“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS Al-Hajj: 37)
Jakarta|PPMIndoensia.com– Setiap datang Iduladha, umat Islam kembali mengenang kisah Nabi Ibrahim dan peristiwa penyembelihan yang selama ini dipahami sebagai puncak pengorbanan manusia kepada Tuhan.
Ribuan hewan disembelih. Takbir menggema. Simbol kepatuhan kembali diperingati.
Namun di balik ritual yang berlangsung setiap tahun itu, ada pertanyaan penting yang sering luput diajukan:
Apakah Al-Qur’an mengajarkan bahwa Tuhan membutuhkan pengorbanan?
Apakah spiritualitas diukur dari banyaknya darah yang tertumpah?
Ataukah selama ini ada kesalahpahaman mendasar tentang hakikat kurban?
Melalui metode Qur’an bil Qur’an — memahami ayat dengan ayat lainnya — kajian ini mencoba membaca kembali makna kurban langsung dari Al-Qur’an.
Ketika Spiritualitas Diukur dari Ritual Semata
Salah satu kecenderungan manusia dalam sejarah agama adalah mengubah simbol menjadi tujuan.
Ritual yang seharusnya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah sering berubah menjadi ukuran kesalehan itu sendiri.
Padahal Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan bahwa bentuk lahiriah bukan inti utama agama.
Allah berfirman:
لَّيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَـٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ
“Bukanlah kebajikan itu menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan adalah orang yang beriman kepada Allah…”
(QS Al-Baqarah: 177)
Ayat ini mengingatkan bahwa agama bukan sekadar ritual formal, tetapi transformasi nilai dan perilaku.
Allah Tidak Membutuhkan Darah
Ayat paling penting dalam memahami kurban terdapat dalam Surah Al-Hajj:
لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaanmulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS Al-Hajj: 37)
Ayat ini sangat mendasar.
Allah tidak membutuhkan: darah, daging, persembahan fisik, ataupun ritual simbolik semata.
Yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan.
Artinya, kurban bukan transaksi spiritual antara manusia dan Tuhan.
Kurban adalah pendidikan jiwa.
Untuk Siapa Kurban Itu Sebenarnya?
Al-Qur’an menjelaskan:
فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْقَانِعَ وَٱلْمُعْتَرَّ
“Makanlah sebagian darinya dan berilah makan orang yang merasa cukup maupun yang meminta.”
(QS Al-Hajj: 36)
Dan:
فَكُلُوا۟ مِنْهَا وَأَطْعِمُوا۟ ٱلْبَآئِسَ ٱلْفَقِيرَ
“Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang miskin yang membutuhkan.”
(QS Al-Hajj: 28)
Maka pertanyaannya:
Jika Allah tidak membutuhkan dagingnya, lalu untuk siapa kurban itu?
Jawabannya jelas:
Untuk manusia.
Untuk menguatkan solidaritas.
Untuk menumbuhkan empati.
Untuk mengingatkan bahwa sebagian rezeki kita ada hak orang lain.
Kesalahpahaman Spiritualitas: Tuhan Seolah Membutuhkan Persembahan
Dalam banyak tradisi kuno, persembahan darah dipahami sebagai cara menenangkan murka dewa.
Semakin besar persembahan, semakin besar harapan mendapatkan keselamatan.
Namun Al-Qur’an justru membongkar cara berpikir semacam ini.
Allah berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan seluruh alam.”
(QS Al-An‘am: 162)
Pengabdian kepada Allah bukan sekadar ritual penyembelihan.
Seluruh hidup adalah pengorbanan.
Ibrahim: Antara Mimpi dan Penafsiran
Dalam Surah Ash-Shaffat disebutkan:
إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ
“Aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”
(QS Ash-Shaffat: 102)
Menariknya, Ibrahim tidak berkata:
“Allah memerintahkanku.”
Beliau hanya mengatakan:
“Aku melihat dalam mimpi.”
Perbedaan ini penting.
Karena Al-Qur’an juga menegaskan:
قُلْ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ
“Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.”
(QS Al-A‘raf: 28)
Dan:
وَلَا تَقْتُلُوا۟ ٱلنَّفْسَ ٱلَّتِى حَرَّمَ ٱللَّهُ
“Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah.”
(QS Al-An‘am: 151)
Maka muncul pertanyaan:
Apakah Tuhan memerintahkan pembunuhan?
Ataukah manusia yang salah memahami pengalaman spiritualnya?
Spiritualitas Sejati adalah Pengorbanan Ego
Banyak orang mengira pengorbanan terbesar adalah menyerahkan sesuatu yang dimiliki.
Padahal Al-Qur’an menunjukkan bentuk pengorbanan yang lebih sulit:
mengorbankan ego.
Allah berfirman:
لَن تَنَالُوا۟ ٱلْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kamu menginfakkan sebagian dari apa yang kamu cintai.”
(QS Ali Imran: 92)
Pengorbanan terbesar bukan sekadar menyembelih hewan.
Tetapi: melepaskan keserakahan, mengalahkan keangkuhan, meninggalkan egoisme, serta berbagi kepada sesama.
Mengembalikan Makna Kurban
Kajian Qur’an bil Qur’an mengingatkan bahwa agama bukan sekadar simbol, melainkan transformasi kehidupan.
Dari keseluruhan ayat terlihat:
- Allah tidak membutuhkan darah dan daging.
- Kurban ditujukan untuk pendidikan ketakwaan sosial.
- Spiritualitas bukan transaksi persembahan kepada Tuhan.
- Pengorbanan terbesar adalah melawan ego diri sendiri.
- Ritual tanpa perubahan jiwa mudah berubah menjadi formalitas kosong.
Kurban akhirnya bukan sekadar soal apa yang disembelih.
Tetapi siapa diri kita setelah berkurban.
Apakah kita menjadi lebih peduli?
Lebih rendah hati?
Dan lebih dekat kepada sesama manusia?
Di situlah mungkin hakikat spiritualitas yang sesungguhnya. (a mohammed)



























