Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Kesalahan Fatal dalam Cara Kita Memahami Al-Qur’an

29
×

Kesalahan Fatal dalam Cara Kita Memahami Al-Qur’an

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Editor: asyary

Jakarta|PPMIndonesia.com– Tidak sedikit umat Islam yang meyakini bahwa mereka telah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Mushaf dibaca, ayat-ayat dihafal, dan lantunan tilawah menggema di berbagai ruang ibadah. Namun ironisnya, Al-Qur’an justru sering ditinggalkan dalam cara kita memahaminya.

Kesalahan ini bukan sekadar kekeliruan teknis, melainkan kesalahan mendasar dan fatal: Al-Qur’an diyakini suci, tetapi dianggap tidak cukup; diagungkan, tetapi tidak dipercaya sepenuhnya sebagai sumber petunjuk yang lengkap. Padahal, Al-Qur’an sejak awal telah bersaksi tentang dirinya sendiri.

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 2)

Ayat ini tidak menyisakan ruang bagi anggapan bahwa Al-Qur’an membutuhkan legitimasi dari luar dirinya.

Kesalahan Pertama: Menganggap Al-Qur’an Tidak Lengkap

Kesalahan paling awal dan paling berbahaya adalah keyakinan bahwa Al-Qur’an tidak memuat seluruh penjelasan yang diperlukan untuk beragama. Anggapan ini sering disampaikan secara halus, seolah bentuk kehati-hatian iman, padahal bertentangan langsung dengan kesaksian wahyu.

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami telah menurunkan Kitab kepadamu sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”
(QS. An-Nahl [16]: 89)

Jika Al-Qur’an adalah penjelasan atas segala sesuatu dalam urusan agama, maka menganggapnya belum lengkap berarti meragukan pernyataan Allah sendiri.

Kesalahan Kedua: Menjadikan Al-Qur’an sebagai Teks yang Diadili

Kesalahan fatal berikutnya adalah ketika Al-Qur’an tidak lagi dijadikan standar, melainkan dijadikan objek penilaian oleh sumber lain. Praktik ini menempatkan wahyu di posisi defensif, seolah harus “dibela” atau “dijelaskan” oleh otoritas di luar dirinya.

Padahal Allah menegaskan:

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا
“Apakah aku akan mencari hakim selain Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kepadamu Kitab yang terperinci?”
(QS. Al-An‘am [6]: 114)

Al-Qur’an adalah hakim tertinggi, bukan terdakwa yang harus dibela dengan argumen eksternal.

Kesalahan Ketiga: Mengira Al-Qur’an Tidak Menjelaskan Dirinya Sendiri

Banyak orang beranggapan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an bersifat terpisah, kabur, dan hanya dapat dipahami jika dirujukkan ke sumber di luar wahyu. Padahal, Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa ia saling menjelaskan satu sama lain.

وَلَقَدْ جِئْنَاهُم بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
“Sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah Kitab yang Kami jelaskan berdasarkan ilmu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-A‘raf [7]: 52)

Dan:

كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”
(QS. Al-An‘am [6]: 105)

Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, ayat-ayat yang tampak global dijelaskan oleh ayat lain yang lebih rinci, tanpa harus mencari legitimasi di luar Kitab Allah.

Kesalahan Keempat: Mengultuskan Mayoritas dan Otoritas

Tidak sedikit pemahaman agama dipertahankan bukan karena sesuai dengan Al-Qur’an, tetapi karena dianut oleh mayoritas atau diwariskan oleh otoritas keagamaan. Al-Qur’an justru memberikan peringatan keras terhadap sikap ini.

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ
“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An‘am [6]: 116)

Kebenaran dalam Islam tidak diukur dari banyaknya pengikut, tetapi dari kesesuaiannya dengan wahyu.

Kesalahan Kelima: Mengkeramatkan Al-Qur’an hingga Tidak Dipahami

Salah satu bentuk kesalahan yang sering tidak disadari adalah mengkeramatkan Al-Qur’an sampai akal dilarang mendekatinya. Al-Qur’an dibaca sebagai ritual, tetapi dihindari sebagai sumber pemikiran dan penilaian hidup.

Padahal Allah justru menyatakan sebaliknya:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Sungguh, Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk dipelajari. Maka adakah yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar [54]: 17)

Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menjauh dari akal, melainkan untuk menghidupkannya.

Ketika Kesalahan Ini Dibiarkan

Akumulasi kesalahan-kesalahan tersebut melahirkan kondisi yang telah diperingatkan Al-Qur’an sendiri: umat yang membaca wahyu, tetapi tidak menjadikannya pedoman.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.”
(QS. Al-Furqan [25]: 30)

Yang ditinggalkan bukan mushafnya, melainkan otoritasnya dalam menentukan iman, etika, dan kebenaran.

Kembali kepada Cara Al-Qur’an Meminta Dipahami

Kesalahan fatal dalam memahami Al-Qur’an tidak akan diperbaiki dengan menambah lapisan otoritas, melainkan dengan kembali kepada cara Al-Qur’an memperkenalkan dirinya sendiri: jelas, lengkap, dan dapat dipahami oleh orang-orang yang mau berpikir.

Allah menegaskan:

وَلَقَدْ أَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Tidakkah kamu menggunakan akal?”
(QS. Al-Anbiya’ [21]: 10)

Maka, persoalannya bukan pada Al-Qur’an, melainkan pada keberanian kita untuk mempercayai kesaksiannya sepenuhnya.

Catatan Redaksi

Artikel ini disusun dengan pendekatan Qur’an bil Qur’an sebagai kajian syahida, yakni kesaksian Al-Qur’an atas dirinya sendiri, dengan menempatkan wahyu sebagai rujukan tertinggi dalam memahami iman dan kehidupan beragama.

 

Example 120x600