ppmindonesia.com.Jakarta — Al-Qur’an bukan sekadar kitab petunjuk ibadah, melainkan juga peta kehidupan yang menunjukkan bagaimana manusia menjaga keseimbangan alam dan sosial.
Dalam kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida, Husni Nasution menyoroti keterkaitan erat antara perilaku manusia, kejahatan sosial, dan reaksi alam. Menurutnya, ketika manusia abai melawan kezaliman, maka alam semesta mengambil alih perannya sebagai penyeimbang.
Alam yang Tidak Diam
Al-Qur’an menggambarkan bahwa bumi dan langit bukanlah benda mati tanpa respon. Sebaliknya, keduanya tunduk pada hukum Tuhan dan akan “bersuara” ketika manusia bertindak di luar batas. Allah berfirman dalam (QS. Ar-Rum [30]: 41)
﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Husni Nasution menegaskan, ayat ini bukan sekadar peringatan moral, tetapi realitas ekologis. “Ketika manusia enggan melawan kejahatan, baik dalam bentuk perusakan lingkungan, eksploitasi sumber daya, maupun penindasan sosial, maka alam memberi peringatan: banjir, longsor, kekeringan, dan berbagai bencana lainnya,” ujarnya.
Tugas Melawan Kezaliman
Al-Qur’an tidak pernah memisahkan ibadah dari tanggung jawab sosial. Membiarkan kejahatan merajalela sama dengan menutup mata dari perintah amar ma’ruf nahi munkar. Allah berfirman:
﴿وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ﴾
(QS. Ali ‘Imran [3]: 104)
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Nasution menilai, jika kewajiban melawan kejahatan diabaikan, maka kezaliman menjadi struktur yang mengakar, bahkan dilegalkan. “Kita sering berpikir bencana hanya fenomena alam. Padahal, ia juga refleksi dari kelalaian sosial kita dalam menegakkan keadilan,” katanya.
Alam sebagai ‘Hukum Tak Tertulis’
Konsep ini ditegaskan pula dalam ayat lain:
﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۭ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ﴾
(QS. Al-A’raf [7]: 96)
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan oleh perbuatannya.”
Ayat ini menegaskan adanya hubungan timbal balik: iman dan ketakwaan mendatangkan keberkahan, sementara kejahatan dan kelalaian melahirkan malapetaka.
Seruan untuk Bangkit
Husni Nasution menutup kajiannya dengan refleksi, bahwa melawan kejahatan bukan hanya tugas individu, tetapi juga tanggung jawab kolektif.
“Jika manusia menutup mata terhadap kezaliman, maka jangan salahkan ketika bumi ‘marah’. Tetapi bila kita bersama-sama menegakkan kebenaran, bumi justru memberi keberkahan,” pungkasnya.
Dengan demikian, Al-Qur’an menghadirkan logika spiritual sekaligus ekologis: keadilan menjaga keseimbangan, kezaliman melahirkan kehancuran. Dan jika manusia enggan melawan kejahatan, maka alam sendiri yang akan bertindak.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























