ppmindonesia.com.Bogor- Setiap Muslim, tanpa kecuali, hafal doa ini: “Ihdinā shirāthal mustaqīm” — “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus” (QS Al-Fatihah:6).
Doa ini diulang berkali-kali dalam sehari semalam, bahkan bisa puluhan kali, tergantung berapa banyak rakaat shalat yang kita kerjakan.
Namun, yang mengherankan, banyak di antara kita yang tetap saja merasa jalan itu jauh, samar, bahkan tak terjangkau. Shirāthal mustaqīm kadang digambarkan seperti rambut dibelah tujuh: sulit dicapai, terlalu tipis, seolah hanya untuk segelintir orang pilihan.
Padahal, Al-Qur’an jelas-jelas menyatakan bahwa jalan itu nyata, sederhana, dan telah diwariskan untuk semua orang beriman.
Allah berfirman dalam QS Yā-Sīn (36):3–4:
اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ ٣عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ ٤
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar termasuk para rasul, berada di atas jalan yang lurus, (yaitu) wahyu yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.”
Ayat ini menegaskan bahwa jalan lurus itu adalah jalan para rasul, yaitu jalan yang dijalani dengan berpegang pada wahyu yang diturunkan oleh Allah.
Sayangnya, banyak di antara kita hanya sibuk meminta, tetapi lalai menjemput jawabannya. Allah sudah menunjukkan jalan itu lewat wahyu, tetapi kita jarang membacanya dengan sungguh-sungguh, apalagi menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kita lebih banyak menyimpannya di rak, atau sekadar membacanya tanpa tadabbur.
Shirāthal mustaqīm bukanlah rahasia yang hanya diketahui para ulama besar atau wali-wali yang uzlah di gua. Ia adalah jalan pengabdian kepada Allah dengan berpegang pada wahyu. Sebagaimana ditegaskan dalam QS Az-Zukhruf (43):43:
فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِيْٓ اُوْحِيَ اِلَيْكَۚ اِنَّكَ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ٤٣
“Maka berpegang teguhlah pada apa yang diwahyukan kepadamu; sungguh, engkau berada di atas jalan yang lurus.”
Cendekiawan Mesir, Sayyid Qutb, dalam Fi Zhilalil Qur’an, menulis: “Jalan lurus itu bukanlah labirin rahasia yang berliku-liku. Ia adalah Al-Qur’an itu sendiri — jalan yang jelas, tetapi dilupakan oleh mereka yang lebih sibuk mencari-cari di luar wahyu.”
Bahkan Allah sudah memperingatkan agar kita tidak mengikuti jalan lain, yang hanya akan membawa pada perpecahan dan kesesatan:
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖۗ… ١٥٣
“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS Al-An’am:153)
Sungguh ironis jika kita terus memohon sesuatu yang sudah lama Allah jawab. Bahkan, dalam QS Yā-Sīn (36):61), Allah menegaskan:
وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْۗ هٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ ٦١
“Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.”
Hari ini kita melihat banyak umat yang rajin memohon, tetapi enggan menghidupkan wahyu. Rajin melafalkan doa, tetapi lalai memahami maknanya.
Rajin membaca, tetapi enggan menjalankan. Inilah mengapa shirāthal mustaqīm terasa jauh: bukan karena ia misterius, melainkan karena kita sendiri yang melupakannya.
Tugas kita bukan lagi sekadar memohon, melainkan menjemput. Bukan lagi menganggap jalan itu samar, tetapi menyadari bahwa wahyu Allah sudah membentangkannya di depan mata kita.
Semoga kita termasuk orang yang bukan hanya meminta jalan lurus, tetapi juga menempuhnya dengan sepenuh hati. Karena shirāthal mustaqīm bukanlah misteri, melainkan wahyu yang sering kita lupakan.(husni fahro)
*Husni Fahro, seorang pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an asal Bogor. Alumni IAIN Sumatera Utara ini dikenal dengan gagasannya tentang Nasionalisme Religius dan kepeduliannya pada isu-isu solidaritas sosial.”



























