintaan dunia demi nilai ketakwaan dan kemanusiaan.
Mengembalikan Makna Kurban kepada Cahaya Al-Qur’an
Melalui metode Qur’an bil Qur’an, tampak bahwa Al-Qur’an tidak mengajarkan konsep pengorbanan darah untuk Tuhan.
Sebaliknya:
- Allah tidak membutuhkan darah dan daging.
- Allah tidak pernah memerintahkan pembunuhan terhadap orang tak bersalah.
- Ritual kurban bertujuan membangun ketakwaan sosial.
- Kisah Ibrahim lebih tepat dipahami sebagai penyelamatan dari tragedi, bukan legitimasi pembunuhan.
Sudah saatnya umat Islam kembali memahami ajaran kurban berdasarkan cahaya Al-Qur’an secara utuh, sehingga ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi melahirkan kasih sayang, keadilan, dan kepedulian sosial. (syahida)



























