Scroll untuk baca artikel
Akademi PPMBerita

Delapan Pilar Menuju Masyarakat Sejahtera

3
×

Delapan Pilar Menuju Masyarakat Sejahtera

Share this article

Redaksippmindonesia. Editor; asyary

Membangun kesejahteraan bukan sekadar meningkatkan pendapatan, tetapi membangun kehidupan masyarakat yang utuh, berdaya, mandiri, sehat, berpengetahuan, berbudaya, dan bermartabat.

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Apa arti masyarakat sejahtera?

Pertanyaan ini tampaknya sederhana. Tetapi jawabannya tidak pernah sesederhana angka pendapatan, jumlah rumah yang dibangun, banyaknya bantuan yang disalurkan, atau tingginya pertumbuhan ekonomi.

Seseorang mungkin memiliki penghasilan, tetapi tidak memiliki akses pendidikan.

Sebuah keluarga mungkin memiliki rumah, tetapi hidup di lingkungan yang tidak sehat.

Sebuah desa mungkin memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi masyarakatnya tidak memiliki posisi tawar untuk mengelolanya.

Sebuah kelompok usaha mungkin memiliki modal, tetapi tidak memiliki kelembagaan yang kuat.

Karena itu, kesejahteraan tidak dapat dibangun melalui satu sektor saja.

Kehidupan manusia adalah sebuah kesatuan.

Dari pemahaman inilah Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) mengembangkan gagasan Stelsel Masyarakat Sejahtera: sebuah cara pandang yang menempatkan kesejahteraan sebagai sistem kehidupan yang saling berhubungan.

Dalam kerangka tersebut, terdapat delapan pilar kehidupan yang perlu dibangun secara bersama-sama.

Ekonomi Sosial: Membangun Kemampuan Memenuhi Kebutuhan

Pilar pertama adalah ekonomi sosial.

Masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak dan berkelanjutan.

Namun ekonomi rakyat tidak cukup dilihat dari pertumbuhan pendapatan individual.

Yang lebih penting adalah apakah masyarakat memiliki akses terhadap sumber-sumber ekonomi dan mampu mengorganisasikannya secara bersama.

Petani membutuhkan akses terhadap tanah, teknologi, pembiayaan, pasar, dan informasi.

Pedagang kecil membutuhkan kelembagaan dan posisi tawar.

Pelaku UMKM membutuhkan akses produksi, pemasaran, distribusi, dan jaringan.

Di sinilah koperasi, kelompok usaha, usaha bersama, pasar rakyat, dan berbagai bentuk ekonomi komunitas menjadi penting.

Tujuannya bukan sekadar menghasilkan uang.

Tetapi membangun kemampuan ekonomi masyarakat untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri.

Ekonomi menjadi alat untuk membangun kehidupan, bukan sebaliknya.

Pendidikan Alternatif: Membangun Manusia yang Mampu Belajar

Pendidikan adalah pilar kedua.

Tetapi pendidikan tidak boleh hanya dipahami sebagai proses memperoleh ijazah.

Masyarakat membutuhkan kemampuan untuk memahami persoalan, mengambil keputusan, memecahkan masalah, dan terus belajar.

Karena itu, PPM memandang masyarakat sebagai universitas kehidupan.

Pengalaman bertani adalah pengetahuan.

Mengelola koperasi adalah pembelajaran.

Menghadapi konflik adalah proses pendidikan.

Membangun organisasi adalah sekolah kepemimpinan.

Mengelola lingkungan adalah pendidikan ekologis.

Dengan demikian, pendidikan alternatif berusaha menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

Masyarakat tidak hanya belajar untuk mendapatkan pekerjaan.

Mereka belajar agar mampu mengelola kehidupannya.

Kesehatan Masyarakat: Membangun Kehidupan yang Berkualitas

Kesejahteraan tidak mungkin dibangun tanpa kesehatan.

Tetapi kesehatan masyarakat juga tidak cukup hanya dilihat dari keberadaan fasilitas pelayanan kesehatan.

Kesehatan berkaitan dengan air bersih, sanitasi, makanan, lingkungan, pola hidup, pengetahuan, kondisi ekonomi, dan kemampuan masyarakat menjaga kehidupannya sendiri.

Karena itu, pendekatan kesehatan masyarakat harus bergerak dari sekadar mengobati menjadi membangun kesadaran dan kemampuan menjaga kesehatan.

Masyarakat sehat bukan hanya masyarakat yang dapat mengakses pengobatan.

Masyarakat sehat adalah masyarakat yang memiliki kemampuan menciptakan lingkungan dan pola kehidupan yang mendukung kesehatan.

Teknologi Tepat Guna: Teknologi untuk Kehidupan

Teknologi dapat mempercepat perubahan.

Tetapi teknologi tidak otomatis menjadi solusi.

Sebuah teknologi disebut tepat guna bukan semata-mata karena canggih, tetapi karena sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, lingkungan, dan kondisi masyarakat yang menggunakannya.

Teknologi untuk pertanian harus sesuai dengan kondisi petani.

Teknologi pengolahan limbah harus dapat dikelola masyarakat.

Teknologi informasi harus memperluas akses, bukan menciptakan ketergantungan baru.

Karena itu, teknologi perlu ditempatkan sebagai alat pemberdayaan.

Pertanyaan pentingnya bukan:

“Teknologi apa yang bisa kita bawa?”

Tetapi:

“Teknologi apa yang dibutuhkan masyarakat dan mampu mereka manfaatkan serta kembangkan?”

Lingkungan: Menjaga Rumah Kehidupan

Masyarakat tidak hidup di ruang kosong.

Mereka hidup di dalam ekosistem.

Tanah, air, sungai, hutan, laut, udara, dan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Kerusakan lingkungan pada akhirnya menjadi persoalan sosial dan ekonomi.

Sungai yang tercemar memengaruhi kesehatan.

Hutan yang rusak memengaruhi sumber air.

Tanah yang kehilangan kesuburan memengaruhi petani.

Perubahan iklim memengaruhi kehidupan masyarakat paling rentan.

Karena itu, pembangunan masyarakat harus berjalan bersama dengan pembangunan ekologis.

Dalam konteks ini, gagasan ekonomi hijau dan ekonomi sirkular menjadi penting: bagaimana masyarakat memperoleh manfaat ekonomi tanpa merusak sumber kehidupan yang menjadi fondasinya.

Lingkungan bukan tambahan dalam pembangunan.

Lingkungan adalah syarat keberlanjutan kehidupan.

Sosial Budaya: Menjaga Jati Diri dan Solidaritas

Pembangunan tidak hanya membangun benda.

Pembangunan juga membangun manusia dan kebudayaannya.

Gotong royong, solidaritas, kepedulian, kesenian, tradisi, nilai-nilai sosial, dan kearifan lokal merupakan modal kebudayaan yang memungkinkan masyarakat bertahan dan berkembang.

Ketika pembangunan hanya mengejar aspek material, masyarakat dapat kehilangan ikatan sosialnya.

Padahal sebuah masyarakat yang memiliki pendapatan tinggi tetapi kehilangan solidaritas dapat menghadapi persoalan baru yang tidak kalah serius.

Karena itu, pembangunan sosial budaya merupakan bagian penting dari masyarakat sejahtera.

Kebudayaan menjadi ruang tempat masyarakat menemukan identitas, nilai bersama, dan cara hidup.

Peradaban dibangun bukan hanya dengan infrastruktur, tetapi juga dengan kebudayaan.

Kependudukan: Menyiapkan Generasi Masa Depan

Masyarakat adalah manusia.

Karena itu, persoalan kependudukan tidak dapat dilepaskan dari pembangunan.

Pertumbuhan penduduk, kualitas generasi muda, mobilitas masyarakat, urbanisasi, ketenagakerjaan, keluarga, serta perubahan struktur demografi harus dibaca sebagai bagian dari perubahan sosial.

Generasi muda khususnya bukan hanya kelompok yang harus diberi pekerjaan.

Mereka adalah kekuatan perubahan.

Karena itu, pembangunan kependudukan harus memberi ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan, mengembangkan kreativitas, membangun usaha, menguasai teknologi, dan mengambil tanggung jawab sosial.

Kaderisasi pada akhirnya merupakan bagian dari pembangunan kependudukan.

Sebuah masyarakat tidak hanya harus mampu menyelesaikan persoalan hari ini.

Ia harus mampu menyiapkan manusia yang dapat melanjutkan kehidupan esok hari.

Emansipasi Sosial: Membangun Martabat dan Kemampuan Menentukan Diri

Pilar kedelapan adalah emansipasi sosial.

Inilah dimensi yang membuat pembangunan tidak berhenti pada kesejahteraan material.

Manusia membutuhkan kesempatan untuk menentukan dirinya.

Masyarakat membutuhkan ruang untuk bersuara.

Kelompok yang lemah membutuhkan kesempatan memperkuat posisi tawarnya.

Perempuan, anak muda, kelompok ekonomi kecil, masyarakat desa, pekerja informal, dan berbagai kelompok yang selama ini berada di pinggir proses pengambilan keputusan membutuhkan ruang untuk menjadi pelaku.

Emansipasi berarti membangun kemampuan untuk berdiri, bersuara, berorganisasi, dan menentukan masa depan.

Karena itu, tujuan akhir pemberdayaan bukan membuat masyarakat terus dibantu.

Tujuannya adalah membuat masyarakat mampu memperjuangkan kepentingannya sendiri secara bermartabat.

Delapan Pilar, Satu Kehidupan

Delapan bidang tersebut tidak boleh dipahami sebagai delapan proyek yang berdiri sendiri.

Ekonomi berkaitan dengan pendidikan.

Pendidikan berkaitan dengan kesehatan.

Kesehatan berkaitan dengan lingkungan.

Lingkungan berkaitan dengan ekonomi.

Kebudayaan berkaitan dengan organisasi sosial.

Kependudukan berkaitan dengan pendidikan dan lapangan kerja.

Emansipasi berkaitan dengan kemampuan masyarakat mengelola seluruh aspek kehidupannya.

Semuanya saling terhubung.

Inilah makna stelsel.

Stelsel bukan sekadar kumpulan program.

Stelsel adalah tata kehidupan yang unsur-unsurnya saling memperkuat.

Karena itu, masyarakat sejahtera tidak lahir dari satu program besar.

Ia lahir dari keterhubungan berbagai kemampuan masyarakat dalam mengelola kehidupannya.

Dari Program kepada Proses

Delapan pilar tersebut juga tidak akan berarti apabila hanya diterjemahkan menjadi daftar kegiatan.

Membangun koperasi bukan hanya mendirikan koperasi.

Membangun pendidikan bukan hanya mengadakan pelatihan.

Membangun kesehatan bukan hanya mengadakan penyuluhan.

Membangun lingkungan bukan hanya menanam pohon.

Membangun kepemudaan bukan hanya membuat kegiatan anak muda.

Yang lebih penting adalah apa yang berubah setelah kegiatan selesai.

Apakah masyarakat semakin mampu?

Apakah kelembagaannya semakin kuat?

Apakah pengetahuannya berkembang?

Apakah mereka mampu memecahkan persoalan baru?

Apakah muncul kader baru?

Apakah mereka mampu melanjutkan proses tanpa ketergantungan?

Di sinilah perbedaan antara program dan proses menjadi penting.

Program adalah kendaraan. Proses adalah perjalanan.

Program dapat selesai.

Tetapi proses pembangunan masyarakat harus terus berlangsung.

Masyarakat sebagai Subjek

Delapan pilar tidak akan menghasilkan masyarakat sejahtera apabila masyarakat hanya menjadi objek.

Karena itu, prinsip dasarnya tetap sama:

masyarakat harus menjadi subjek pembangunan.

Masyarakat harus ikut mengenali masalah.

Masyarakat ikut menentukan prioritas.

Masyarakat ikut mencari solusi.

Masyarakat ikut mengelola sumber daya.

Masyarakat ikut mengevaluasi.

Dan masyarakat pula yang meneruskan perubahan.

Di sinilah pemberdayaan berbeda dari sekadar bantuan.

Bantuan dapat diberikan kepada masyarakat.

Tetapi kemampuan harus dibangun bersama masyarakat.

Dari Memberi kepada Membangkitkan

Pembangunan rakyat membutuhkan perubahan cara berpikir.

Dari memberi kepada membangkitkan.

Dari bantuan kepada kemampuan.

Dari objek kepada subjek.

Dari program kepada proses.

Dari ketergantungan kepada kemandirian.

Dari proyek kepada gerakan.

Pergeseran tersebut tidak selalu mudah.

Memberi bantuan sering kali lebih cepat daripada membangun kapasitas.

Membuat sebuah fasilitas sering kali lebih mudah daripada membangun kelembagaan.

Mengadakan pelatihan lebih mudah daripada memastikan pengetahuan menjadi kemampuan.

Tetapi pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan kesabaran untuk membangun manusia.

Karena yang ingin dibangun bukan hanya hasil pembangunan, tetapi pelaku pembangunan.

Stelsel Masyarakat Sejahtera: Sebuah Jalan Menuju Peradaban

Pada akhirnya, delapan pilar tersebut bermuara pada satu pertanyaan:

Masyarakat seperti apa yang ingin kita bangun?

Masyarakat yang hanya memiliki pendapatan?

Ataukah masyarakat yang mampu membangun kehidupan yang utuh?

Masyarakat yang hanya menerima program?

Ataukah masyarakat yang mampu menciptakan perubahan?

Masyarakat yang menunggu bantuan?

Ataukah masyarakat yang mampu mengorganisasi kekuatannya?

Masyarakat yang bergantung?

Ataukah masyarakat yang mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri sekaligus membangun kerja sama dengan pihak lain?

Jawaban atas pertanyaan tersebut membawa kita kembali pada gagasan dasar PPM.

Kesejahteraan bukan sekadar keadaan ketika kebutuhan telah terpenuhi.

Kesejahteraan adalah kemampuan manusia dan masyarakat untuk terus memenuhi, mengembangkan, dan memperbaiki kehidupannya secara mandiri, bersama, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Karena itu, delapan pilar bukanlah tujuan akhir.

Ia adalah jalan.

Jalan untuk membangun manusia.

Jalan untuk membangun masyarakat.

Dan pada akhirnya, jalan untuk membangun peradaban.

Membangun Kehidupan yang Utuh

Masyarakat sejahtera tidak lahir dari satu proyek.

Ia tumbuh dari proses panjang.

Dari ekonomi yang memberi kemampuan.

Dari pendidikan yang membangun kesadaran.

Dari kesehatan yang menjaga kualitas hidup.

Dari teknologi yang memperkuat kemampuan.

Dari lingkungan yang dijaga bersama.

Dari kebudayaan yang memberi identitas.

Dari generasi yang disiapkan.

Dan dari emansipasi yang memberi manusia kemampuan menentukan masa depannya.

Delapan pilar, satu kehidupan.

Karena kesejahteraan bukan sekadar memiliki lebih banyak.

Kesejahteraan adalah ketika manusia menjadi lebih mampu, lebih mandiri, lebih bermartabat, dan lebih mampu membangun kehidupan bersama.

Di situlah masyarakat bergerak dari sekadar menjadi penerima pembangunan menuju pelaku pembangunan.

Dari masyarakat yang dibangun menjadi masyarakat yang membangun dirinya sendiri.

Dan dari proses itulah peradaban tumbuh.(ppmindonesia)

PPM — Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat, Untuk Peradaban.

Example 120x600