Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital

325
×

Menjadi Tuhannya Sendiri: Fenomena Egoistik di Era Digital

Share this article

Penulis ; acank | Editor ; asyary |

ppmindonesia.com.Jakarta – Di era digital yang dipenuhi layar, notifikasi, dan algoritma personalisasi, kita hidup dalam masyarakat yang tampak lebih terkoneksi, namun secara spiritual justru semakin terputus. Salah satu gejala paling mencolok dari zaman ini adalah kultus ego, sebuah kondisi saat manusia bukan hanya menjadi pusat kehidupannya sendiri, tapi juga bertindak seolah-olah dirinya adalah otoritas tertinggi dalam segala hal.

Istilah “menjadi tuhannya sendiri” mungkin terdengar berlebihan. Namun Al-Qur’an sudah jauh hari memperingatkan bahwa ada manusia yang menjadikan egonya sebagai tuhan:

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُۗ اَفَاَنْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًاۙ ۝٤٣

“Pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah kamu akan menjadi pelindungnya?” (QS Al-Furqan: 43)

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ ۝٢٣

 Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya, siapakah yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Apakah kamu (wahai manusia) tidak mengambil pelajaran?.” (QS Al-Jatsiyah: 23)

Ayat-ayat ini mengisyaratkan sebuah fenomena spiritual berbahaya: ketika manusia bukan lagi menyembah Tuhan, tapi menyembah keinginannya sendiri, membenarkan semua yang ia rasakan, mengagungkan semua yang ia pikirkan, dan menolak semua yang tidak sesuai dengan selera pribadinya.

Era Digital dan Ego yang Melejit

Era digital menciptakan panggung besar untuk performa ego. Media sosial memfasilitasi ruang bagi siapa saja untuk menjadi pusat perhatian. Likes, views, dan followers menjadi indikator harga diri. Semua didesain untuk menumbuhkan kesan bahwa “aku penting, aku unik, aku harus didengar.”

Psikolog sosial Jean Twenge dalam bukunya “Generation Me” menyebut bahwa generasi digital cenderung mengalami peningkatan narsisme dan kesulitan menerima kritik. Ia menyebut ini sebagai efek dari “pemujaan terhadap self-esteem yang tidak seimbang.”

Sementara itu, cendekiawan Muslim kontemporer, Prof. Tariq Ramadan, menyebut bahwa “dalam dunia yang kehilangan pusat spiritual, manusia menciptakan pusatnya sendiri, dan biasanya yang dipilih adalah dirinya sendiri.”

Egoistik dan Penolakan terhadap Otoritas Moral

Gejala egoistik ini tidak berhenti di level pribadi. Ia menjelma menjadi penolakan terhadap otoritas moral—baik agama, guru, orang tua, hingga ilmu. Semua yang tidak sesuai dengan narasi ego pribadi dianggap ketinggalan zaman, otoriter, bahkan toksik. Alhasil, otoritas wahyu pun kerap digeser oleh narasi “aku merasa”, “aku berpendapat”, atau “aku tidak cocok.”

Padahal, dalam Islam, posisi manusia adalah hamba, bukan pencipta hukum. Tuhan adalah pusat nilai, bukan ego manusia.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗٓ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْۗ…  ۝٣٦ 

 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan dalam urusan mereka.” (QS Al-Ahzab: 36)

Sayangnya, ayat ini semakin tidak populer dalam lanskap kejiwaan digital yang menempatkan pilihan personal di atas perintah ilahi.

Konsekuensi Spiritual: Keterasingan dan Kegelisahan

Ketika ego menjadi tuhan, manusia kehilangan arah. Karena ego tak punya kompas moral. Ia hanya tahu apa yang menyenangkan, bukan apa yang menyelamatkan. Maka tak heran jika dunia digital yang tampak gemerlap justru menghasilkan gelombang kesepian, kecemasan, dan depresi.

Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang yang mengikuti hawa nafsunya sebagai orang yang “tersesat meskipun mengetahui” (QS 45:23). Ini adalah kondisi tragis: tahu kebenaran tapi menolaknya karena terlalu cinta pada diri sendiri.

Mengembalikan Posisi Tuhan dalam Hidup

Islam mengajarkan keseimbangan antara martabat manusia dan pengakuan akan keterbatasannya. Kita diajarkan untuk mengenal diri, tapi juga menyadari bahwa diri bukanlah pusat kebenaran. Seorang Muslim sejati tidak menjadikan hawa nafsu sebagai hakim tertinggi, tapi menundukkannya kepada wahyu dan akal sehat.

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ۝٩وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ۝١٠

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams: 9–10)

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa perang terbesar manusia bukan melawan orang lain, tapi melawan egonya sendiri. Ini adalah jihad akbar—peperangan batin melawan keinginan untuk menjadi pusat segalanya.

Dari Pusat Diri Menuju Pusat Tuhan

Jika manusia hari ini ingin lepas dari kegelisahan dan keterasingan spiritual, maka satu hal harus dilakukan: turunkan ego dari singgasananya dan kembalikan Tuhan ke pusat kehidupan.

Tidak semua yang kita rasa benar adalah kebenaran. Tidak semua yang menyakitkan adalah kesalahan. Sering kali, justru dalam kritik, keterbatasan, dan kesadaran akan dosa, kita menemukan jalan kembali kepada Tuhan.

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ ۝١٨

 “Mereka yang diberi petunjuk adalah mereka yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik darinya.” (QS Az-Zumar: 18)

Saatnya berhenti menjadi tuhannya sendiri. Karena hanya ketika kita kembali menjadi hamba, kita akan menemukan kedamaian sejati.(acank)

Example 120x600