“Dan dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan…“
Jakarta|PPMIndonesia.com– Ada ayat yang sangat sering dikutip, namun mungkin terlalu cepat disimpulkan maknanya. Ayat itu adalah QS Adz-Dzariyat ayat 49. Selama ini, banyak orang memahami ayat tersebut sebagai penjelasan bahwa semua makhluk hidup diciptakan dalam bentuk laki-laki dan perempuan.
Sekilas, pemahaman ini tampak wajar. Tetapi ketika Al-Qur’an dibaca melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an—ayat menjelaskan ayat—muncul pertanyaan penting: benarkah makna “berpasangan” sesempit itu?
Ataukah Al-Qur’an sebenarnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih luas: pola universal ciptaan Allah?
Ayat Utama: Pasangan Sebagai Tanda
Allah SWT berfirman:
وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan dari segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).”
(QS Adz-Dzariyat: 49)
Perhatikan dengan cermat.
Ayat ini tidak menyebut “laki-laki dan perempuan”. Yang disebut adalah:
مِن كُلِّ شَيْءٍ
“Dari segala sesuatu.”
Lalu:
زَوْجَيْنِ
“Sepasang.”
Artinya, cakupan ayat ini tampak jauh lebih luas daripada sekadar persoalan jenis kelamin.
Qur’an Bil Qur’an: Ketika Ayat Menjelaskan Ayat
Dalam kajian Syahida, memahami Al-Qur’an tidak dilakukan secara parsial. Ayat dipahami melalui ayat lain agar maknanya utuh.
Pertama: Pasangan dalam Tumbuhan
Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنبِتُ الْأَرْضُ
“Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua pasangan dari apa yang ditumbuhkan bumi…”
(QS Yasin: 36)
Ayat ini menunjukkan bahwa konsep pasangan juga hadir pada dunia tumbuhan.
Kedua: Pasangan Secara Biologis
Allah berfirman:
وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى
“Dan bahwa Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan.”
(QS An-Najm: 45)
Di sini Al-Qur’an baru menyebut secara spesifik:
الذَّكَرَ وَالْأُنثَى
“Laki-laki dan perempuan.”
Artinya, ketika Al-Qur’an hendak berbicara tentang gender, Al-Qur’an menyebutkannya secara eksplisit.
Ketiga: Ada Pasangan yang Belum Diketahui
Masih dalam ayat QS Yasin:
وَمِمَّا لَا يَعْلَمُونَ
“Dan dari apa yang tidak mereka ketahui.”
(QS Yasin: 36)
Kalimat ini menarik.
Al-Qur’an seolah membuka ruang bahwa terdapat bentuk-bentuk pasangan yang belum dipahami manusia.
Membaca Alam: Tanda-Tanda yang Bertebaran
Jika manusia memperhatikan alam, pola berpasangan tampak di mana-mana:
- Siang dan malam
- Langit dan bumi
- Panas dan dingin
- Tinggi dan rendah
- Positif dan negatif
- Kehidupan dan kematian
Dualitas itu bukan sekadar perbedaan. Ia menghadirkan keseimbangan.
Tanpa siang, manusia tidak memahami malam. Tanpa gelap, cahaya kehilangan makna.
Sains Datang Belakangan, Al-Qur’an Mengajak Merenung Lebih Dahulu
Ilmu pengetahuan modern menemukan bahwa keseimbangan dan dualitas merupakan bagian mendasar dari alam.
Dalam fisika dikenal konsep:
- Materi dan antimateri
- Muatan positif dan negatif
- Aksi dan reaksi
Namun Al-Qur’an bukan kitab fisika.
Tujuan ayat bukan membangun teori ilmiah, melainkan mengajak manusia merenungkan keteraturan ciptaan.
Karena ayat tersebut ditutup dengan kalimat yang sangat penting:
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Agar kamu mengingat.”
Bukan sekadar mengetahui.
Tetapi mengingat.
Yang Berpasangan Menunjukkan Keterbatasan
Segala yang berpasangan menunjukkan satu kenyataan:
Ia tidak sempurna sendiri.
Ia membutuhkan yang lain.
Manusia membutuhkan siang dan malam. Bumi membutuhkan keseimbangan. Makhluk hidup membutuhkan ekosistem.
Namun Allah tidak demikian.
Allah tidak membutuhkan pasangan, pelengkap, maupun penyeimbang.
Karena itu dualitas pada ciptaan justru mengantar manusia memahami Tauhid.
Dari Pasangan Menuju Yang Maha Esa
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an dalam kajian Syahida, kita menemukan bahwa konsep “berpasangan” dalam Al-Qur’an tidak berhenti pada laki-laki dan perempuan.
Ia berbicara tentang pola besar dalam alam semesta.
Tentang keseimbangan.
Tentang keteraturan.
Tentang tanda.
Dan setiap tanda pada akhirnya menunjuk ke satu arah:
Bahwa di balik segala yang berpasangan, ada Dzat Yang Maha Esa.
“Membaca Al-Qur’an dengan Al-Qur’an bukan mempersempit makna, tetapi membuka keluasan petunjuk.”(a mohammed)



























