Scroll untuk baca artikel
BeritaPolitik

Kultus Individu dan Matinya Imajinasi Politik

235
×

Kultus Individu dan Matinya Imajinasi Politik

Share this article

Penulis: emha| Editor; asyary

Seorang warga menatap layar besar menayangkan pidato tokoh politik. Di sekelilingnya, orang-orang bersorak sambil mengangkat ponsel untuk merekam.

ppmindonesia.com.Jakarta – Politik di negeri ini perlahan berubah menjadi panggung hiburan.
Tokoh-tokoh tampil seperti selebritas, pidato disulap menjadi konten viral, dan kebijakan dipromosikan layaknya iklan produk.
Kita menyaksikan politik kehilangan kedalamannya, digantikan oleh sorak-sorai penggemar.

Kultus individu telah menggantikan rasionalitas politik.
Publik lebih sibuk mengagumi sosok daripada menimbang gagasan.
Di tengah hiruk-pikuk ini, imajinasi politik kita mati—bersama akal sehat yang perlahan surut.

“Kita lebih sering memilih siapa yang kita suka, bukan apa yang kita yakini.”

Politik yang Berubah Jadi Pertunjukan

Era media sosial membuat politik tak lagi sekadar urusan kebijakan publik.
Ia kini bersinggungan erat dengan dunia hiburan.
Figur politik berlomba tampil menarik, lucu, dan menghibur—seolah kualitas kepemimpinan diukur dari kemampuan mencuri perhatian layar.

Panggung politik bergeser dari ruang debat menuju ruang panggung.
Keberanian menyanyi di televisi lebih menarik perhatian ketimbang keberanian menegakkan hukum.
Setiap gestur, busana, hingga komentar ringan tokoh politik berubah menjadi bahan pemberitaan.

Akibatnya, politik tak lagi mendidik, melainkan menghibur.
Ia kehilangan daya reflektifnya untuk menumbuhkan kesadaran publik.

“Popularitas menggantikan integritas; pencitraan menyingkirkan substansi.”

Media dan Logika Algoritma

Media sosial mempercepat transformasi ini.
Dalam logika algoritma, yang viral dianggap relevan, yang ramai dianggap benar.
Politik pun menyesuaikan diri: menjadi ringan, cepat, dan mudah dikonsumsi.

Ketika perbincangan publik lebih sering menilai *siapa yang bicara* ketimbang *apa yang dibicarakan*, demokrasi kehilangan pijakan rasionalnya.
Hukum kehilangan wibawa, dan politik kehilangan arah.

Sosiolog politik Ariel Heryanto pernah menyebut fenomena ini sebagai “*entertainmentalization of politics*”—politik yang terperangkap dalam logika hiburan, di mana substansi digantikan oleh sensasi.

“Di bawah sorot kamera, politik menjadi seni memikat, bukan seni memimpin.”

Kultus Individu, Hilangnya Imajinasi Kolektif

Kultus individu tumbuh subur di ruang publik yang kehilangan nalar kritis.
Kita menaruh harapan besar pada satu figur, seolah masa depan bangsa dapat diselamatkan oleh seorang penyelamat tunggal.
Padahal, demokrasi sejatinya adalah sistem yang bertumpu pada kesadaran kolektif, bukan pada keajaiban individu.

Kultus individu mematikan imajinasi politik warga.
Kita berhenti membayangkan sistem yang adil dan mulai menunggu figur yang karismatik.
Padahal, perubahan sejati lahir dari partisipasi aktif, bukan dari kekaguman pasif.

“Kekaguman yang berlebihan adalah bentuk lain dari penyerahan akal.”

Krisis Dialog dan Hilangnya Keberanian Bertanya

Dalam kultur politik yang sarat simbol, bertanya sering dianggap tidak sopan.
Padahal, peradaban besar tumbuh dari keberanian untuk bertanya dan meragukan.
Ketika ruang publik kehilangan dialog, politik berubah menjadi ajang pembenaran diri.

Kritik terhadap tokoh tertentu kerap dianggap serangan personal.
Perbedaan pandangan disamakan dengan pengkhianatan.
Akal sehat digantikan loyalitas buta.

Kita lupa bahwa demokrasi tumbuh dari perdebatan, bukan dari keseragaman.
Dan ketika masyarakat lebih takut bertanya daripada percaya, saat itulah politik berhenti menjadi alat emansipasi, dan berubah menjadi alat domestikasi.

Menyalakan Kembali Imajinasi Politik

Untuk keluar dari jebakan kultus individu, bangsa ini perlu menyalakan kembali imajinasi politiknya.
Politik harus dipulihkan sebagai ruang rasional, etis, dan visioner.
Pemimpin harus dinilai dari gagasan, bukan gaya.
Dan warga harus berani menjadi subjek politik—berpikir, menimbang, dan mengoreksi.

Pendidikan politik publik perlu diperkuat, bukan dengan jargon, tetapi dengan pembiasaan berpikir kritis.
Media pun mesti kembali memainkan peran edukatif, bukan sekadar mengejar trafik.
Kita butuh politik yang membebaskan, bukan yang meninabobokan.

“Demokrasi hanya hidup bila rakyatnya berani berpikir, bukan sekadar mengagumi.”

Dari Kekaguman ke Kesadaran

Kultus individu hanya memberi ilusi stabilitas, bukan kemajuan.
Ia menumpulkan daya kritis, menghapus keberagaman pandangan, dan menjauhkan kita dari cita-cita keadilan sosial.

Politik yang sehat bukan tentang siapa yang paling dikagumi, tetapi tentang siapa yang paling siap melayani.
Dan warga negara yang matang bukan yang paling loyal, melainkan yang paling rasional.

Sebab, bangsa besar dibangun bukan oleh penggemar yang banyak, melainkan oleh warga yang berpikir.

“Ketika rakyat berhenti berpikir, politik berhenti bermakna.”

 

Example 120x600