Scroll untuk baca artikel
Berita

Benarkah Al-Qur’an Mudah Dipahami? Telaah Ayat-Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

3
×

Benarkah Al-Qur’an Mudah Dipahami? Telaah Ayat-Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

Al-Qur’an: Kitab yang Dijelaskan atau Kitab yang Sulit Dipahami?

JAKARTA.PPMIndonesia.com– Ketika seseorang membuka Al-Qur’an, mungkin muncul sebuah pertanyaan mendasar: apakah Al-Qur’an memang diturunkan untuk dapat dipahami manusia, atau hanya dapat dipahami oleh kelompok tertentu yang memiliki otoritas keagamaan?

Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika berhadapan dengan istilah muhkamat dan mutasyabihat sebagaimana disebutkan dalam QS Ali ‘Imran ayat 7.

Sebagian orang memahami ayat tersebut sebagai bukti bahwa sebagian Al-Qur’an memang tidak dapat dipahami manusia secara pasti. Sebagian lainnya menjadikannya alasan bahwa untuk memahami Al-Qur’an seseorang harus menyerahkan makna ayat kepada otoritas tertentu.

Namun, bagaimana jika ayat-ayat Al-Qur’an dibaca bersama ayat-ayat Al-Qur’an lainnya?

Inilah yang menjadi perhatian dalam Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an.

Prinsip dasarnya sederhana:

Ketika Al-Qur’an berbicara tentang dirinya sendiri, penjelasan pertama yang perlu diperiksa adalah penjelasan Al-Qur’an itu sendiri.

Al-Qur’an Menyatakan Dirinya Mudah untuk Diingat

Ada sejumlah ayat yang berulang kali menggunakan ungkapan yang sangat menarik:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

QS Al-Qamar [54]: 17

Ungkapan yang sama muncul kembali dalam QS Al-Qamar ayat 22, 32, dan 40.

Pengulangan tersebut penting.

Al-Qur’an tidak hanya mengatakan bahwa dirinya diturunkan, tetapi juga menyatakan bahwa ia “yassarnā” — telah Kami mudahkan untuk adz-dzikr.

Pertanyaannya kemudian:

Apa yang dimaksud dengan kemudahan tersebut?

Apakah berarti setiap ayat dapat dipahami tanpa proses berpikir?

Tentu tidak.

Kemudahan tidak identik dengan kesederhanaan.

Sebuah kitab dapat mudah diakses, dibaca, direnungkan, dan dipelajari, tetapi tetap memiliki kedalaman makna yang membutuhkan kesungguhan.

Al-Qur’an Diturunkan dengan Bahasa yang Dapat Dipahami

Al-Qur’an juga menjelaskan alasan digunakannya bahasa Arab.

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti.”

QS Yusuf [12]: 2

Perhatikan ujung ayat:

لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“agar kamu mengerti.”

Bahasa wahyu bukan sekadar kode yang hanya boleh diterima tanpa pemahaman.

Al-Qur’an menghubungkan bahasa wahyu dengan akal.

Hal yang sama dinyatakan dalam ayat lain:

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menjadikannya Al-Qur’an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti.”

QS Az-Zukhruf [43]: 3

Dengan demikian, membaca Al-Qur’an seharusnya tidak berhenti pada pengucapan.

Ada proses ‘aql, memahami, menghubungkan, dan merenungkan.

Bahkan Al-Qur’an Menyebut Dirinya sebagai Kitab yang Dijelaskan

Allah berfirman:

الر ۚ كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ

“Alif Lam Ra. Inilah Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan kokoh, kemudian dijelaskan secara terperinci, yang berasal dari Yang Mahabijaksana, Mahateliti.”

QS Hud [11]: 1

Perhatikan dua kata penting:

أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ

ayat-ayatnya disusun dengan kokoh

dan:

فُصِّلَتْ

kemudian dijelaskan secara terperinci.

Ayat ini memberi gambaran bahwa Al-Qur’an memiliki struktur yang kokoh sekaligus penjelasan yang terperinci.

Lalu bagaimana dengan istilah mutasyabihat?

Kita perlu kembali kepada ayat yang menjadi pusat pembahasan.

QS Ali ‘Imran Ayat 7: Muhkamat dan Mutasyabihat

Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dialah yang menurunkan Kitab kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Kitab, dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, ‘Kami beriman kepadanya; semuanya dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”

QS Ali ‘Imran [3]: 7

Ayat ini sering menjadi dasar pernyataan bahwa Al-Qur’an memiliki ayat-ayat yang tidak dapat dipahami.

Tetapi ada persoalan metodologis yang perlu diperhatikan:

Apakah “mutasyabihat” berarti ayat yang sama sekali tidak dapat dipahami?

Atau apakah ayat tersebut memiliki karakter tertentu yang perlu dibaca dengan ayat-ayat lain?

Untuk menjawabnya, kita perlu melakukan Qur’an bil Qur’an.

Apa yang Dimaksud “Muhkamat”?

Ayat tersebut menyebut:

آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ

dan langsung memberikan penjelasan:

هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ

“itulah pokok-pokok isi Kitab.”

Ini menunjukkan bahwa muhkamat memiliki posisi fundamental.

Ia menjadi umm al-kitab — pokok atau induk Kitab.

Dengan demikian, ketika terdapat ayat yang membutuhkan kehati-hatian dalam pemaknaan, salah satu prinsip pentingnya adalah mengembalikannya kepada pokok-pokok yang jelas dari Al-Qur’an.

Ini sejalan dengan metode Al-Qur’an bil Al-Qur’an:

ayat yang lebih jelas menjadi bagian dari kerangka untuk memahami ayat yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut.

Mengapa Ada Ayat Mutasyabihat?

Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa keberadaan mutasyabihat adalah kesalahan atau kekurangan.

Sebaliknya, Allah menyebut keduanya sebagai bagian dari Kitab.

Namun ayat tersebut memberikan peringatan tentang sikap manusia.

فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari fitnah…”

Masalah yang disoroti ayat bukan sekadar keberadaan ayat mutasyabihat.

Masalahnya adalah cara manusia memperlakukannya.

Ayat tersebut bahkan menghubungkan persoalan itu dengan:

زَيْغٌ

penyimpangan atau kecenderungan yang menyimpang dalam hati.

Artinya, problem memahami Al-Qur’an tidak selalu terletak pada teks.

Kondisi pembacanya juga menentukan.

Al-Qur’an Memerintahkan Tadabbur

Jika sebagian ayat membutuhkan pemikiran mendalam, apa yang diperintahkan Al-Qur’an kepada pembacanya?

Jawabannya sangat jelas:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka terkunci?”

QS Muhammad [47]: 24

Ayat ini penting karena menggunakan kata:

يَتَدَبَّرُونَ

“mereka mentadabburi.”

Tadabbur bukan sekadar membaca.

Tadabbur berarti memperhatikan secara mendalam, menghubungkan makna, melihat konsekuensi, dan berusaha memahami pesan.

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak mengajarkan sikap pasif terhadap dirinya sendiri.

Ia justru mengajak manusia untuk berpikir.

Al-Qur’an Bahkan Mengajak Manusia Berpikir tentang Ayat-Ayatnya

Allah berfirman:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.”

QS Shad [38]: 29

Tujuan diturunkannya kitab dikaitkan dengan:

لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ

“agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya.”

Jadi, Al-Qur’an bukan sekadar kitab untuk dibaca secara ritual.

Ia adalah kitab yang meminta manusia berinteraksi dengan maknanya.

Apakah Setiap Ayat Harus Dipahami Secara Sama?

Tidak.

Al-Qur’an sendiri menunjukkan adanya tingkat kejelasan yang berbeda.

Karena itu, sikap yang sehat bukan memaksakan satu pemaknaan pada semua ayat.

Ayat yang jelas dijadikan landasan.

Ayat yang memiliki ruang keserupaan atau membutuhkan penjelasan diperlakukan dengan kehati-hatian.

Yang sangat penting adalah tidak menjadikan ayat tertentu sebagai alat untuk membatalkan keseluruhan pesan Al-Qur’an.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يَتَمَسَّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ

“Dan orang-orang yang berpegang teguh pada Kitab serta melaksanakan salat, sungguh Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang melakukan perbaikan.”

QS Al-A’raf [7]: 170

Prinsipnya adalah berpegang kepada Kitab secara keseluruhan, bukan memilih bagian tertentu yang sesuai dengan keinginan.

Al-Qur’an Tidak Menuntut Pembaca Menjadi Ahli Bahasa Terlebih Dahulu

Ada kecenderungan untuk mengatakan bahwa Al-Qur’an hanya dapat dipahami oleh kelompok tertentu.

Namun Al-Qur’an berkali-kali berbicara langsung kepada manusia.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُم بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينًا

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu, dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang.”

QS An-Nisa’ [4]: 174

Sasaran wahyu bukan hanya kelompok tertentu.

Seruannya adalah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ

“Wahai manusia.”

Tetapi Mudah Dipahami Bukan Berarti Mudah Ditaklukkan oleh Keinginan

Di sinilah keseimbangan perlu dijaga.

Mengatakan Al-Qur’an mudah untuk dipahami bukan berarti setiap orang bebas memberikan makna sesuka hati.

Al-Qur’an sendiri memperingatkan adanya orang yang mengikuti bagian mutasyabihat demi mencari fitnah.

Karena itu, metode Qur’an bil Qur’an memerlukan beberapa prinsip:

Pertama, membaca ayat dalam konteksnya.

Kedua, mencari penjelasan konsep yang sama di ayat lain.

Ketiga, memperhatikan keseluruhan pesan Al-Qur’an.

Keempat, membedakan ayat yang tegas dari ayat yang memiliki ruang penafsiran.

Kelima, tidak memaksakan kesimpulan yang bertentangan dengan ayat-ayat yang jelas.

Al-Qur’an Saling Menjelaskan

Salah satu prinsip penting dalam membaca Al-Qur’an adalah bahwa wahyu tidak berdiri sebagai potongan-potongan yang terpisah.

Allah berfirman:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Kitab yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang.”

QS Az-Zumar [39]: 23

Kata:

مُّتَشَابِهًا

dalam ayat ini menarik untuk dibandingkan dengan penggunaan mutasyabihat dalam QS Ali ‘Imran [3]: 7.

Secara konteks, QS Az-Zumar [39]: 23 menggambarkan adanya keserasian dan kemiripan dalam keseluruhan Kitab.

Ini mengingatkan kita bahwa istilah mutasyabih tidak selalu harus dipahami hanya sebagai “ayat yang mustahil dipahami”.

Makna sebuah istilah harus dilihat berdasarkan konteks ayat dan penggunaan Al-Qur’an secara keseluruhan.

Al-Qur’an Menjelaskan Sebagian dengan Sebagian yang Lain

Allah berfirman:

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Sungguh, Kami telah membuat dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka mengambil pelajaran.”

QS Az-Zumar [39]: 27

Perumpamaan, pengulangan, kisah, hukum, peringatan, dan berbagai gambaran dalam Al-Qur’an bukan bagian yang berdiri sendiri.

Satu tema dapat muncul di banyak surah dengan sudut pandang yang berbeda.

Karena itu, memahami satu ayat sering kali memerlukan perbandingan dengan ayat lain yang membicarakan persoalan yang sama.

Inilah salah satu fondasi praktis Qur’an bil Qur’an.

Siapa yang Dapat Mengambil Pelajaran?

QS Ali ‘Imran [3]: 7 ditutup dengan kalimat:

وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”

Ini sangat menarik.

Setelah berbicara mengenai ayat muhkamat dan mutasyabihat, Al-Qur’an tidak menutup pembahasan dengan:

“serahkan semuanya kepada kelompok tertentu.”

Sebaliknya, ayat tersebut menyebut:

أُولُو الْأَلْبَابِ

orang-orang yang memiliki pemahaman atau akal yang mendalam.

Ini memperlihatkan pentingnya akal yang jernih, kerendahan hati, dan kesungguhan mencari kebenaran.

Sikap Orang yang Mendalam Ilmunya

Ayat yang sama memberikan contoh sikap:

آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Kami beriman kepadanya; semuanya dari sisi Tuhan kami.”

Ini adalah sikap yang berbeda dari orang yang mencari ayat tertentu hanya untuk membangun kontroversi.

Orang yang mendalam ilmunya tidak memotong Al-Qur’an menjadi bagian-bagian yang saling bertentangan.

Ia berusaha melihat kesatuan pesan wahyu.

Jadi, Benarkah Al-Qur’an Mudah Dipahami?

Jika seluruh ayat tadi dibaca secara bil Al-Qur’an, jawabannya perlu dibuat secara proporsional.

Ya, Al-Qur’an menyatakan bahwa ia dimudahkan untuk menjadi pelajaran.

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ

QS Al-Qamar [54]: 17

Tetapi kemudahan itu tidak berarti bahwa seluruh kedalaman Al-Qur’an dapat dipahami hanya dengan satu kali membaca.

Al-Qur’an juga menyatakan:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ

“Tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur’an?”

QS Muhammad [47]: 24

Dengan demikian:

Mudah untuk didekati bukan berarti dangkal.

Mudah untuk direnungkan bukan berarti tidak membutuhkan ilmu.

Mudah untuk dipahami secara prinsip bukan berarti seluruh rincian maknanya selesai dalam sekali membaca.

Kajian Syahida: Tiga Prinsip Penting

Dari rangkaian ayat tersebut, setidaknya terdapat tiga prinsip yang dapat dirumuskan.

1. Al-Qur’an adalah wahyu yang ditujukan untuk dipahami

Allah menurunkannya dengan bahasa agar manusia menggunakan akalnya.

لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“agar kamu mengerti.”

2. Tidak semua ayat memiliki tingkat kejelasan yang sama

QS Ali ‘Imran [3]: 7 secara eksplisit menyebut adanya:

مُحْكَمَاتٌ

dan

مُتَشَابِهَاتٌ

Karena itu, pembaca perlu membangun pemahaman berdasarkan keseluruhan Kitab.

3. Sikap pembaca sangat menentukan

Al-Qur’an menggambarkan dua kemungkinan:

Ada orang yang mengejar mutasyabihat untuk mencari fitnah.

Ada pula orang-orang yang mendalam ilmunya yang berkata:

آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا

“Kami beriman kepadanya; semuanya dari sisi Tuhan kami.”

Penutup: Jangan Takut Membaca, Jangan Pula Gegabah Menafsirkan

Al-Qur’an tampaknya mengajarkan keseimbangan.

Jangan menganggap Al-Qur’an sebagai kitab yang hanya boleh dibaca tanpa dipahami.

Tetapi jangan pula memperlakukan Al-Qur’an sebagai teks yang boleh diberi makna sesuka hati.

Di antara dua sikap ekstrem itu terdapat jalan tadabbur.

Membaca.

Mengulang.

Membandingkan ayat.

Menghubungkan tema.

Menggunakan akal.

Menghormati konteks.

Dan membiarkan ayat-ayat Al-Qur’an saling menerangkan.

Itulah semangat Al-Qur’an Bil Al-Qur’an.

Al-Qur’an sendiri berkata:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

“Dan sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”

QS Al-Qamar [54]: 17

Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata:

“Apakah Al-Qur’an sulit dipahami?”

Tetapi:

“Apakah kita benar-benar mau membaca, berpikir, dan mentadabburinya?”

Sebab kitab yang mengajak manusia menggunakan akal tidak semestinya hanya dijadikan bacaan ritual.

Ia harus menjadi petunjuk yang dipahami, direnungkan, dan dihidupkan dalam kehidupan. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.(syahida)

Example 120x600