ppmindonesia.com.Bogor – Wacana revolusi mental yang kerap digaungkan para pemimpin bangsa ternyata telah lebih dahulu ditawarkan Al-Qur’an dengan pendekatan yang jauh lebih mendasar: membersihkan akar kejahatan dari dalam jiwa manusia. Demikian inti kajian Qur’an bil Qur’an yang disampaikan Ustaz Husni Nasution dalam kanal Syahida pekan ini.
Menurut Husni, Qur’an tidak sekadar memberi resep moral atau aturan sosial, tetapi menargetkan reformasi paling fundamental: perubahan kesadaran manusia dari dalam. “Jika hati manusia bersih, perilaku sosial akan terarah. Jika jiwa penuh penyakit, maka aturan hukum seketat apa pun hanya jadi formalitas,” ujarnya.
Dari Penyakit Hati ke Kejahatan Nyata
Husni mengingatkan, Qur’an menyebut kejahatan sosial berawal dari penyakit batin seperti dengki, sombong, dan kufur. Allah berfirman:
فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya…” (QS Al-Baqarah [2]:10).
Ayat ini, jelas Husni, menunjukkan bahwa kerusakan moral dan kejahatan tidak lahir tiba-tiba, melainkan dari mentalitas yang sakit. Maka strategi Qur’an bukan sekadar menghukum setelah kejahatan terjadi, tetapi mencegahnya sejak embrio dalam hati manusia.
Hidayah dan Revolusi Kesadaran
Al-Qur’an menawarkan jalan keluar berupa pembersihan jiwa dengan hidayah. Allah menegaskan:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا، وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams [91]:9-10).
“Revolusi mental Qur’ani itu intinya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Bukan sekadar kampanye slogan, melainkan proses hidup yang berakar pada iman, ilmu, dan amal,” tegas Husni.
Mengubah Diri, Mengubah Bangsa
Kajian ini juga menyinggung ayat yang sering dikutip dalam wacana perubahan bangsa:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar-Ra’d [13]:11).
Menurut Husni, ayat ini bukan hanya isyarat tanggung jawab personal, tetapi juga strategi pembangunan bangsa. Tidak ada reformasi sosial-politik yang berhasil tanpa reformasi kesadaran. “Inilah blueprint revolusi mental Qur’an: transformasi individu yang berimbas pada kolektivitas,” jelasnya.
Strategi Preventif, Bukan Represif
Menariknya, Al-Qur’an juga menekankan pencegahan ketimbang penindakan. Dalam banyak ayat, perintah mengingat Allah, menegakkan shalat, dan berzikir disebut sebagai tameng yang menahan manusia dari perbuatan keji.
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS Al-‘Ankabut [29]:45).
“Kalau kita serius menjalankan ibadah bukan hanya sebagai ritual, tapi sebagai pembentuk kesadaran, maka akar kejahatan bisa tercabut dari jiwa manusia. Ini jauh lebih efektif daripada sekadar memperbanyak aturan atau menambah aparat,” tegas Husni.
Revolusi yang Sejati
Husni menegaskan, revolusi mental yang sejati hanya bisa dicapai jika bangsa kembali kepada pedoman Ilahi. “Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, tetapi peta jalan peradaban. Revolusi yang dimulai dari jiwa akan melahirkan masyarakat yang adil, damai, dan makmur. Itulah jalan menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” pungkasnya.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























