Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Al-Qur’an Sebagai Hadits Terbaik: Telaah Kritis atas Otoritas Riwayat

115
×

Al-Qur’an Sebagai Hadits Terbaik: Telaah Kritis atas Otoritas Riwayat

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh; syahida

ppmindonesia.com.Jakarta Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa hadits terbaik, paling benar, dan paling layak dijadikan rujukan adalah hadits Allah sendiri—yaitu wahyu yang termaktub dalam Al-Qur’an.

Namun dalam sejarah Islam, istilah “hadits” kemudian dipersempit menjadi ungkapan perkataan Nabi dalam bentuk riwayat. Kajian Qur’an bil Qur’an atau syahida membuka kembali pemahaman mendasar ini, menyoroti perbedaan antara hadits Allah dan hadits manusia, serta mengajak umat untuk kembali kepada otoritas wahyu yang autentik.

Al-Qur’an Menyebut Dirinya “Ahsanal Hadits”: Hadits Terbaik

Al-Qur’an secara eksplisit menyebut dirinya sebagai hadits paling indah, paling kuat, dan paling benar:

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ
“Allah telah menurunkan hadits yang paling baik, yaitu sebuah Kitab yang serupa dan berulang (penguat makna).”(QS Az-Zumar 39:23)

Ayat ini menegaskan bahwa hadits utama dalam Islam adalah Al-Qur’an, bukan kumpulan riwayat manusia.

Nabi Tidak Membuat Hadits Baru; Beliau Hanya Menyampaikan Wahyu

Al-Qur’an menolak ide bahwa Nabi berbicara atas dasar hawa nafsu atau mencipta ajaran tambahan di luar wahyu.

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ • إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan ia (Muhammad) tidak berbicara dari hawa nafsunya.
Perkataannya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan.” QS An-Najm 53:34

Ayat ini menjadi pondasi konsep syahida: ajaran Islam adalah wahyu, bukan tradisi yang dibangun setelah Nabi wafat.

 Allah Memerintahkan Agar Umat Tidak Mengikuti “Hadits Lain” Selain Al-Qur’an

Inilah kritik Al-Qur’an paling tegas terhadap otoritas riwayat manusia:

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ
“Maka dengan hadits apa lagi setelah Allah dan ayat-ayat-Nya mereka akan beriman?” QS Al-Jatsiyah 45:6

فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَهُ يُؤْمِنُونَ
“Maka hadits apa lagi setelah (Al-Qur’an) mereka akan percayai?” QS Al-A’raf 7:185

Ayat-ayat ini mengandung pesan ketauhidan yang sangat kuat:
Jika wahyu telah lengkap, mengambil otoritas selain Al-Qur’an sebagai sumber ajaran agama jelas dipertanyakan oleh Allah sendiri.

Kritik Qur’an terhadap ‘Hadits’ Buatan Manusia

Al-Qur’an tidak melarang manusia bertutur atau membuat cerita. Namun ketika ‘hadits manusia’ dijadikan sumber kebenaran agama, Al-Qur’an keras menolak.

QS Luqman 31:6

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ
“Di antara manusia ada yang membeli hadits-hadits (perkataan) yang melalaikan…”QS Luqman 31:6

Masalahnya bukan sekadar isi hadits, tetapi posisi epistemologisnya: apakah ia mengambil alih otoritas wahyu?

Tugas Rasul Hanya Satu: Menyampaikan Al-Qur’an

Al-Qur’an menegaskan berulang kali bahwa Nabi adalah muballigh, penyampai wahyu, bukan pembuat syariat tambahan.

وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ
“Tidak ada kewajiban bagi rasul kecuali menyampaikan (wahyu) dengan jelas.”QS Al-Ma’idah 5:92)

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَـٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ
“Dan wahyu yang disampaikan kepadaku hanyalah Al-Qur’an, untuk memperingatkan kalian dengannya.”QS Al-An’am 6:19

Ini adalah pintu utama kritik terhadap paradigma tradisional:
Jika yang diwahyukan hanyalah Al-Qur’an, dari mana legitimasi ajaran tambahan berasal?

Riwayat Bukan Bagian dari Agama; Ia Produk Sejarah

Kajian syahida tidak menolak keberadaan riwayat sebagai data sejarah, tetapi menolak kedudukannya sebagai sumber syariat.

Kritik Al-Qur’an terhadap asumsi ketaatan kepada riwayat sangat kuat:

كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ
“Jadilah kalian hamba-hamba Rabb karena kalian mengajarkan dan mempelajari Kitab.”  QS Ali ‘Imran 3:79

Bukan karena mempelajari riwayat.

Al-Qur’an Sudah Sempurna dan Tidak Membutuhkan Penjelas Eksternal

Ayat pamungkas yang menutup pintu otoritas selain wahyu:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian…”QS Al-Ma’idah 5:3

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ
“Kami turunkan kepadamu Kitab sebagai penjelas untuk segala sesuatu.”QS An-Nahl 16:89

Jika agama sudah sempurna dan Qur’an menjelaskan segalanya,
maka menambahkan otoritas baru justru merusak kesempurnaan itu.QS An-Nahl 16:89

Kajian Qur’an bil Qur’an (syahida) menunjukkan bahwa:

  • Hadits terbaik adalah Al-Qur’an.
  • Nabi tidak mencipta ajaran di luar wahyu.
  • Allah mengkritik keras “hadits manusia” yang dijadikan ajaran agama
  • Sumber agama s.hanyalah wahyu, bukan riwayat.
  • Kembali ke Al-Qur’an berarti kembali ke tauhid epistemologi

Oleh karena itu, umat Islam dipanggil untuk meluruskan pemahaman tentang hadits, menempatkan riwayat sebagai sejarah, bukan syariat, dan mengembalikan seluruh otoritas ke Ahsanal-Hadits: Al-Qur’an.

Example 120x600