“Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.”
(QS Al-A‘raf: 28)
Jakarta|PPMIndonesia.com– Kisah Nabi Ibrahim yang bermimpi menyembelih putranya merupakan salah satu narasi paling kuat dalam sejarah agama. Selama berabad-abad, kisah ini dipahami sebagai puncak ketaatan: seorang ayah yang rela mengorbankan anaknya demi menjalankan perintah Tuhan.
Namun ketika Al-Qur’an dibaca dengan metode Qur’an bil Qur’an — menafsirkan ayat dengan ayat lainnya — muncul pertanyaan mendasar yang layak direnungkan:
Apakah Al-Qur’an benar-benar menyatakan bahwa Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih Ismail?
Atau jangan-jangan selama ini kita lebih banyak mewarisi tafsir yang dibangun dari tradisi, bukan dari keseluruhan petunjuk Al-Qur’an?
Kajian ini mencoba membaca kisah tersebut dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai penafsir utama.
Al-Qur’an Hanya Menyebut Mimpi, Bukan Perintah Tuhan
Ayat utama yang menceritakan peristiwa tersebut terdapat dalam Surah Ash-Shaffat:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَـٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Ketika anak itu sampai pada usia dapat berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.’”
(QS Ash-Shaffat: 102)
Perhatikan secara cermat.
Ibrahim tidak mengatakan:
“Allah memerintahkanku menyembelihmu.”
Beliau hanya berkata:
“Aku melihat dalam mimpi.”
Al-Qur’an di sini menyampaikan fakta adanya mimpi, namun tidak menyebut sumber mimpi tersebut berasal dari Allah.
Perbedaan ini tampak kecil, tetapi sangat menentukan.
Allah Tidak Pernah Memerintahkan Kejahatan
Untuk menilai sumber suatu dorongan, Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat jelas:
وَإِذَا فَعَلُوا۟ فَـٰحِشَةًۭ قَالُوا۟ وَجَدْنَا عَلَيْهَآ ءَابَآءَنَا وَٱللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا ۗ قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ
“Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: ‘Kami mendapati nenek moyang kami melakukannya dan Allah memerintahkan kami melakukannya.’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.’”
(QS Al-A‘raf: 28)
Dan juga:
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ
“Katakanlah: Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dan dosa.”
(QS Al-A‘raf: 33)
Maka muncul pertanyaan yang sangat serius:
Apakah membunuh anak yang tidak bersalah bukan termasuk dosa?
Membunuh Jiwa Tak Bersalah Dilarang
Al-Qur’an menegaskan:
وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلْحَقِّ
“Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.”
(QS Al-An‘am: 151)
Bahkan:
وَمَن يَقْتُلْ مُؤْمِنًۭا مُّتَعَمِّدًۭا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَـٰلِدًۭا فِيهَا
“Barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam.”
(QS An-Nisa: 93)
Ismail adalah anak saleh dan tidak bersalah.
Bila Allah memerintahkan pembunuhannya, berarti Allah memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan ketetapan-Nya sendiri.
Di sinilah pertanyaan besar itu muncul.
Mengapa Ibrahim Masih Bertanya kepada Ismail?
Perhatikan kalimat berikut:
فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ
“Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Jika Ibrahim menerima wahyu yang pasti dari Allah, mengapa beliau masih meminta pendapat anaknya?
Bandingkan dengan kisah ibu Musa:
أَنِ ٱقْذِفِيهِ فِى ٱلتَّابُوتِ فَٱقْذِفِيهِ فِى ٱلْيَمِّ
“Masukkan dia ke peti dan hanyutkanlah ke sungai.”
(QS Thaha: 39)
Meskipun secara naluri seorang ibu pasti takut, ia melakukannya karena yakin itu berasal dari Allah.
Sedangkan Ibrahim terlihat sedang menafsirkan mimpi, bukan menerima wahyu yang pasti.
Allah Menghentikan Peristiwa Itu
Ketika Ibrahim hampir melaksanakan penyembelihan tersebut, Allah berfirman:
يَـٰٓإِبْرَٰهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ
“Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.”
(QS Ash-Shaffat: 104–105)
Perhatikan:
Allah tidak berkata:
“Engkau telah menaati perintah-Ku.”
Tetapi:
“Engkau telah membenarkan mimpi itu.”
Seolah Al-Qur’an ingin menunjukkan bahwa Ibrahim telah menganggap mimpi itu sebagai sesuatu yang harus dilaksanakan.
Lalu Allah menghentikannya
Makna “Kami Menebus dengan Sembelihan Besar”
Ayat berikutnya berbunyi:
وَفَدَيْنَـٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
(QS Ash-Shaffat: 107)
Dalam tafsir populer sering dikatakan bahwa Ismail diganti dengan seekor domba.
Namun menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut domba.
Secara bahasa:
- فَدَيْنَاهُ = Kami menyelamatkannya
- بِذِبْحٍ = dari penyembelihan
- عَظِيمٍ = besar atau mengerikan
Maka ayat ini dapat dibaca:
“Kami menyelamatkannya dari penyembelihan besar yang mengerikan.”
Yakni tragedi pembunuhan Ismail.
Wahyu atau Ilusi?
Al-Qur’an menjelaskan siapa yang mendorong manusia kepada keburukan:
إِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
“Sesungguhnya setan menyuruh kepada perbuatan keji dan mungkar.”(QS An-Nur: 21)
Dan:
ٱلشَّيْطَـٰنُ يَعِدُكُمُ ٱلْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِٱلْفَحْشَآءِ
“Setan menjanjikan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji.”(QS Al-Baqarah: 268)
Maka pertanyaan besar yang diajukan kajian ini adalah:
Apakah mimpi itu wahyu?
Ataukah sebuah ilusi yang ditafsirkan sebagai wahyu?
Kembali Menjadikan Al-Qur’an sebagai Penafsir Utama
Kajian Qur’an bil Qur’an mengajak kita berhati-hati agar tidak menisbatkan sesuatu kepada Allah tanpa dasar yang jelas.
Dari keseluruhan ayat terlihat:
- Al-Qur’an hanya menyebut adanya mimpi.
- Allah tidak pernah memerintahkan perbuatan keji.
- Pembunuhan terhadap jiwa tak bersalah dilarang.
- Allah justru menghentikan Ibrahim.
- Pengorbanan dalam Islam bukan persembahan darah kepada Tuhan.
Karena itu, memahami kisah Ibrahim bukan sekadar soal sejarah, tetapi soal bagaimana kita menjaga kemurnian sifat Allah: Maha Adil, Maha Pengasih, dan tidak pernah memerintahkan kezaliman. (syahida)



























