YOGYAKARTA. PPMIndonesia.com- Menjelang pelaksanaan Pertemuan Nasional (PENAS) IX Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), Ketua Presidium Nasional PPM Eko Suryono bersama anggota Presidium Nasional Pupun Purwana melakukan pertemuan koordinasi di Solo, yang selanjutnya dilanjutkan dengan kunjungan ke Yogyakarta untuk memastikan kesiapan penyelenggaraan forum nasional tersebut.
Koordinasi ini menjadi bagian dari upaya Presidium Nasional untuk memastikan seluruh persiapan PENAS IX berjalan dengan baik, mulai dari kesiapan penyelenggaraan, koordinasi organisasi, hingga dukungan bagi kelancaran agenda kegiatan. PENAS IX direncanakan berlangsung pada 30 Oktober–1 November 2026 di Yogyakarta.
Pertemuan di Solo memiliki pertimbangan tersendiri. Presidium Nasional PPM terdiri atas lima orang yang berdomisili di sejumlah wilayah, antara lain Jakarta, Jawa Barat, dan Yogyakarta. Kondisi geografis tersebut menjadikan koordinasi di lokasi yang memungkinkan pertemuan langsung sebagai bagian penting dalam menjaga komunikasi dan menyatukan langkah antarpresidium.
Setelah melakukan koordinasi di Solo, Eko Suryono dan Pupun Purwana melanjutkan kunjungan ke Yogyakarta untuk memastikan kesiapan pelaksanaan PENAS IX. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi dengan jajaran panitia dan pengurus setempat sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung tertib, lancar, dan sesuai dengan tujuan organisasi.
Yogyakarta dan Memori Sejarah PPM
Pemilihan Yogyakarta sebagai tempat penyelenggaraan PENAS IX memiliki makna historis bagi PPM. Organisasi ini lahir di Yogyakarta pada 1985, sehingga kota tersebut menyimpan jejak sejarah dan ingatan kolektif tentang perjalanan awal gerakan PPM.
Kembali menyelenggarakan Pertemuan Nasional di Yogyakarta bukan sekadar persoalan tempat. Momentum ini diharapkan menjadi kesempatan untuk menengok kembali akar gerakan, memperkuat persaudaraan antarkader, serta membangun semangat baru dalam menjawab tantangan masyarakat.
Pada era 1980-an hingga 1990-an, PPM memiliki pengalaman perjalanan gerakan yang menjadi bagian dari sejarah organisasi. Pengalaman tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran untuk membangun kembali kapasitas organisasi, memperluas peranserta masyarakat, dan mengembangkan kegiatan pemberdayaan yang relevan dengan perubahan zaman.
PENAS IX sebagai Momentum Kebangkitan
PENAS IX diharapkan tidak berhenti sebagai forum konsolidasi organisasi. Lebih dari itu, pertemuan ini diharapkan menjadi titik balik kebangkitan PPM, dengan menghidupkan kembali semangat gerakan sekaligus memperbarui pendekatan pemberdayaan masyarakat.
Tema PENAS IX, “Meneguhkan Peranserta, Menguatkan Kaderisasi, Membangun Peradaban Hijau,” mencerminkan harapan agar PPM semakin mampu memperkuat kepemimpinan masyarakat, mengembangkan kader yang berdaya, serta merumuskan agenda kerja yang menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Melalui konsolidasi, kaderisasi, dialog, dan perumusan agenda bersama, PENAS IX diharapkan melahirkan langkah-langkah nyata yang dapat ditindaklanjuti oleh pengurus wilayah, pengurus daerah, dan para aktivis PPM di berbagai daerah.
Kunjungan Presidium Nasional ke Yogyakarta menjadi bagian dari ikhtiar tersebut: memastikan kesiapan penyelenggaraan sekaligus memperkuat semangat kolektif dalam menyongsong masa depan organisasi.
Dari Yogyakarta, tempat PPM dilahirkan, diharapkan tumbuh kembali energi baru bagi gerakan peranserta dan pemberdayaan masyarakat Indonesia.(emha)





























