Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menjadi Muslim Kaffah: Jalan Menuju Keutuhan Iman dan Penyerahan Total

400
×

Menjadi Muslim Kaffah: Jalan Menuju Keutuhan Iman dan Penyerahan Total

Share this article

Penulis: husni fahro| Editor: asyary|

ppmindonesia.com. Jakarta – Di tengah derasnya arus zaman yang menuntut kompromi atas nilai dan prinsip, ajakan Al-Qur’an agar kita masuk ke dalam Islam secara kaffah (QS Al-Baqarah: 208) terasa semakin relevan.

Menjadi Muslim kaffah—secara utuh dan total—bukan sekadar identitas atau penampilan, melainkan pengabdian penuh kesadaran dan kecintaan yang tidak setengah hati kepada Allah SWT.

Islam Kaffah: Lebih dari Sekadar Formalitas

Al-Qur’an memperingatkan adanya orang yang mengabdi kepada Allah hanya di “tepi”, yang disebut secara eksplisit dalam QS Al-Hajj ayat 11:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ࣙاطْمَـَٔنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ࣙانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ ۝١١

 “Dan di antara manusia ada yang menyembah Allah di tepi; maka jika mendapat kebaikan ia tenang, dan jika ditimpa cobaan, ia berbalik ke belakang. Rugi lah ia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS 22:11)

Ayat ini menggambarkan pengabdian yang bersifat dangkal, transaksional, dan bersyarat. Orang semacam ini bukan Muslim kaffah, tapi Muslim harfiah—hanya di permukaan. Iman seperti ini rapuh dan mudah tumbang oleh cobaan.

Berbeda halnya dengan pengabdian total yang dicontohkan para nabi, seperti Ibrahim AS. Ketika diperintahkan menyembelih anaknya, beliau tidak ragu. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada anak, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 165:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَشَدُّ حُبًّا لِّلّٰهِۙ … ۝١٦٥

 “Dan di antara manusia ada orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah…” (QS 2:165)

Keutuhan Iman: Buah dari Kejernihan Hati

Untuk mencapai tingkat penyerahan total seperti itu, seseorang perlu benteng spiritual yang kokoh. Al-Qur’an menyebutnya sebagai “rasyiduun”—orang-orang yang telah dikokohkan oleh Allah imannya, sebagaimana firman-Nya:

 “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (rasyiduun). Itu adalah karunia dari Allah dan nikmat-Nya…” (QS Al-Hujurat: 7-8)

Dr. M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah menegaskan bahwa iman yang kuat dan tertanam dalam hati akan menciptakan stabilitas jiwa, kekuatan moral, dan orientasi hidup yang lurus.

“Mereka yang sudah menjadikan keimanan sebagai kecintaan tertinggi akan sulit tergoda oleh syirik emosional atau pengabdian palsu yang berorientasi dunia semata,” tulisnya.

Mengapa Kaffah Itu Penting?

Masuk Islam secara kaffah berarti tunduk sepenuhnya pada aturan Ilahi dalam seluruh aspek kehidupan: ibadah, sosial, ekonomi, bahkan cara berpikir dan merespons kenyataan. Bukan memisahkan agama dari urusan dunia, tetapi menjadikan agama sebagai kompas utama di dunia.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyebut bahwa Islam kaffah adalah tanda dari keimanan sejati. “Tidak ada Islam setengah hati. Islam bukan sekadar adat, tapi jalan hidup. Orang yang Islamnya hanya setengah akan terombang-ambing di tengah badai dunia,” ujarnya.

Menjaga Keutuhan Iman di Era Ujian

Era modern adalah era ujian keyakinan: ujian cinta dunia, popularitas, harta, bahkan ideologi. Menjadi Muslim kaffah menuntut kita jujur dalam mencintai Allah, bukan hanya saat sedang berkecukupan, tetapi juga saat diuji.

Apakah kita siap mencintai Allah lebih dari cinta pada pasangan, pekerjaan, atau bahkan ideologi kita sendiri? Apakah kita siap untuk tetap istiqamah saat diuji, sebagaimana Ibrahim AS? Pertanyaan ini adalah ujian harian bagi setiap Muslim yang mendamba totalitas iman.

Akhir Kata

Menjadi Muslim kaffah adalah sebuah perjalanan spiritual yang menuntut kejujuran hati dan keberanian menolak segala bentuk kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. 

Ia adalah buah dari iman yang kokoh dan cinta yang murni kepada Allah. Dan hanya orang-orang yang mencintai Allah lebih dari segalanya yang mampu melewati ujian dunia dan keluar sebagai pemenang di akhirat.

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ۝٣٠

 “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dan berkata): Janganlah kamu takut dan janganlah kamu sedih; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fussilat: 30)- (husni fahro)

* Husni Fahro; peminat kajian  Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.

Example 120x600