Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Negeri yang Mengingkari Nikmat: Refleksi QS An-Nahl 112 atas Bencana Sumatra

228
×

Negeri yang Mengingkari Nikmat: Refleksi QS An-Nahl 112 atas Bencana Sumatra

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh: Syahida

Banjir Aceh/Sumbar 2025

ppmindonesia.com.JakartaBanjir besar dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Barat, dan sebagian wilayah Sumatra lain pada akhir 2025 kembali membuka pertanyaan mendasar: apakah ini sekadar “musibah alam” atau isyarat moral yang sudah lama diperingatkan oleh Al-Qur’an?
Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, kajian Syahida mengajak publik melihat kembali akar krisis ekologis ini—bukan hanya sebagai fenomena fisik, tetapi sebagai cermin spiritual dan etika manusia terhadap amanah bumi.

Ayat Sentral: Peringatan untuk Sebuah Negeri yang Ingkar

QS An-Nahl 16:112

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةًۭ كَانَتْ ءَامِنَةًۭ مُّطْمَئِنَّةًۭ يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًۭا مِّن كُلِّ مَكَانٍۢ فَكَفَرَتْ بِأَنۢعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَاقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلْجُوعِ وَٱلْخَوْفِ بِمَا كَانُوا۟ يَصْنَعُونَ

“Dan Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman dan tenteram, rezekinya datang melimpah dari segala penjuru, tetapi penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Maka Allah menimpakan kepada mereka rasa lapar dan ketakutan akibat apa yang selalu mereka perbuat.” (QS An-Nahl 16:112)

Ayat ini bukan sejarah masa lalu—ia adalah peta moral bagi masyarakat yang pernah stabil, kaya sumber daya, tetapi kemudian tenggelam dalam kerusakan yang mereka ciptakan sendiri.

Sumatra: Negeri Kaya Nikmat yang Kini Dibungkus Bencana

Sumatra adalah salah satu pulau dengan hutan hujan tropis terluas di dunia. Rezekinya datang “dari segala penjuru”: batu bara dari perut bumi, kayu dari hutan yang megah, sawit dari dataran rendah, air melimpah dari pegunungan.

Namun dalam 30 tahun terakhir, nikmat-nikmat itu berubah menjadi eksploitasi tidak terkendali: penebangan hutan skala industri, tambang terbuka tanpa pemulihan, perkebunan sawit monokultur yang menggantikan hutan alam, sungai-sungai yang tercemar lumpur tambang, gunung yang digunduli hingga kehilangan daya resap air.

Hasilnya terlihat jelas: banjir bandang, longsor, sedimentasi sungai, udara kotor, konflik satwa-manusia, dan bencana ekologis berantai.

Krisis ini bukan sekadar cuaca ekstrem—ia adalah akibat langsung dari pilihan manusia, sebagaimana diperingatkan Al-Qur’an.

Banjir dan Longsor: Bukan Sekadar “Ujian”, tetapi Konsekuensi

Pendekatan Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa Al-Qur’an membedakan antara ujian dan akibat.

1. Akibat dari Perusakan

QS Ar-Rum 30:41

ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia…”

Ayat ini menegaskan: banyak bencana ekologis bukan ujian, tetapi konsekuensi perbuatan manusia (bimā kasabat aydī an-nās).

Deforestasi Sumatra adalah contoh nyata. Ketika hutan-hutan alam diubah menjadi kebun sawit, tambang terbuka, dan kayu serat, sistem ekologis yang diciptakan Allah menjadi rusak: resapan air hilang, tanah kehilangan struktur, sungai meluap karena sedimentasi, banjir besar menjadi rutin.

Ini persis seperti perumpamaan “negeri yang ingkar nikmat” (QS An-Nahl 112).

2. Ujian bagi yang Tersisa

Ketika bencana menimpa suatu kaum, Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebagian manusia terkena imbas meskipun mereka tidak ikut berbuat kerusakan.

QS Al-Anfal 8:25

وَٱتَّقُوا۟ فِتْنَةًۭ لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمْ خَآصَّةًۭ

“Dan takutlah kalian akan bencana yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim di antara kalian saja.”

Ayat ini menjelaskan mengapa masyarakat kecil—yang tidak menebang hutan atau membuka tambang—ikut merasakan dampaknya.

Ini bukan ketidakadilan Tuhan.
Ini adalah konsekuensi sosial dari kelalaian kolektif, termasuk diamnya masyarakat terhadap kerusakan.

Etika Syahida: Bagaimana Qur’an Memerintahkan Rehabilitasi?

Pendekatan Syahida membaca Al-Qur’an sebagai sistem etika:

  • Allah mengamanahkan bumi kepada manusia (QS Al-Baqarah 30).
  • Setiap kerusakan yang ditimbulkan harus ditebus dengan perbaikan (QS Hud 11:88).
  • Tidak boleh membuat kerusakan setelah bumi diperbaiki (QS Al-A’raf 7:56).

QS Al-A’raf 7:56

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَـٰحِهَا

“Dan janganlah kalian membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.”

Ini adalah ayat dasar rehabilitasi lingkungan menurut Qur’an bil Qur’an.
Reboisasi, penghentian tambang destruktif, pengelolaan sawit berkelanjutan, dan perlindungan DAS bukan sekadar kebijakan publik—mereka adalah perintah moral dari Al-Qur’an.

Sumatra Harus Kembali Menjadi “Negeri yang Aman dan Tenteram”

Untuk keluar dari spiral bencana, Qur’an mengajarkan tiga langkah spiritual dan ekologis:

1. Mengakui Nikmat, Bukan Mengingkarinya (QS 14:7)

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambah…”
Syukur bukan retorika—ia adalah pengelolaan yang adil dan lestari.

2. Menghentikan Sumber Kerusakan (QS 7:56)

Tidak ada rehabilitasi tanpa menghentikan deforestasi, pertambangan merusak, dan pembakaran lahan.

3. Memulihkan Keadilan Ekologis (QS 11:88)

Allah memerintahkan perbaikan yang nyata, bukan kosmetik:
reboisasi, pengendalian tata ruang, dan penguatan hukum lingkungan.

Saatnya Mendengar Peringatan Itu Sebelum Terlambat

QS An-Nahl 112 bukan sekadar kisah perumpamaan—ia adalah peringatan yang sedang berlaku.

Indonesia, terutama Sumatra, pernah menjadi negeri
“aman, tenteram, dan rezekinya datang dari segala penjuru.”

Tetapi ketika nikmat-nikmat itu disalahgunakan, kerusakan pun datang, bukan sebagai murka semata, tetapi sebagai cermin perbuatan manusia.

Banjir Aceh dan Sumatra Barat adalah isyarat keras bahwa kita sedang berada di titik kritis peradaban ekologis.
Jika peringatan ini tidak diindahkan, ayat tersebut bukan sekadar refleksi—ia akan menjadi realitas yang terus berulang.

Example 120x600