Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Refleksi PPM Nasional: Antara Jejak Perjuangan dan Tantangan Generasi Baru

245
×

Refleksi PPM Nasional: Antara Jejak Perjuangan dan Tantangan Generasi Baru

Share this article

Penulis: acank| editor: asyary|

Susana diskusi dalam pembukaan Rumah Makan di Bekasi (doc.ppm)

ppmindonesia.com.Bekasi, — Suasana pembukaan rumah makan milik Presidium Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Nasional, Nurhasan Ashari, di Bekasi, Senin (29/9/2025), berubah menjadi forum refleksi. Sejumlah tokoh PPM lintas generasi yang hadir tidak hanya bersilaturahmi, tetapi juga menggelar perbincangan serius mengenai arah gerakan PPM di tengah perubahan zaman.

Hadir dalam acara itu Presidium PPM Nasional Pupun Purwana, Sekretaris Jenderal PPM Nasional Anwar Hariyono, serta Moh Jumhur Hidayat, yang pernah menjabat Presidium satu Periode dan Ketua Umum PPM Nasional dua periode. Turut hadir pula tokoh senior Parito, Depri Cane Nasution, Yaminuddin, serta Usup Supriyatna, Ketua Koperasi Mina Agar Makmur yang dikenal sebagai perintis budidaya rumput laut berbasis polikultur di Karawang, Jawa Barat.

Jejak Perjuangan

Dalam diskusi santai yang mengiringi hidangan, Jumhur Hidayat mengingatkan kembali sejarah lahirnya PPM pada 1980-an. Saat itu, PPM hadir sebagai jembatan antar-subkultur, dengan tujuan utama mengentaskan kemiskinan struktural melalui perubahan pola pikir masyarakat.

“Dulu kita percaya bahwa kemiskinan bisa diatasi bila masyarakat mengubah cara pandang. PPM mendorong masyarakat untuk berdaya dan mandiri. Itulah jejak perjuangan yang menjadi ruh organisasi ini,” ujar Jumhur.

Anwar Hariyono menambahkan, pada masa itu, semangat gotong royong masih kuat. “Masyarakat desa masih terbiasa bekerja sama tanpa pamrih. Tantangan kita hari ini berbeda. Bagaimana membangkitkan semangat generasi baru, khususnya generasi Z, agar mau berjuang bersama, meski dengan cara berbeda?” katanya.

Tantangan Generasi Baru

Refleksi itu mengarah pada pertanyaan relevansi PPM di masa kini. Generasi muda yang tumbuh dalam budaya digital dan pragmatisme dinilai sulit digerakkan dengan cara-cara lama. Perubahan pendekatan pun menjadi keharusan.

Jumhur menawarkan wacana baru: mengarahkan PPM menjadi wadah perjuangan berbasis ekonomi, mirip dengan peran Serikat Dagang Islam (SDI) di awal abad ke-20. “Kalau dulu kita fokus pada gerakan budaya, sekarang saatnya menekankan pada gerakan ekonomi partisipatif. Dengan cara itu, pengentasan kemiskinan bisa lebih nyata,” ujarnya.

Usulan ini mendapatkan perhatian khusus, mengingat keberhasilan Koperasi Mina Agar Makmur di Karawang yang dipimpin Usup Supriyatna. Koperasi tersebut telah menjadi contoh konkret bagaimana pemberdayaan berbasis partisipasi masyarakat pesisir dapat mengangkat taraf hidup ekonomi.

Arah Baru PPM

Perbincangan di forum informal itu pun berakhir dengan satu catatan penting: PPM perlu meneguhkan jati dirinya sebagai gerakan partisipatif, namun dengan orientasi yang lebih konkret pada pemberdayaan ekonomi.

Refleksi tersebut sekaligus membuka ruang bagi aktivis PPM untuk merumuskan arah baru: bagaimana tetap setia pada jejak perjuangan masa lalu, sekaligus menjawab tantangan generasi baru yang dihadapkan pada realitas ekonomi, politik, dan sosial yang semakin kompleks.(acank)

Example 120x600