Al-Qur’an memuliakan ilmu, tetapi apakah ilmu dimaksudkan untuk menjadikan seseorang tidak boleh dikritik, atau justru untuk membawanya semakin tunduk kepada kebenaran?
JAKARTA.PPMIndonesia.com– Dalam kehidupan keagamaan, kata “ilmu” sering kali memiliki kekuatan yang sangat besar.
Ketika seseorang disebut “orang berilmu”, “ahli agama”, “ulama”, atau memiliki latar belakang pendidikan tertentu, pendapatnya sering ditempatkan lebih tinggi daripada pendapat orang lain.
Pada satu sisi, menghargai orang yang memiliki pengetahuan tentu merupakan sikap yang wajar.
Namun persoalan muncul ketika ilmu berubah menjadi legitimasi otoritas.
Pendapat seseorang diterima bukan karena argumentasinya dapat diuji berdasarkan Al-Qur’an, tetapi karena siapa yang mengatakannya.
Pertanyaan pentingnya:
Apakah Al-Qur’an menjadikan gelar dan status keilmuan sebagai sumber kebenaran?
Ataukah Al-Qur’an justru mengajarkan bahwa orang berilmu adalah mereka yang semakin mampu mengenali kebenaran, tunduk kepada Allah, menggunakan akal, dan tidak menjadikan dirinya sebagai pengganti wahyu?
Inilah yang perlu ditelusuri melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an: membaca ayat dengan ayat, sehingga makna “ilmu” tidak ditentukan hanya oleh konstruksi sosial di luar Al-Qur’an.
ILMU DISEBUT MULIA, TETAPI UNTUK APA?
Al-Qur’an memang memberikan kedudukan tinggi kepada orang-orang yang beriman dan diberi ilmu.
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al-Mujadilah [58]:11)
Ayat ini sering digunakan untuk menunjukkan kemuliaan orang berilmu.
Tetapi ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Ayat tidak mengatakan:
“Allah mengangkat orang yang memiliki gelar.”
Tidak pula mengatakan:
“Allah mengangkat orang yang memiliki otoritas untuk selalu diikuti.”
Ayat berbicara tentang:
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ
“orang-orang yang diberi ilmu.”
Dan ayat tersebut ditutup dengan:
وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Dengan demikian, kemuliaan ilmu tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab moral dan amal.
Ilmu bukan sekadar status.
APA YANG DILAKUKAN ORANG YANG DIBERI ILMU?
Untuk mengetahui maksudnya, kita membaca ayat tersebut bersama ayat lain.
Allah berfirman:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu mengetahui bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya. Dan sungguh, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”
(QS Al-Hajj [22]:54)
Ayat ini memberikan pola yang sangat jelas:
أُوتُوا الْعِلْمَ
orang-orang yang diberi ilmu
↓
أَنَّهُ الْحَقُّ
mengetahui bahwa itu adalah kebenaran
↓
فَيُؤْمِنُوا بِهِ
lalu mereka beriman
↓
فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
hati mereka tunduk.
Jadi, apa buah ilmu?
Bukan pertama-tama otoritas.
Buah ilmu adalah pengenalan terhadap kebenaran yang melahirkan iman dan ketundukan hati.
ILMU BUKAN LISENSI UNTUK MENGUASAI KEBENARAN
Di sinilah perbedaan antara ilmu dan otoritas yang dibangun atas nama ilmu menjadi penting.
Orang berilmu dapat menjelaskan sesuatu.
Orang berilmu dapat menjadi rujukan.
Orang berilmu dapat membantu orang lain memahami wahyu.
Tetapi tidak berarti bahwa dirinya menjadi pemilik kebenaran.
Kebenaran tetap milik Allah.
Al-Qur’an berulang kali mengarahkan manusia kembali kepada wahyu.
Allah berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS Yusuf [12]:40)
Frasa:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
menempatkan sumber keputusan tertinggi pada Allah.
Maka siapa pun yang memiliki ilmu tetap berada dalam posisi sebagai hamba yang belajar, bukan sebagai pemilik mutlak kebenaran.
APA BEDANYA ILMU DENGAN OTORITAS?
Dalam perspektif Qur’ani, kita perlu membedakan tiga hal:
1. Orang yang mengetahui
Ia memiliki pengetahuan tentang suatu persoalan.
2. Orang yang menjelaskan
Ia dapat membantu orang lain memahami sesuatu berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.
3. Orang yang harus selalu ditaati
Ini adalah persoalan berbeda.
Al-Qur’an tidak secara otomatis menjadikan setiap orang berilmu sebagai pemegang otoritas mutlak yang harus diterima semua perkataannya.
Sebab manusia tetap mungkin benar dan mungkin salah.
Bahkan Al-Qur’an mengingatkan:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.”
(QS Yusuf [12]:76)
Ayat ini sangat penting.
Sebanyak apa pun ilmu seseorang, tetap ada Yang Maha Mengetahui.
Allah adalah Al-‘Alīm.
Manusia adalah makhluk yang diberi sebagian pengetahuan.
“DI ATAS SETIAP ORANG BERILMU ADA YANG MAHA MENGETAHUI”
Ayat QS Yusuf [12]:76 memberikan sebuah prinsip epistemologis yang sangat kuat.
Tidak ada manusia yang boleh menjadikan pengetahuannya sebagai alasan untuk merasa telah menguasai seluruh kebenaran.
Bahkan seorang yang sangat berilmu tetap memiliki keterbatasan.
Karena itu:
ilmu seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan intelektual.
Semakin seseorang memahami luasnya pengetahuan, semakin ia menyadari keterbatasan dirinya.
ORANG BERILMU DALAM AL-QUR’AN: MENGENALI KEBENARAN
QS Saba’ [34]:6 memberikan gambaran lain:
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
“Dan orang-orang yang telah diberi ilmu melihat bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan memberi petunjuk kepada jalan Allah Yang Mahaperkasa, Yang Maha Terpuji.”
(QS Saba’ [34]:6)
Sekali lagi, karakter ilmu yang muncul adalah:
melihat kebenaran.
Bukan:
mendapatkan posisi untuk menguasai orang lain.
Ini merupakan perbedaan mendasar.
Ilmu yang benar membawa manusia kepada Al-Haqq.
Otoritas yang salah dapat membawa manusia kepada pengkultusan manusia.
AL-QUR’AN TIDAK MENGAJARKAN KEPATUHAN BUTA
Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS Al-Isra’ [17]:36)
Ayat ini menempatkan manusia sebagai subjek yang bertanggung jawab terhadap apa yang diikutinya.
Artinya, seseorang tidak dapat begitu saja berkata:
“Saya hanya mengikuti tokoh.”
“Saya hanya mengikuti guru.”
“Saya hanya mengikuti orang yang dianggap alim.”
Pada akhirnya, setiap manusia tetap bertanggung jawab atas apa yang ia dengar, lihat, pikirkan, dan ikuti.
MENDENGAR PERKATAAN, LALU MENILAI
Al-Qur’an memberikan gambaran menarik mengenai orang yang menggunakan akalnya:
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
(QS Az-Zumar [39]:18)
Perhatikan mekanismenya:
يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ
mendengarkan perkataan
kemudian:
فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
mengikuti yang terbaik.
Ini menunjukkan bahwa seseorang tidak kehilangan akalnya hanya karena mendengar pendapat orang yang lebih berpengetahuan.
Sebaliknya, ia tetap menggunakan kemampuan berpikirnya.
SIAPA YANG MENJADI UKURAN?
Jika seseorang mengatakan:
“Ini benar karena saya yang mengatakan.”
maka kita perlu bertanya:
Apa dasar kebenarannya?
Jika jawabannya:
“Karena saya orang berilmu.”
maka pertanyaan berikutnya:
“Apa yang dikatakan Al-Qur’an?”
Sebab ilmu seseorang bukanlah wahyu.
Ilmu manusia adalah hasil pemahaman manusia.
Karena itu, pemahaman manusia dapat diuji, dibandingkan, dikaji, dan bahkan dikoreksi.
AL-QUR’AN MENGKRITIK PENGAMBILAN OTORITAS KEAGAMAAN
Ada ayat yang sangat penting dalam persoalan ini.
Allah berfirman:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan juga Al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS At-Taubah [9]:31)
Ayat ini tidak boleh dibaca secara simplistis sebagai larangan menghormati orang berilmu.
Persoalannya lebih dalam.
Yang dikritik adalah ketika manusia diberi posisi seperti otoritas ketuhanan.
Ketika perkataan manusia memperoleh kedudukan yang tidak boleh dipertanyakan.
Ketika keputusan keagamaan manusia menjadi seolah-olah keputusan Allah.
Di sinilah tauhid diuji.
KETIKA “KATA SIAPA?” MENGALAHKAN “APA DASARNYA?”
Dalam budaya keagamaan, pertanyaan:
“Siapa yang mengatakan?”
sering kali lebih kuat daripada:
“Apa yang dikatakan?”
Padahal Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk menimbang perkataan.
Bahkan terhadap orang yang dianggap memiliki kedudukan sekalipun.
Karena itu, Qur’an bil Qur’an tidak berarti menolak pengetahuan manusia.
Pendekatan ini justru mengajak kembali kepada prinsip:
Setiap pemahaman manusia perlu diuji dengan Al-Qur’an.
Bukan nama orang yang menjadi ukuran terakhir.
Bukan gelar.
Bukan popularitas.
Bukan jumlah pengikut.
Melainkan kesesuaian dengan wahyu dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
“AL-‘ULAMĀ’” DAN MAKNA KHASYAH
Al-Qur’an memang menyebut:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ‘ulamā’.”
(QS Fathir [35]:28)
Namun ayat ini justru memberikan ukuran yang sangat penting.
Apa ciri al-‘ulamā’?
يَخْشَى اللَّهَ
Mereka memiliki khashyah terhadap Allah.
Dengan demikian, istilah tersebut tidak semestinya hanya dibaca sebagai label sosial.
Al-Qur’an menunjukkan karakter.
Ilmu menghasilkan kesadaran terhadap Allah.
Ilmu menghasilkan ketundukan.
Ilmu tidak menjadikan manusia merasa setara dengan sumber wahyu.
ILMU YANG MELAHIRKAN KEADILAN
Kembali kepada QS Ali ‘Imran [3]:18:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; demikian pula para malaikat dan orang-orang yang memiliki ilmu, yang menegakkan keadilan.”
(QS Ali ‘Imran [3]:18)
Di sini terdapat tiga unsur yang sangat kuat:
TAUHID
↓
ILMU
↓
KEADILAN
Maka ilmu yang benar seharusnya membawa manusia kepada keadilan.
Bukan kepada kesewenang-wenangan.
Bukan kepada pengkultusan.
Bukan kepada pembungkaman.
Bukan kepada klaim:
“Saya berilmu, maka saya tidak boleh dipertanyakan.”
Justru semakin tinggi ilmu, semakin tinggi pula tanggung jawab untuk berlaku adil.
ILMU DAN KERENDAHAN HATI
Al-Qur’an memberikan satu prinsip yang sangat sederhana:
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
(QS Al-Isra’ [17]:85)
Jika manusia hanya diberi sedikit ilmu, lalu bagaimana mungkin ilmu tersebut dijadikan alasan untuk mengklaim kepemilikan mutlak atas kebenaran?
Ayat ini seharusnya melahirkan tawaduk intelektual.
Orang berilmu bukan orang yang merasa sudah selesai belajar.
Orang berilmu justru menyadari bahwa masih banyak yang tidak diketahuinya.
ILMU SEHARUSNYA MEMBEBASKAN AKAL, BUKAN MEMBUNGKAMNYA
Jika ilmu digunakan untuk mengatakan:
“Jangan berpikir.”
“Jangan bertanya.”
“Jangan menguji.”
“Jangan membaca sendiri.”
“Cukup ikuti saya.”
maka kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah itu benar-benar karakter ilmu yang digambarkan Al-Qur’an?
Sebab Al-Qur’an justru berkali-kali menyeru manusia untuk berpikir, memperhatikan, menggunakan akal, dan tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan.
Allah berfirman:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Tidakkah kamu menggunakan akal?”
Dan berulang kali Al-Qur’an mengajak manusia:
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ
“Tidakkah mereka mentadabburi?”
Dengan demikian, ilmu tidak seharusnya mematikan akal.
Ilmu justru membantu akal membaca tanda-tanda Allah dan memahami kebenaran.
OTORITAS MANUSIA ATAU OTORITAS WAHYU?
Dalam kehidupan bermasyarakat, otoritas keilmuan tentu dapat memiliki fungsi.
Kita membutuhkan guru.
Kita membutuhkan ahli.
Kita membutuhkan peneliti.
Kita membutuhkan orang yang memiliki pengalaman.
Tetapi semua itu adalah otoritas keahlian, bukan otoritas ketuhanan.
Seorang ahli dapat memberikan pendapat.
Seorang guru dapat mengajarkan pengetahuan.
Seorang ulama dapat memberikan pemahaman.
Namun:
Allah tetap satu-satunya Tuhan.
Wahyu tetap menjadi wahyu.
Manusia tetap manusia.
Dan pemahaman manusia terhadap wahyu tetap merupakan hasil ijtihad manusia.
Perbedaan ini sangat penting agar menghormati ahli tidak berubah menjadi mengultuskan manusia.
POLA QUR’AN BIL QUR’AN
Jika seluruh ayat di atas disusun, terlihat pola yang konsisten:
1. ILMU
أُوتُوا الْعِلْمَ
Manusia diberi ilmu.
2. MENGENALI KEBENARAN
أَنَّهُ الْحَقُّ
Ilmu membuat manusia mengenali kebenaran.
3. IMAN
فَيُؤْمِنُوا بِهِ
Pengenalan terhadap kebenaran melahirkan iman.
4. KETUNDUKAN HATI
فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ
Hati menjadi tunduk.
5. KHASYAH
يَخْشَى اللَّهَ
Kesadaran kepada Allah semakin kuat.
6. KEADILAN
قَائِمًا بِالْقِسْطِ
Ilmu berkaitan dengan penegakan keadilan.
7. KERENDAHAN HATI
وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Manusia menyadari keterbatasan pengetahuannya.
Jadi:
ILMU DALAM AL-QUR’AN BUKAN TANGGA MENUJU PENGUASAAN MANUSIA, MELAINKAN JALAN MENUJU PENGENALAN KEBENARAN DAN KETUNDUKAN KEPADA ALLAH.
LALU, APA PESAN AL-QUR’AN?
Pesannya bukan:
“Jangan dengarkan orang berilmu.”
Bukan pula:
“Semua orang sama dalam keahlian.”
Yang ditekankan adalah:
Jangan mengubah keahlian manusia menjadi otoritas mutlak atas kebenaran.
Hormati orang yang berilmu.
Belajarlah dari orang yang memiliki kompetensi.
Dengarkan penjelasan mereka.
Tetapi tetap gunakan akal.
Periksa argumentasinya.
Bandingkan dengan wahyu.
Dan jangan mengangkat manusia ke posisi yang hanya layak bagi Allah.
KOTAK RENUNGAN
Ketika Gelar Menjadi Perisai dari Pertanyaan
Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin dekat kepada kebenaran.
Tetapi ketika “ilmu” dijadikan perisai agar seseorang tidak boleh ditanya, dikritik, atau diuji, maka yang sedang bekerja bukan lagi sekadar ilmu.
Sudah muncul persoalan otoritas.
Pertanyaan yang perlu dijaga adalah:
Apakah kita menerima sebuah pendapat karena memang benar, atau karena orang yang mengucapkannya dianggap berilmu?
Jika karena yang kedua, maka kita perlu berhati-hati.
Sebab Al-Qur’an tidak mengajarkan:
“Ikuti seseorang karena gelarnya.”
Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk:
mendengar → menggunakan akal → mengenali kebenaran → mengikuti yang terbaik.
PENUTUP
Al-Qur’an memberikan penghargaan tinggi kepada ilmu.
Namun penghargaan itu tidak dimaksudkan untuk menciptakan kasta manusia yang memonopoli kebenaran.
Orang yang diberi ilmu dalam Al-Qur’an justru digambarkan sebagai mereka yang mengenali kebenaran, beriman, hatinya tunduk, memiliki khashyah kepada Allah, dan menegakkan keadilan.
Karena itu, ketika ilmu dijadikan legitimasi untuk membangun otoritas yang tidak boleh dipertanyakan, kita perlu kembali kepada Al-Qur’an.
Siapa pun manusianya, ia tetap manusia.
Sebesar apa pun ilmunya, ia tetap memiliki keterbatasan.
Setinggi apa pun gelarnya, ia bukan pemilik wahyu.
Dan di atas setiap orang yang berilmu tetap ada:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.”
(QS Yusuf [12]:76)
Karena itu, ilmu tidak seharusnya menjadi legitimasi untuk menguasai kebenaran.
Ilmu seharusnya menjadi jalan untuk mengenali kebenaran, tunduk kepada Allah, menggunakan akal, dan menegakkan keadilan.
KESIMPULAN KAJIAN SYAHIDA
BUKAN:
ILMU → GELAR → OTORITAS → HARUS DIIKUTI
MELAINKAN:
ILMU → MENGENALI KEBENARAN → IMAN → KETUNDUKAN → KHASYAH → KEADILAN
Inilah pesan yang dapat ditangkap ketika ayat-ayat tentang ‘ilm dibaca melalui ayat-ayat Al-Qur’an lainnya.
Ilmu bukan mahkota untuk meninggikan manusia di atas manusia lainnya.
Ilmu adalah amanah untuk mendekatkan manusia kepada kebenaran. (syahida)





























