Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Belajar dari Alam: Bencana Sebagai Cermin Perilaku Manusia

213
×

Belajar dari Alam: Bencana Sebagai Cermin Perilaku Manusia

Share this article

Penulis; syahida| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Setiap kali bumi bergetar, banjir melanda, atau angin puting beliung menerjang, lidah kita kerap tergesa menyebutnya sebagai “murka Tuhan”. Sebagian lagi menganggapnya sekadar “bencana alam” tanpa makna moral. 

Namun, Al-Qur’an justru mengajarkan perspektif yang berbeda: bencana adalah cermin, refleksi dari apa yang telah kita perbuat di muka bumi.

Husni Nasution, narasumber kajian Qur’an bil Quran  di kanal Syahida, menekankan bahwa Al-Qur’an tidak memposisikan manusia sebagai korban pasif dari fenomena kosmik. Sebaliknya, manusialah aktor yang memantik kerusakan. Allah menegaskan dalam firman-Nya:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Ayat ini, kata Husni, menegaskan keterhubungan antara moralitas manusia dan ekosistem. Kerusakan hutan, pencemaran laut, eksploitasi sumber daya, atau pembiaran terhadap praktik zalim adalah energi negatif yang lambat laun kembali menghantam manusia. “Jika manusia tidak memberi perlawanan terhadap kejahatan, maka alam akan mengambil alih tugas itu. Dan ketika alam ‘bertindak’, kita menyebutnya bencana,” ujarnya.

Al-Qur’an juga memberikan gambaran alternatif: keberkahan akan turun jika masyarakat mau beriman dan bertakwa. Firman Allah menegaskan:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami timpakan kepada mereka akibat perbuatan mereka.” (QS. Al-A’raf [7]: 96).

Dalam sejarah Qur’ani, pola ini berulang. Kaum ‘Ad yang membanggakan kekuatan, kaum Tsamud yang abai pada tanda kebenaran, hingga kaum Madyan yang menormalisasi kecurangan—semuanya berakhir dengan kehancuran. “Bencana dalam kisah-kisah itu bukan kebetulan. Ia adalah jawaban alam atas kesombongan manusia,” jelas Husni.

Maka, menyebut bencana sebagai “murka Tuhan” semata, tanpa refleksi atas dosa kolektif, justru menutupi akar masalah. Padahal Al-Qur’an mengingatkan, Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. Kitalah yang menzalimi diri sendiri:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Dan Tuhanmu tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya.” (QS. Fussilat [41]: 46).

Kajian ini akhirnya mengajak kita merenung lebih dalam: apakah kita sudah cukup jujur melihat bencana sebagai peringatan untuk kembali? Atau masih sibuk mencari kambing hitam dengan menyalahkan Tuhan?

“Bencana adalah cermin. Jika kita berani menatapnya, kita akan menemukan wajah kita sendiri—wajah masyarakat yang alpa menegakkan keadilan, wajah umat yang lupa menjaga amanah bumi,” tutup Husni dengan nada reflektif. (syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.
Example 120x600