Pasca-PENAS IX, seluruh keluarga besar Pusat Peranserta Masyarakat perlu kembali menyatukan langkah, menghormati keputusan bersama, dan menggerakkan pemberdayaan masyarakat.
JAKARTA.PPMIndonesia.com-Setiap organisasi memiliki dinamika dan tantangan dalam perjalanan sejarahnya. Perbedaan pandangan, kepentingan, serta cara berpikir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan organisasi. Namun, organisasi yang matang bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam sebuah organisasi, musyawarah merupakan ruang untuk mempertemukan berbagai pandangan, menyampaikan aspirasi, dan mengambil keputusan. Musyawarah tidak dimaksudkan untuk mempertahankan perbedaan tanpa akhir, tetapi untuk menemukan kesepakatan yang menjadi pijakan bersama dalam melangkah ke depan.
Ketika keputusan telah ditetapkan melalui mekanisme yang disepakati, seluruh anggota organisasi memiliki tanggung jawab untuk menghormatinya dan melaksanakannya.
Prinsip inilah yang perlu menjadi perhatian seluruh keluarga besar Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) setelah berakhirnya Pertemuan Nasional (PENAS) IX pada 29–31 Oktober 2026.
PENAS IX telah menyelesaikan agenda permusyawaratan dan menetapkan berbagai keputusan penting bagi masa depan organisasi, termasuk kepemimpinan Presidium Nasional yang baru. Kini, saatnya seluruh kader mengalihkan perhatian dari dinamika proses menuju pelaksanaan hasil keputusan.
PPM tidak boleh terus-menerus menghabiskan energi untuk mengulang perdebatan yang telah diselesaikan dalam forum tertinggi organisasi. Tantangan masyarakat semakin besar dan membutuhkan kehadiran organisasi yang kuat, solid, dan mampu bekerja nyata.
PENAS IX telah selesai. Perjuangan PPM tidak boleh berhenti.
Organisasi Besar Tidak Boleh Terjebak dalam Persoalan Internal
PPM merupakan organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam gerakan pemberdayaan masyarakat. Sejak awal, PPM dibangun dengan cita-cita menjadikan masyarakat sebagai subjek perubahan, bukan sekadar objek pembangunan.
Cita-cita tersebut membutuhkan organisasi yang memiliki kekuatan moral, kapasitas kelembagaan, jaringan kader, serta kemampuan untuk bekerja bersama masyarakat.
Namun, kekuatan organisasi tidak hanya ditentukan oleh sejarah dan besarnya cita-cita. Kekuatan organisasi juga ditentukan oleh kedewasaan para kader dalam menjaga persaudaraan, menghormati keputusan, dan menyelesaikan persoalan secara bijaksana.
Setiap organisasi tentu memiliki dinamika internal. Perbedaan pandangan dalam menentukan kepemimpinan, menyusun struktur, maupun merumuskan program merupakan hal yang wajar.
Akan tetapi, ketika seluruh proses telah melalui mekanisme permusyawaratan dan menghasilkan keputusan bersama, tidak semestinya organisasi kembali terjebak dalam perdebatan yang sama.
Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun masyarakat justru habis untuk membicarakan persoalan internal.
Kita perlu memahami bahwa organisasi bukan dibangun untuk melayani kepentingan pengurus, melainkan pengurus hadir untuk melayani tujuan organisasi.
Karena itu, ukuran keberhasilan PPM bukan terletak pada seberapa lama perdebatan berlangsung atau seberapa banyak persoalan internal dibicarakan, tetapi pada kemampuan organisasi menghasilkan karya dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
PENAS IX Telah Memberikan Mandat Kepemimpinan
PENAS IX merupakan forum pengambilan keputusan tertinggi dalam organisasi PPM. Forum ini menjadi ruang evaluasi perjalanan organisasi, perumusan arah perjuangan, serta penetapan kebijakan dan kepemimpinan nasional.
PENAS IX yang dibuka oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Moh. Jumhur Hidayat, yang juga merupakan tokoh dan kader PPM, menjadi momentum penting bagi konsolidasi keluarga besar PPM dari berbagai wilayah dan daerah.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dialog strategis juga menghadirkan Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Ir. Ary Sudijanto, M.S.E., serta Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan Drs. Nugroho Setijo Negoro, M.Si.
Berbagai pembahasan tersebut memperlihatkan luasnya ruang kontribusi PPM dalam persoalan lingkungan hidup, pembangunan desa, dan pemberdayaan masyarakat.
Salah satu keputusan penting PENAS IX adalah penetapan tujuh Presidium Nasional, yaitu:
- Pupun Purwana sebagai Ketua Presidium.
- Cecep Ahmad Yasin sebagai Anggota Presidium.
- Ainur Rofiq sebagai Anggota Presidium.
- Faisal Ishaq sebagai Anggota Presidium.
- Menik Sumasroh sebagai Anggota Presidium.
- Nani Afril Lianty sebagai Anggota Presidium.
- Usup Supriatna sebagai Anggota Presidium.
Perubahan komposisi Presidium dari lima menjadi tujuh orang merupakan bagian dari keputusan PENAS IX. Perubahan ini diharapkan memperkuat kepemimpinan kolektif, meningkatkan kapasitas pelayanan organisasi, dan memperluas koordinasi dengan PPM wilayah serta daerah.
Keputusan tersebut harus menjadi pijakan bersama untuk melangkah ke depan.
Tidak ada kepemimpinan yang sempurna. Setiap keputusan organisasi tentu memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun, kedewasaan berorganisasi terlihat dari kesediaan menerima hasil permusyawaratan dan memperbaiki kekurangan melalui mekanisme yang berlaku.
Apabila masih terdapat persoalan teknis maupun perbedaan pandangan, penyelesaiannya harus dilakukan melalui komunikasi dan mekanisme organisasi sesuai AD/ART, bukan dengan membuka kembali keputusan yang telah ditetapkan tanpa prosedur yang semestinya.
Tujuh Presidium Harus Segera Bekerja
Dengan telah ditetapkannya tujuh Presidium, pekerjaan berikutnya adalah membangun kepemimpinan kolektif yang solid.
Tujuh orang dengan pengalaman, pemikiran, dan latar belakang yang berbeda harus mampu menyatukan langkah untuk satu tujuan yang sama, yaitu memperkuat PPM.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membangun chemistry di antara anggota Presidium. Chemistry bukan berarti semua harus memiliki pemikiran yang sama, melainkan memiliki kepercayaan, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling melengkapi.
Ketua Presidium harus mampu menjadi penggerak dan koordinator kepemimpinan kolektif. Sementara itu, setiap anggota Presidium perlu mengambil tanggung jawab secara aktif sesuai pembagian tugas yang disepakati.
Agenda berikutnya adalah segera menyelesaikan pembentukan kepengurusan nasional, termasuk penetapan Sekretaris Jenderal dan perangkat organisasi lainnya sesuai mekanisme organisasi.
PPM membutuhkan kepengurusan yang dapat bekerja, bukan sekadar struktur yang tercantum dalam dokumen.
Pembagian tugas harus jelas. Koordinasi harus berjalan. Program harus memiliki target. Dan setiap keputusan harus dapat dilaksanakan.
Kepemimpinan nasional juga harus mampu membangun hubungan yang kuat dengan PPM wilayah dan daerah. Jangan sampai Presidium hanya sibuk dengan persoalan internal, sementara kebutuhan kader dan aktivis di daerah tidak mendapatkan perhatian.
Tujuh Presidium, satu amanah, satu tujuan, dan satu tanggung jawab untuk membangun masa depan PPM.
PPM Bukan Organisasi untuk Kepentingan Pribadi dan Kelompok
Hal mendasar yang harus terus diingat oleh setiap kader adalah bahwa PPM bukan organisasi yang dibangun untuk kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan.
Jabatan dalam PPM merupakan amanah pengabdian. Kepemimpinan harus dijalankan dengan keikhlasan, integritas, dan tanggung jawab.
Dalam perspektif Islam, manusia diberikan amanah sebagai khalifah di bumi. Amanah tersebut mengandung tanggung jawab untuk menjaga kehidupan, membangun keadilan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Karena itu, gerakan PPM harus terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, agama, golongan, maupun aliran.
PPM harus menjadi ruang perjumpaan berbagai potensi masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
Kepemimpinan bukan kesempatan untuk memperkuat pengaruh pribadi, melainkan kesempatan untuk memperluas manfaat bagi masyarakat.
Seorang kader tidak dinilai dari jabatan yang disandang, gelar akademik, atau kedekatannya dengan pusat kekuasaan organisasi. Yang membedakan adalah karya, integritas, dan pengabdian dalam pemberdayaan masyarakat.
Inilah nilai yang harus dijaga agar PPM tetap berada pada jalur perjuangannya.
Merawat Persaudaraan sebagai Kekuatan PPM
Salah satu kekuatan utama PPM adalah tradisi persaudaraan yang telah tumbuh dalam perjalanan organisasi.
PPM bukan hanya kumpulan orang yang terikat oleh struktur dan aturan administratif. PPM adalah keluarga besar yang disatukan oleh silaturahmi, kebersamaan, dan cita-cita pengabdian.
Dalam tradisi PPM, tidak seharusnya ada sekat berdasarkan gelar akademik, jabatan, pangkat, maupun kedudukan sosial.
Sapaan Mas, Mbak, Kang, Neng, dan panggilan kekeluargaan lainnya sesuai tradisi daerah mencerminkan hubungan yang akrab dan setara.
Gelar akademik dan kehormatan tentu patut dihargai, tetapi tidak boleh menjadi pembatas dalam hubungan persaudaraan.
Yang membedakan seorang kader bukanlah gelar yang dimiliki, melainkan karya dan kontribusinya bagi masyarakat.
Administrasi organisasi, tata kelola, dan standar operasional prosedur tetap diperlukan untuk membangun organisasi yang profesional. Namun, semuanya harus menjadi sarana untuk memperkuat kerja bersama, bukan menjadi sekat yang menjauhkan kader.
Persaudaraan harus tetap menjadi ruh organisasi. Profesionalisme menjadi cara kerja, sedangkan pemberdayaan masyarakat merupakan tujuan perjuangan.
Jangan sampai perbedaan dalam proses organisasi merusak hubungan persaudaraan yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Menghidupkan Kembali Semangat Para Sesepuh
Perjalanan PPM tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para pendiri, sesepuh, dan kader senior yang telah meletakkan fondasi organisasi.
Mereka membangun PPM dengan pemikiran, pengorbanan, dan cita-cita untuk menghadirkan masyarakat yang lebih berdaya.
Sebagian dari mereka telah lebih dahulu menghadap Allah SWT. Namun, nilai perjuangan dan keteladanan mereka harus terus hidup dalam diri generasi penerus.
Menghormati para pendahulu bukan hanya dengan mengenang sejarah dan nama mereka, melainkan dengan meneruskan cita-cita yang telah dirintis.
Generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjadikan PPM sebagai organisasi yang semakin kuat, terbuka, profesional, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Jangan sampai perjuangan panjang para pendahulu justru melemah karena generasi penerus lebih sibuk memperdebatkan jabatan daripada meneruskan pengabdian.
Sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk bergerak maju, bukan sekadar kenangan masa lalu.
Masa Depan PPM Ada pada Kerja Nyata Pemberdayaan
Tantangan terbesar PPM ke depan adalah bagaimana menerjemahkan keputusan organisasi menjadi gerakan pemberdayaan yang nyata.
Persoalan kedaulatan pangan, kesehatan, pendidikan, ekonomi kerakyatan, koperasi, pertanian berkelanjutan, lingkungan hidup, dan pembangunan desa merupakan bidang yang membutuhkan perhatian serius.
PPM memiliki potensi kader, pengalaman, jaringan, dan kelembagaan yang dapat dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan tersebut.
Presidium Nasional harus mampu menghubungkan potensi itu menjadi kekuatan bersama.
PPM wilayah dan daerah perlu mendapatkan dukungan agar dapat mengembangkan program sesuai kebutuhan dan potensi masyarakat setempat.
Kader yang memiliki pengalaman di bidang pertanian dapat memperkuat gerakan kedaulatan pangan. Kader yang bergerak di bidang ekonomi dapat mengembangkan koperasi dan usaha masyarakat. Kader yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan dapat menggerakkan pengelolaan sampah, ekonomi sirkular, dan pemulihan lingkungan.
Demikian pula dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan pembangunan desa.
Semua potensi tersebut harus ditempatkan dalam satu kerangka gerakan pemberdayaan yang saling mendukung.
Keberhasilan PPM bukan diukur dari banyaknya kegiatan seremonial atau dokumen program kerja, tetapi dari perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Inilah masa depan PPM yang harus dibangun bersama.
Jangan Mengulang Perdebatan, Saatnya Membangun Masa Depan PPM
PENAS IX telah selesai. Keputusan telah ditetapkan. Amanah kepemimpinan telah diberikan.
Kini saatnya seluruh keluarga besar PPM kembali menyatukan langkah.
Kepada tujuh Presidium terpilih, jalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Bangun komunikasi, ciptakan chemistry, dan segera wujudkan kepengurusan yang mampu bekerja secara kolektif.
Kepada PPM wilayah dan daerah, mari memberikan dukungan serta memperkuat koordinasi dengan kepemimpinan nasional.
Kepada seluruh kader dan aktivis, mari menjaga persaudaraan dan menghidupkan kembali semangat pengabdian.
Perbedaan pandangan tidak perlu dihilangkan, tetapi harus dikelola dengan kedewasaan. Kritik tetap diperlukan, tetapi harus diarahkan untuk memperbaiki organisasi. Keputusan bersama harus dihormati, dan amanah kepemimpinan harus dilaksanakan.
PPM tidak membutuhkan perdebatan yang tidak berkesudahan. PPM membutuhkan kader yang mau bekerja, pemimpin yang bersedia melayani, dan organisasi yang hadir di tengah masyarakat.
Masa depan PPM tidak ditentukan oleh siapa yang paling berkuasa dalam struktur, tetapi oleh seberapa kuat seluruh kader mampu membangun persaudaraan dan menghasilkan karya pemberdayaan.
Jangan mengulang perdebatan yang telah diselesaikan. Jangan biarkan kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan organisasi. Jangan biarkan perbedaan meruntuhkan persaudaraan.
Saatnya bergerak bersama, memperkuat organisasi, dan meneruskan perjuangan para pendahulu.
Dari persaudaraan menuju pemberdayaan. Dari pemberdayaan menuju kemandirian. Dari kemandirian menuju peradaban. (ppmindonesia)





























