Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Berbenah atau Ditinggalkan Zaman? Catatan untuk PPM

140
×

Berbenah atau Ditinggalkan Zaman? Catatan untuk PPM

Share this article

Penulis ; acank | Editor ; asyary |

Jakarta|PPMIndonesia.com- Sejarah tidak pernah menunggu organisasi yang berjalan di tempat. Ia bergerak, berubah, dan menuntut keberanian untuk menyesuaikan diri. Di usia lebih dari empat dekade, Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) dihadapkan pada pertanyaan mendasar yang tak bisa lagi ditunda: berbenah atau perlahan ditinggalkan zaman.

PPM lahir dari semangat zaman yang penuh idealisme—ketika gerakan masyarakat sipil menjadi ruang penting bagi pendidikan politik rakyat, pemberdayaan sosial, dan pembelaan terhadap nilai-nilai keadilan. Dalam lintasan sejarahnya, PPM pernah hadir sebagai simpul gerakan yang aktif, progresif, dan berani mengambil posisi kritis terhadap ketimpangan sosial maupun praktik kekuasaan yang menyimpang.

Namun, seperti banyak organisasi masyarakat lainnya, tantangan terbesar PPM hari ini bukan hanya soal eksternal, melainkan internal: kemampuan membaca perubahan zaman dan meresponsnya dengan langkah pembaruan yang nyata.

Perubahan Zaman, Perubahan Tantangan

Konteks sosial-politik Indonesia hari ini sangat berbeda dibandingkan dekade-dekade awal berdirinya PPM. Digitalisasi mengubah cara masyarakat berorganisasi dan berpartisipasi. Generasi muda membangun kesadaran sosialnya lewat medium yang berbeda, dengan bahasa yang berbeda pula. Isu-isu yang mengemuka pun semakin kompleks: krisis demokrasi, ketimpangan ekonomi struktural, krisis ekologis, hingga melemahnya solidaritas sosial.

Dalam situasi seperti ini, organisasi masyarakat sipil dituntut tidak hanya menjaga warisan sejarah, tetapi juga berani melakukan reinterpretasi terhadap mandat perjuangannya. Tanpa pembaruan visi, metode, dan kepemimpinan, organisasi berisiko terjebak dalam nostalgia—sibuk merawat masa lalu, tetapi abai menjawab tantangan masa depan.

Berbenah sebagai Pilihan Moral

Berbenah bukan sekadar soal restrukturisasi organisasi atau pergantian figur kepemimpinan. Lebih dari itu, berbenah adalah pilihan moral: keberanian untuk melakukan evaluasi jujur, mengakui keterbatasan, dan membuka ruang dialog lintas generasi.

PPM memiliki modal sejarah yang kuat—jaringan, pengalaman, dan nilai-nilai perjuangan yang relevan. Namun modal itu hanya akan bermakna jika diolah menjadi energi pembaruan. Kaderisasi yang kontekstual, pendekatan gerakan yang lebih partisipatif, serta keberanian mengambil posisi atas persoalan kebangsaan mutakhir menjadi keharusan, bukan pilihan tambahan.

Organisasi yang besar bukanlah yang bebas dari kritik, melainkan yang mampu menjadikan kritik sebagai bahan refleksi dan pijakan transformasi.

Menjawab Zaman, Menjaga Akar

Berbenah tidak berarti tercerabut dari akar. Justru sebaliknya, pembaruan yang sejati selalu berpijak pada nilai dasar organisasi: keberpihakan pada rakyat, keadilan sosial, dan peranserta masyarakat dalam menentukan arah hidup bersama.

Di tengah situasi demokrasi yang kian transaksional dan ruang partisipasi publik yang menyempit, PPM masih memiliki peran strategis—asal berani keluar dari zona nyaman dan membuka diri pada kolaborasi lintas sektor serta generasi.

Sejarah telah membuktikan: organisasi yang mampu bertahan bukanlah yang paling tua, melainkan yang paling adaptif tanpa kehilangan prinsip. PPM kini berada di persimpangan itu. Waktu tidak menunggu, dan sejarah akan terus bergerak—dengan atau tanpa mereka yang enggan berbenah. (acank)

Example 120x600