Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menyalahkan Tuhan: Bencana adalah Refleksi Kezaliman Kita

281
×

Menyalahkan Tuhan: Bencana adalah Refleksi Kezaliman Kita

Share this article

Penulis: syahida| Editor: asyary|

ppmindonesia.com.Bogor– Gempa bumi mengguncang. Gelombang tsunami menyapu pesisir. Banjir bandang menelan rumah dan nyawa. Dan nyaris selalu, dari mimbar-mimbar hingga percakapan warung kopi, satu narasi yang berulang terdengar: Ini murka Tuhan.”

Pernyataan itu terdengar menggetarkan, seakan kita sedang diajak tunduk pada kebesaran-Nya. Tapi mari kita bertanya lebih jujur: benarkah setiap bencana adalah kemarahan Tuhan? Ataukah bencana itu sebenarnya adalah cermin dari kezaliman kita sendiri?

Inilah pokok bahasan yang diulas mendalam oleh Husni Nasution dalam kajian quran bil quran di kanal Syahida. Beliau mengajak kita menengok kembali dalil Qur’ani, bukan sekadar mengulang mitos atau tafsir yang diwarisi tanpa diuji.

Al-Qur’an Sudah Mengingatkan: Kerusakan dari Perbuatan Manusia

Allah SWT menegaskan dengan gamblang dalam Surah Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

Bukan kemurkaan buta. Bukan amarah yang meledak tanpa sebab. Ayat ini jelas: kerusakan di bumi adalah akumulasi akibat dari tangan-tangan kita sendiri.

Husni Nasution menggarisbawahi, istilah “bencana alam” sering menjadi kamuflase yang menutupi fakta bahwa kita, secara kolektif, telah merusak keseimbangan bumi. Kita menebang hutan tanpa kendali, membuang limbah ke sungai, membangun di daerah rawan bencana, membiarkan ketidakadilan sosial mengakar.

Dan ketika alam merespons, kita buru-buru mengalihkan tuduhan kepada langit.

Allah Tidak Pernah Zalim

Jika bencana adalah murka Tuhan, mungkinkah itu berarti Allah sedang menzalimi kita? Al-Qur’an tegas membantah prasangka ini. Dalam Surah Yunus ayat 44, Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْـًٔا وَّلٰكِنَّ النَّاسَ اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ ۝٤٤

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, tetapi manusialah yang menzalimi dirinya sendiri.”  (QS. Yunus: 44)

Kezaliman itu berasal dari kita—bukan dari-Nya. Dan sering kali, kezaliman itu kita normalisasi: korupsi sumber daya, pembiaran kejahatan, penghancuran ekosistem, dan diamnya kita saat melihat ketidakadilan.

Iman yang Menyelamatkan adalah Iman yang Aktif

Allah memang berjanji untuk menyelamatkan orang-orang yang beriman. Dalam Surah Yunus ayat 103, ditegaskan:

ثُمَّ نُنَجِّيْ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كَذٰلِكَۚ حَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِيْنَࣖ ۝١٠٣

“Kemudian Kami selamatkan Rasul-Rasul Kami dan orang-orang yang beriman. Demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus: 103)

Namun Husni Nasution menegaskan: iman yang pasif tidak cukup. Iman yang menyelamatkan adalah iman yang bekerja, iman yang melawan kezaliman, iman yang menjaga amanah bumi.

 Jika iman hanya berhenti pada pengakuan lisan tetapi diam terhadap kerusakan, maka keselamatan itu akan menjauh.

Bencana sebagai Mekanisme Alam yang Adil

Dalam Surah Asy-Syura ayat 30, Allah memberi penjelasan yang sangat relevan:

وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ ۝٣٠

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”  (QS. Asy-Syura: 30)

Bencana bukanlah cambukan tanpa alasan. Ia adalah mekanisme alam yang adil. Bahkan, kata ayat ini, banyak dari kesalahan kita yang masih diampuni sehingga tidak berbuah musibah.
Artinya, jika yang terjadi saat ini sudah terasa berat, bayangkanlah betapa besar kerusakan yang sesungguhnya kita ciptakan—dan betapa besar pula rahmat Allah yang menahannya.

Saatnya Menatap Cermin, Bukan Menunjuk Langit

Kita hidup di zaman di mana kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan ketidakadilan sosial saling berkaitan erat. Saat bencana datang, itu bukanlah ekspresi murka yang membabi buta, melainkan refleksi dari kezaliman kita yang tertunda pembalasannya.

Allah sudah mengingatkan:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا… ۝٥٦

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya… (QS. Al-A’raf: 56)

Husni Nasution mengajak kita meninggalkan narasi menyalahkan Tuhan. Karena yang harus kita perbaiki bukan langit, melainkan diri kita sendiri. Bencana adalah alarm, bukan kutukan. Ia adalah panggilan untuk kembali menegakkan keadilan—terhadap bumi, terhadap sesama, dan terhadap amanah iman.(syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial. 

Example 120x600