Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mengapa Umat Terpuruk? Tanda-Tanda Sosial dalam Ayat-Ayat Qur’an

107
×

Mengapa Umat Terpuruk? Tanda-Tanda Sosial dalam Ayat-Ayat Qur’an

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Pertanyaan tentang kemunduran umat—baik secara ekonomi, politik, maupun moral—sering dijawab dengan menyalahkan faktor eksternal: konspirasi global, dominasi asing, atau perubahan zaman. Al-Qur’an tidak menafikan faktor luar, tetapi dengan tegas mengarahkan sorotan pada tanda-tanda sosial internal yang menjadi sebab utama keterpurukan suatu kaum.

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an, tulisan ini menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan gejala sosial kemunduran umat, sekaligus mekanisme Qur’ani tentang bagaimana sebuah masyarakat jatuh dan bangkit kembali.

Hukum Sosial Qur’ani: Umat Tidak Runtuh Tanpa Sebab

Al-Qur’an menegaskan bahwa kemunduran sosial bukan peristiwa acak, melainkan akibat dari pelanggaran terhadap hukum Allah dalam kehidupan bersama.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa keterpurukan umat adalah cermin dari krisis nilai, kesadaran, dan tanggung jawab kolektif.

Tanda Pertama: Hilangnya Keadilan Sosial

Salah satu indikator paling awal dari kejatuhan umat adalah runtuhnya keadilan.

وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisā’ [4]: 58)

Ketika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, Al-Qur’an tidak menyebutnya ujian, melainkan kezaliman yang mengundang kehancuran sosial.

Tanda Kedua: Elit yang Merusak, Bukan Melayani

Al-Qur’an berkali-kali mengkritik kaum elit yang menyalahgunakan kekuasaan.

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا
“Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu, tetapi mereka melakukan kedurhakaan di dalamnya.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 16)

Kerusakan yang dilakukan para pemegang kuasa menjadi pemicu runtuhnya tatanan masyarakat secara keseluruhan.

Tanda Ketiga: Ibadah Tanpa Dampak Sosial

Al-Qur’an mengecam keras kesalehan simbolik yang tidak melahirkan kepedulian.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ • الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ • الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ • وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
“Celakalah orang-orang yang shalat, yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.” (QS. Al-Mā‘ūn [107]: 4–7)

Ayat ini menegaskan bahwa ritual tanpa solidaritas justru menjadi tanda kebangkrutan moral umat.

Tanda Keempat: Fanatisme dan Perpecahan

Umat yang terpecah kehilangan daya bangun sosial.

وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfāl [8]: 46)

Fanatisme golongan, mazhab, dan identitas telah lama menjadi penyebab runtuhnya kekuatan umat.

Tanda Kelima: Ketergantungan dan Mentalitas Pasrah

Al-Qur’an menolak mentalitas pasrah yang membunuh daya juang.

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39)

Ketika umat kehilangan etos usaha dan tanggung jawab, keterpurukan menjadi keniscayaan.

Qur’an sebagai Alat Diagnosa Sosial

Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai kitab ibadah, tetapi juga alat diagnosa sosial. Ia mengungkap sebab-sebab keterpurukan umat secara jujur dan tanpa kompromi.

وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا
“Dan negeri-negeri itu Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim.” (QS. Al-Kahf [18]: 59)

Keterpurukan umat bukan kutukan, melainkan peringatan. Selama tanda-tanda sosial yang dikritik Al-Qur’an diabaikan, kebangkitan hanya akan menjadi slogan.

Namun Al-Qur’an juga menegaskan bahwa pintu perubahan selalu terbuka—selama umat berani bercermin, berubah, dan menegakkan kembali keadilan sebagai fondasi peradaban.

Example 120x600