“Amanah Tanpa Anggaran”
Oleh: acank
Rapat sore itu di balai desa berakhir dengan tepuk tangan kecil.
Tanda semangat, bukan tanda lega.
Hasan, ketua koperasi yang baru dilantik, masih memandangi spanduk besar di dinding:
“Koperasi Merah Putih: Pilar Ekonomi Rakyat.”
Hurufnya tebal, warnanya merah darah. Tapi isi dompet Hasan sudah menipis sejak dua bulan lalu.
Ia teringat pesan camat saat pelantikan, “Pemerintah mendukung penuh koperasi, dana miliaran sudah disiapkan.”
Kini ia tahu, yang dimaksud “didukung penuh” adalah daftar panjang laporan, rapat, dan target.
Dana miliaran itu tidak turun ke kas koperasi.
Ia berhenti di mitra, lembaga pelatihan, dan kontraktor pembangunan gedung.
Gedung koperasi memang berdiri megah di tepi jalan, catnya mengilap, papan namanya baru.
Tapi di dalamnya hanya ada dua kursi plastik, satu meja kayu pinjaman, dan tumpukan kertas proposal yang belum disetujui.
Setiap hari Hasan datang dengan sepeda motor butut. Ia mengisi tinta printer dari uang bensin anaknya, membayar listrik kantor dari sisa honor mengajar ngaji.
Sekretaris koperasi, Siti, kadang datang membawa nasi bungkus dari rumahnya — bukan untuk dimakan bersama, tapi untuk menghindari lapar saat menyiapkan laporan ke dinas.
“Katanya koperasi ini milik rakyat, tapi kenapa rakyatnya harus menalangi dulu?” gumam Hasan, sambil melipat surat undangan rapat koordinasi ke kabupaten.
Ia tahu, bensinnya tinggal setengah botol. Tapi undangan tetap harus dihadiri. Karena kalau tidak datang, koperasi dianggap tidak aktif.
Malamnya, Hasan menulis catatan di buku kecil yang mulai kusam:
‘Kami diminta menggerakkan ekonomi, tapi roda kami belum punya minyak.
Kami diminta profesional, tapi tidak ada biaya untuk kertas dan tinta.
Kami diminta mandiri, tapi dipaksa memenuhi target yang ditentukan dari atas.’
Ia berhenti menulis. Lampu redup, listrik di kantor padam.
Dari jendela, ia melihat gedung koperasi berkilau diterangi sorot lampu proyek.
Indah di luar, kosong di dalam.
Hasan tersenyum tipis.
Besok pagi, ia tetap akan datang — membuka pintu kantor, menyapu lantai, dan menyiapkan laporan baru.
Karena bagi Hasan, amanah bukan soal uang, tapi juga bukan berarti tanpa keadilan.



























